Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Suapin Aku Ya!


__ADS_3

Reyn menyodorkannya dengan senyuman ke arah Cherry, membuat Cherry bingung memandang ke arah cokelat tersebut.


“Ini untuk membangkitkan mood,” ujar Reynald, yang memberikan cokelat tersebut dengan tulus dan tidak ada niat apa pun terhadap Cherry.


Reyn hanya ingin memberikan cokelat tersebut, agar Cherry lebih terlihat bersemangat saat menghadiri pertemuan nanti. Karena merasa Reynald tidak akan melakukan apa pun padanya, Cherry pun akhirnya menerima cokelat tersebut, dan segera memakannya.


‘Memang benar apa kata orang, ketika mood sedang hancur kita dianjurkan untuk memakan coklat agar mood tersebut tercipta kembali, sehingga kita bisa menjalani kehidupan dengan lebih bergairah,’ batin Reynald, tersenyum melihat Cherry yang sudah menghabiskan setengah dari cokelat yang ia berikan.


“Apa rasanya enak?” tanya Reynald, Cherry pun mengangguk dan berusaha tersenyum di hadapannya.


“Ya, cokelatnya lumayan bisa membangkitkan mood. Aku jadi tidak terlalu kesal sekarang,” jawab Cherry, membuat Reynald bingung mendengarnya.


“Baiklah, karena kau sudah mendapatkan mood-mu kembali, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” ujar Reynald, membuat Cherry kebingungan mendengarnya.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya balik Cherry, yang penasaran dengan apa yang ingin Reynald tanyakan.


“Tidak ada pertanyaan spesifik, hanya ingin bertanya, kenapa mood-mu saat ini hancur? Apa karena aku terlalu lambat, sehingga kau menunggu dengan sangat lama?” tanya Reynald.


Tiba-tiba saja Cherry merasa kesal, ketika mengingat kembali permasalahan yang terjadi pada dirinya dan juga Rayn.


“Aku kesal karena—”


Ucapan Cherry terpotong, karena ia tidak bisa mengungkapkan semua hal dalam rumah tangganya kepada orang lain. Karena bisa jadi itu akan menjadikan boomerang bagi rumah tangganya dan juga rain. Biar bagaimanapun juga, Cherry tidak ingin rumah tangganya menjadi hancur, hanya karena ia menceritakan permasalahan yang ada dalam rumah tangganya.

__ADS_1


Lagi pula, tidak sepatutnya seorang istri memberitahukan keadaan rumah tangganya kepada orang lain. Terlebih lagi orang lain tersebut adalah mantan kekasihnya, yang sudah jelas-jelas pernah mencintainya. Hal itu akan membuat mereka semakin kesulitan, karena dari sanalah mereka pastinya akan mencari-cari cara untuk membuat rumah tangga orang itu menjadi retak.


“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak mood karena efek hormon kehamilan yang tinggi,” jawab Cherry, membuat Reynald memandangnya dengan bingung.


“Apa benar hanya karena efek hormon yang tinggi? Apa kau tidak ada masalah lainnya?” tanya Reynald lagi, yang memastikan keadaan tersebut.


Cherry menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa pun yang sedang aku jalani saat ini,” jawab Cherry seadanya, membuat Reynald tidak bisa lagi bertanya apa pun dengannya.


“Baiklah kalau tidak ada masalah apa pun, aku mohon nanti kau bersikaplah seperti biasa di hadapan mereka, agar mereka tidak salah sangka terhadapku yang macam-macam. Aku khawatir mereka mengira bahwa kita sedang ada masalah, jadi aku mohon kau bersikaplah sewajarnya di hadapan mereka nanti,” pinta Reynald membuat Cherry mengangguk kecil mendengarnya.


“Baiklah, aku pasti akan melakukan yang terbaik yang aku bisa,” ujar Cherry, yang menerima segala konsekuensinya.


Karena malam ini terasa sangat gerah, Reynald pun berinisiatif untuk mengajak Cherry berhenti sejenak, untuk membeli minuman di minimarket yang mereka lewati, ketika perjalanan ke pertemuan itu. Mobilnya terhenti, kemudian segera menepi di pinggir jalan, membuat Cherry panik karenanya.


“Malam ini gerah sekali, aku ingin membeli sesuatu dulu untuk menuntaskan dahagaku. Apa kau juga ingin meminum sesuatu?” ujar Reynald yang memberitahukan alasannya menghentikan mobilnya di sini.


Cherry pun menghela napasnya dengan panjang, karena ia sudah berpikirannya macam-macam terhadap Reynald. “Ya sudah, aku mau satu susu kotak saja,” pinta Cherry, Reynald pun tersenyum mendengarnya.


“Siap Tuan Putri, tunggu sebentar di sini ya!” ujarnya, kemudian segera masuk ke dalam minimarket tersebut untuk membelikan minuman untuk mereka.


Rayn yang menguntit mereka dari belakang, hanya dapat melihat mereka yang menepikan kendaraan di pinggir jalan. Ia juga melihat reynald yang terlihat masuk ke dalam sebuah minimarket. Hal itu membuat Rayn merasa terkejut, karena pikirannya yang sudah berpikir jauh tentang apa yang sedang mereka lakukan.


“Kenapa mereka menepikan kendaraan di sini? Apa yang mau Reynald beli?” gumam Rayn, yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dengan apa yang Reynald ingin lakukan.

__ADS_1


Matanya tiba-tiba saja mendelik, “Apa jangan-jangan .. dia ingin membeli sebuah pengaman untuk melangsungkan aksinya di pertemuan nanti? Aku tidak bisa membiarkannya!” gumamnya, yang merasa pikirannya sudah terlalu liar sampai tidak bisa memikirkan batasannya.


Dengan rasa kesal yang menggebu, Rayn pun hanya bisa menunggu Reynald keluar dari minimarket tersebut. Setelah Reynald keluar dari minimarket tersebut, di tangannya terlihat sebuah benda kotak yang berwarna merah. Hal itu membuat Rayn jadi naik pitam, karena ia berpikir kalau benda itu adalah sebuah pengaman, yang akan ia pakai untuk melakukan hal intim bersama dengan Cherry.


Pemkirannya semakin yakin, mengingat hasrat Cherry yang tidak bisa terlampiaskan bersamanya, sehingga membuat pikiran Rayn berpikir yang macam-macam.


“Sia_lan! Kenapa dia membeli pengaman itu?” gumam Rayn yang tidak bisa menerima hal itu.


Emosinya semakin membara, karena ia sudah salah paham dengan hal yang baru saja ia lihat. Namun, hal itu sebenarnya tidak berdasarkan dengan apa yang ia lihat.


Reynald pun masuk ke dalam mobil dan segera memberikan minuman itu kepada Cherry.


“Nih, susu kotaknya. Adanya rasa red velvet. Aku tidak menemukan rasa lainnya, karena stok di sini sudah kosong,” ujar Reynald, membuat Cherry merasa sedih mendengarnya.


“Ya ... padahal aku tidak terlalu suka red velvet. Aku lebih suka blueberry, ada sensasi asam yang ada di dalam susu itu,” ujar Cherry membuat Reynald tersenyum mendengarnya.


“Kalau ada rasa blueberry, pasti sudah aku beli untukmu. Permasalahannya saat ini, tidak ada rasa apa pun dan hanya tersisa rasa itu saja. Mau tidak mau, aku mengambilnya dan membelinya untukmu. Kalau tidak, aku tidak ingin kau merasa kehausan,” ujar Reynald, membuat Cherry merasa harus menerimanya.


“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Sudah tidak ada yang bisa dibeli lagi, jadi ... terima kasih!” ujar Cherry, membuat Reynald lagi-lagi tertawa mendengarnya.


“Ya sudah, mau sekalian jalan atau minum dulu?” tawar Reynald.


“Langsung jalan aja deh. Minumnya sekalian kita jalan, karena aku nggak mau kita terlambat datang ke pertemuan nanti,” ujar Cherry, Reynald pun merasa berpikir seperti itu, karena hari yang sudah mulai malam, dan mereka yang belum sampai ke tempat pertemuan tersebut.

__ADS_1


“Ya sudah, ayo sambil jalan kita minumnya. Tapi kamu suapin aku ya?” ujarnya membuat Cherry tak masalah melakukan hal seperti itu, karena untuk menghemat waktu mereka sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.


__ADS_2