
Cherry merasa sangat bingung, karena saat ini ia memasuki masa-masa krusial yang membuat dirinya labil ia merasa sangat kesal karena ia tidak bisa menahan emosinya sama sekali, dan ia lebih memilih mempercayai orang lain ketimbang dirinya sendiri dan juga suaminya. Hal itu membuatnya merasa sedih dan tidak bisa melakukan apa pun lagi saat ini.
Air mata Cherry mengalir, ia tidak bisa mengatakan apa pun saat ini. Ia hanya bisa menunduk dan menangis untuk menutupi segala kekesalan hatinya. Karena sudah mengambil langkah yang salah, ia sudah beberapa kali melakukan pertimbangan yang salah dan membuatnya merasa malu saat ini di hadapan kedua orang tua Rayn dan juga di hadapan Rayn sendiri.
Saat ini hanya kata kesal yang bisa menggambarkan perasaan Cherry saat ini. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana dan bersikap apa, karena saat ini ia sedang tidak memiliki pilihan.
Rayn memeluknya dengan erat, membuat Cherry menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Rayn. Hal itu membuat Rayn merasa sangat cemas dengan kesehatan mental istrinya itu. Ia menyadari bahwa wanita hamil memang selalu labil dengan sesuatu yang ia pilih.
Cherry hanya bisa memeluk erat Rayn, dengan Rayn yang sengaja memberikan bahu untuknya bersandar. Ia tahu Cherry akan merasa sangat labil dan ia harus sebisa mungkin menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal aneh kepada Cherry. Karena itu pastinya akan menambah rasa kesal Cherry, dan akan menambah rasa kebencian Cherry padanya.
“Menangislah jika kau ingin menangis, aku akan selalu bersedia memberikan bahuku padamu. Aku berjanji tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun. Karena yang aku inginkan adalah keluarga yang utuh. Aku hanya ingin diri kamu. Aku tidak ingin siapa pun untuk menggantikanmu. Kau ingat itu baik-baik,” ujar Rian membuat Cherry semakin menangis saja mendengarnya.
Cherry tidak bisa mendengar apa yang Rayn katakan, karena hal itu membuatnya merasa terpuruk dan merasa sangat sedih mendengar ucapan Rayn, membuatnya merasa sangat bodoh di hadapannya. Ia tidak bisa lagi dan tidak memiliki wajah lagi di hadapan Rayn, karena semua hal yang sudah diambil dalam keputusan ini, ternyata sudah salah.
Cherry pun meremas kemeja Rayn, berusaha melampiaskan semua amarah dan emosi yang sedang membara di hatinya.
__ADS_1
“Ini semua salahku, Rayn! Kenapa aku tidak menanyakannya langsung kepada kamu? Kenapa aku malah termakan hoax dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Aku mendapatkan informasi dari orang itu, sehingga aku membuat suatu kebencian padamu. Aku membencimu tanpa alasan. Yang jelas aku tidak tahu maksudku apa, tapi ketika mendengarnya aku merasa sangat cemburu. Aku tidak ingin sampai kau kembali lagi dengan Syerlin, ketika aku sudah mulai menerimamu. Aku bahkan sudah berpikir jauh ke depan untuk kita sama-sama kembali kepada orang yang kita sayang,” ujar Cherry yang merasa sangat tidak berguna saat ini di hadapan Rayn.
Hal itu membuat Rayn merasa sangat bingung mendengarnya, karena ternyata semua hal yang Cherry katakan adalah pengaruh dari Reynald. Dia tidak menyangka hal itu akan terjadi, mengingat gerak-gerik Reynald yang terlihat sangat tidak meyakinkan. Ia merasa kesal karena ternyata ia sudah mempengaruhi Cherry dan membuat Cherry semena-mena terhadapnya.
Rayn sama sekali tidak bisa menerimanya, karena Reynald sudah membuatnya kehilangan apa pun saat ini. Ia sudah sangat menyesal, karena sudah percaya dengan Reynald untuk datang ke pertemuan itu.
Rayn memandang ke arah Cherry dengan dalam, dan ia menuntun Cherry agar memandang ke arah wajahnya.
“Tolong lihat wajahku sebentar. Aku ingin kau mengatakan sesuatu yang jujur dari keinginan dalam lubuk hatimu. Apa kau mencintaiku atau tidak?” tanya Rayn membuat Cherry merasa bingung mendengarnya.
Melihat ekspresi yang Cherry lontarkan padanya, Rayn merasa bingung juga karena ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi saat ini.
Cherry memandangnya dengan sendu tanpa bisa berkata apa pun. Hal itu membuat Rian merasa gemas melihatnya.
“Cherry, sekali lagi aku tanya kepadamu Apa kau mencintaiku atau tidak? Kau lebih memilih aku atau Reynald?” tanya Rayn, membuat Cherry merasa semakin bingung menjawabnya.
__ADS_1
Dalam hati kecil Cherry, ia merasa sangat membutuhkan Rayn untuk mengakui darah dagingnya hal itu membuat Cherry merasa bimbang, karena ia juga akhir-akhir ini merasa tidak bisa jika hidup tanpa Rayn. Ia merasa sesuatu ada yang aneh dan kurang jika tidak ada Rayn di sampingnya.
Ia merasa bingung tetapi ia tidak ingin salah mengambil langkah kembali. Ia hanya menunduk tanpa bisa mengatakan apa pun.
“Tolong jangan menunduk. Lihatlah ke arah wajahku,” ujar Rayn lagi, yang lalu segera menuntun wajah Cherry agar bisa memandang ke arahnya.
Cherry kembali memandang ke arah Rian membuat Rian merasa bingung harus melakukan hal seperti apa.
Rayn pun akhirnya mencium bibir Cherry dengan lembut. Hal itu membuat Cherry mendelik kaget karena hal yang Rayn lakukan. Memang tidak ada salahnya bagi mereka jika melakukan hal itu, karena status mereka yang masih merupakan suami dan istri yang sah di mata agama dan hukum. Namun rasanya agak beda karena saat ini Rian melakukannya menggunakan perasaan. Cherry bisa merasakannya dengan sedikit sentuhan yang memberikan hal itu membuatnya merasa bahwa ia benar-benar akan memilih Ryan dibandingkan yang memaksakan kehendaknya.
Mereka segera memelepaskan ciuman mereka, membuat Cherry merasa sangat lelah memandangnya. Ia tidak bisa memandangnya dengan benar, karena ia merasa sangat malu saat ini.
Mereka sama-sama malu, dengan wajah Cherry yang terlihat memerah saat ini. Rayn pun begitu, karena dia juga meluapkan semua perasaannya lewat ciuman itu. Ia tidak bisa melakukan apa pun lagi, untuk bisa mendapatkan hati Cherry. Hanya ciuman itu, yang bisa mengatakan semua perasaan yang ia rasakan. Ia hanya bisa bergantung dengan magic yang terkandung dari ciuman itu, membuat Chery tidak bisa berkutik lagi.
“Sudah, tidak ada lagi yang ingin kau katakan?” tanya Rayn, Cherry pun menggelengkan kepalanya dengan kondisi yang masih menahan malunya.
__ADS_1
Karena merasa sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, Rayn pun segera pergi dari hadapan Chery, membuat Cherry bingung melihatnya.
“Kemana Rayn akan pergi?” gumam Cherry, sembari tetap menunggu Rayn datang kembali ke hadapannya.