Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Kembar Identik


__ADS_3

"Hay, " gadis itu bersikap sok dekat.


"Hay, kalau kamu mau ngomong seharusnya biacra di dalam rumah dan ini juga sudah sangat larut malam.'' kata Cherry mendadak takut.


Gadis yang tak lain adalah Syerlin tersenyum sinis. ''Aku cuma mau ngasih tau kamu saja kalau aku akan mengambil peran kamu juga. Persetan dengan cinta.'' katanya


"Maksud kamu?"


Wanita itu pergi begitu saja tanpa memberikan keterangan pada Cherry, membuat gadis itu bingung setengah mati. Namum semua pertanyaan nya terjawab sudah saat ia bangun pagi. Ia tiba-tiba mendapat kabar kalau Ren ditunangkan dengan Syerlin.


Dan hari itu seharian tak ada percakapan antara Rayn dan juga Cherry hingga malam tiba.


"Semuanya gara-gara kamu." kata Ryan pada Cherry.


"Kenapa malah menyalahkan aku?"


"Yang penting perceraian itu akan secepatnya terjadi tak perduli apapun." kata Rayn.


Hal itu entah mengapa membuat air mata Cherry menetes tanpa kata. Saat itu juga Reyn melihat wanita idamannya itu menangis dan dirinya juga tak luput dari kesedihan itu.


"Cherry ... Maafkan aku, seharusnya aku yang saat ini berada di sampingmu." Batin Reyn.


Mereka semua kembali ke tempat di mana acara makan malam berlangsung. Semua tersenyum tak terkecuali Reyn. Reyn harus berpura-pura tersenyum ramah dan menyapa seluruh rekan kerja dan temannya seolah-olah mereka tidak saling mengenali.


Kini saatnya untuk sambutan dari berbagai pihak. Beberapa orang memberikan kesan dan pesan untuk kedua mempelai. Tibalah giliran Rayn yang harus memberikan sambutan. Dia bingung harus berkata apa. Apa yang diketahui Rayn tentang dirinya dan wanitanya? Selama ini Rayn juga tidak pernah bercerita tentang wanitanya itu padanya.


"Para hadirin yang saya hormati, terimakasih atas kehadirannya pada malam ini, terimakasih telah memberikan selamat pada saudaraku dan saudara ... iparku," Rayn melirik Syerlin dan Cherry bergantian


"Saya sangat bahagia ketika mendengar mereka akan melangsungkan pernikahan. Saya mengenal Syarlin dengan baik, dia wanita yang cantik dan juga baik ...." Reyn menatap Syarlin, Cherry membalas tatapan suaminya itu.


"Semoga Rayn dan Syarlin bahagia sampai maut memisahkan." Reyn palsu mengakhiri sambutannya.


Seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Mereka mengira jika yang telah berbicara tersebut adalah saudara kembarnya Reyn yaitu Rayn. Mereka tidak dapat membedakannya keduanya, begitu pun keluarga Cherry. Seluruh hadirin yang hadir telah tertipu olehnya.


Papa tersenyum bahagia setelah mendengar sambutan Reyn. Dia takut Reyn akan menghancurkan acara malam ini karena egonya yang tinggi. Banyak rekan bisnis sang Papa yang diundang pada acara tersebut. Dan tidak terbayangkan olehnya jika acara malam ini hancur karena ulah anaknya itu.


DEGH!


Tiba-tiba Cherry membuka mata dan malah melihat kamar tidurnya sendiri. Akh, bisa-bisanya ia mimpi buruk seperti ini dan mengulang cerita masa lalu yang seharusnya sudah terkubur bersama kemarin.


Ia mengusap peluh yang membanjiri wajah dan pelipisnya dengan tubuh gementar. Ia sendiri merasa bingung kenapa dirinya segemetar ini padahal sebelumnya ia bisa santai saja menghadapi hal itu secara real.


Ia mengarahkan tatapan matanya ke arah Rayn yang tertidur pulas. Yah, suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami itu tampak tidur begitu lelap tanpa beban seolah apa yang dibicarakan mereka tempo hari tak ada pengaruhnya padanya.


"Akh, apa hanya aku yang bingung harus melakukan apa?" kata Cherry sendiri.


Ia kembali mengusap wajah ya sendiri dan mulai memikirkan kembali semua hal yang telah dilaluinya.


Mulai dari pernikahan mendadak ini sampai hari dimana ia kehilangan hal yang seharusnya ia persembahkan pada suaminya yang sebenarnya.

__ADS_1


Tanpa terasa air mata jatuh di pipinya bersamaan dengan tangannya yang semakin ngilu. Satu kata yang ia rasakan, perih yang terasa sangat nyata dan sulit diungkapkan olehnya melalui kata-kata.


"Maafkan aku." bisiknya.


Entah pada siapa ia meminta maaf, ia juga tak bisa memastikan. Apalagi saat-saat seperti ini ia hanya ingin sendiri dan menikmati semuanya sendiri.


Lalu di sisi lain, Reyn juga terbangun karena hal yang sama. Yah, ia tiba-tiba terbangun dengan air mata di sudut bibirnya bertanda kalau ia sedang tidak baik-baik saja.


Yah, ia bermimpi buruk tentang gagalnya


pernikahannya dan juga hal yang sangat membuat hatinya terluka karena penghianatan yang dilakukan Rayn dan juga Cherry.


Ia duduk di ranjangnya dan mengusap wajahnya kasar. Mendadak ia merasakan darahnya kembali berdesir padahal sebelumnya ia sudah berniat melupakan mantan kekasihnya itu karena masalah mahkota wanita.


Tapi kenapa ia kembali terinat pada Cherry lagi? Apakah wanita itu berhasil merebut hatinya kembali? Entahlah, bagi Reyn semuanya sudah terlalu susah dan tak bisa ia ungkapkan dengan kata.


Perkelahian antara Reyn dan Rayn menyita perhatian Mama dan Papa mereka. Seketika saja orang tua mereka menghampiri ketiganya.


"Ada apa ini?" Mama panik.


"Ya ampun Reyn, apa yang terjadi? Kenapa kalian berkelahi?" Papa bertanya pada Rayn dan menghiraukan Reyn.


Sontak saja hal ini menjadikan Reyn semakin membenci keadaan karena mereka semua berpihak pada Rayn tanpa memikirkan dirinya.


"Ma... Pa... Ini aku Reyn, dia bukan aku, dia adalah Rayn." Reyn memberi penjelasan pada kedua orang tuanya.


"Apa maksud perkataanmu? Bagaimana bisa dia adalah Rayn? Apa yang kamu mau Rayn?" Papa memborbardir pertanyaan pada Reyn seolah-olah dia tidak tahu bahwa yang telah menggantikan posisi Reyn sebagai suami Cherry adalah Rayn.


"Aaarrggh ... kalian ini, masa sama anak sendiri tidak bisa mengenali? Kita memang kembar identik, untuk sekilas kita memang susah untuk dibedakan, tapi mana mungkin kalian tidak bisa mengenaliku sedikit pun!" Reyn marah karena merasa tak seorang pun dapat mengenalinya.


Memang benar saat ini jika dilihat sekilas mereka memang benar-benar sulit untuk dibedakan, sampai-sampai Mamanya pun tidak bisa mengenalinya jika dia adalah Reyn yang asli.


Biasanya Rayn selalu memiliki potongan rambut yang lebih panjang dari Reyn. Reyn selalu nampak lebih rapi daripada Rayn namun kali ini mereka memiliki potongan rambut yang sama, jadi sangat sulit untuk dibedakan.


"Rayn ... apa yang kamu inginkan Nak? Jangan membuat keributan di hari bahagia ini. Kamu lihat, para tamu sedang menunggu kita. Tolong Nak, jangan kacaukan acara malam ini." Mama memohon pada Reyn.


"Ma ... Reyn nggak peduli, ini menyangkut masa depan Reyn. Reyn tidak mau melihat wanita yang Reyn cintai dimiliki oleh Rayn." Reyn melirik dan menatap dalam pada Cherry.


Cherry hanya tertunduk dan tidak tahu harus berbuat apa, karena saat ini semua adalah sandiwara yang telah diatur oleh Papa. Ingin sekali dia mengatakan yang sebenarnya namun saat ini Rayn memang suami sahnya.


"Sudah cukup semua yang telah kalian berikan pada Rayn, saat ini aku hanya minta kalian batalkan pernikahan ini karena Cherry adalah milikku." Reyn menjelaskan.


"Papa ... apa maksud semua ini? Kenapa Rayn terus menerus mengatakan bahwa dia adalah Reyn?" Mama bingung.


"Ma ... Ini aku Reyn, aku tahu aku salah karena datang terlambat untuk melangsungkan pernikahanku dan janjiku pada Cherry untuk menjadi suaminya, tapi aku punya alasan untuk semua itu." Reyn semakin memperjelas.


"Benarkah itu semua, Pa?" Mama semakin penasaran.


"Perlukah aku tanyakan pada para tamu? Aku yakin di antara mereka ada yang mengenaliku karena kebanyakan dari mereka adalah rekan kerja dan juga temanku." Reyn mengancam.

__ADS_1


"Hmmm ..." Papa menghela napas dalam-dalam kemudian melepaskannya.


"Tidak perlu," Papa mulai memikirkan jalan keluar untuk masalah rumit ini.


"Kamu tidak perlu menanyakan para tamu, Reyn." Lanjut Papa.


"Apa!" Mama kaget


Mama melirik Reyn dan Rayn bergantian, masih tidak percaya jika dia sebagai seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan mereka sampai tidak dapat mengenali perbedaan keduanya.


"Ya ampun Reyn, maafkan Mama karena tidak bisa mengenali kamu." Mama meminta maaf kemudian memegang wajah anaknya yang kini memasang wajah kecewa karena bisa-bisanya Mama tidak mengenali dirinya.


"Tapi ... Ini semua memang kesalahanmu Reyn. Kamu harus menanggung akibatnya!" Papa berusaha tenang.


"Tapi ..." Sela Reyn


"Diam! Jangan dulu bicara. Seharusnya kamu berterimakasih pada Rayn yang sudah menyelamatkan nama baik keluarga kita. Apa jadinya jika dia tidak datang pada saat itu. Mungkin saat ini Papa tidak berani bertemu dengan yang lain saking malunya."


Semua terdiam, Papa sangat serius saat ini.


"Papa yang menyuruh Cherry untuk tetap menerima Rayn sebagai suaminya karena memang mereka sudah terikat janji suci. Dan untuk kedepannya, Papa akan pikirkan nanti. Saat ini kita semua harus bersikap dewasa, singkirkan dulu ego masing-masing, setelah itu kita akan membicarakannya lagi setelah acara makan malam ini selesai." Papa menjelaskan panjang lebar.


Semua masih terdiam, Cherry berusaha membantu Rayn berdiri dan merapikan penampilannya. Sesekali dia melirik Reyn, banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan padanya. Namun, dia menyadari jika ini bukan waktu yang tepat.


"Ya sudah, ayo kita kembali. Kasian para tamu sudah menunggu dari tadi." Mama berusaha membuat keadaan menjadi tenang. "Rapikan bajumu Reyn, berpura-puralah jadi Rayn untuk malam ini, demi nama baik keluarga kita."


Reyn terpaksa menuruti keputusan sang Papa dan juga Mama sebagai bentuk rasa bersalahnya. Dia terus menerus menatap Cherry dan Rayn yang terlihat mesra. Dia semakin cemburu melihat semua itu.


"Cherry... Maafkan aku, seharusnya aku yang saat ini berada di sampingmu." Batin Reyn.


Mereka semua kembali ke tempat di mana acara makan malam berlangsung. Semua tersenyum tak terkecuali Reyn. Reyn harus berpura-pura tersenyum ramah dan menyapa seluruh rekan kerja dan temannya seolah-olah mereka tidak saling mengenali.


Kini saatnya untuk sambutan dari berbagai pihak.


Beberapa orang memberikan kesan dan pesan untuk kedua mempelai. Tibalah giliran Reyn yang harus memberikan sambutan. Dia bingung harus berkata apa. Apa yang diketahui Rayn tentang dirinya dan Cherry? Selama ini Reyn tidak pernah bercerita tentang wanitanya itu padanya.


"Para hadirin yang saya hormati, terimakasih atas kehadirannya pada malam ini, terimakasih telah memberikan selamat pada saudaraku dan saudara ... iparku," Reyn melirik Cherry


"Saya sangat bahagia ketika mendengar mereka akan melangsungkan pernikahan. Saya mengenal Cherry dengan baik, dia wanita yang cantik dan juga baik ...." Reyn menatap Cherry, Cherry membalas tatapannya.


"Semoga Reyn dan Cherry bahagia sampai maut memisahkan." Reyn mengakhiri sambutannya.


Seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Mereka mengira jika yang telah berbicara tersebut adalah saudara kembarnya Reyn yaitu Rayn. Mereka tidak dapat membedakannya keduanya, begitu pun keluarga Cherry. Seluruh hadirin yang hadir telah tertipu olehnya.


Papa tersenyum bahagia setelah mendengar sambutan Reyn. Dia takut Reyn akan menghancurkan acara malam ini karena egonya yang tinggi. Banyak rekan bisnis sang Papa yang diundang pada acara tersebut. Dan tidak terbayangkan olehnya jika acara malam ini hancur karena ulah anaknya itu.


Tiba di akhir acara, para tamu undangan satu per satu berpamitan pada kedua mempelai juga pada keluarga mereka. Begitu pun keluarga Cherry yang harus pulang malam itu juga karena pada pagi harinya ayahnya memiliki urusan yang tidak bisa ditinggalkan.


Keluarga Cherry berpamitan, ibunya memeluk erat Cherry dan berpesan supaya menjadi anak yang berbakti pada suami apa pun yang terjadi. Dan juga, ibunya mengingatkan pada Cherry, jika mereka memiliki masalah, selalu ingat akan janji suci mereka, ibunya tidak ingin mendengar kata cerai di antara mereka.

__ADS_1


Sungguh permintaan yang sulit, karena saat ini juga Cherry sangat ingin bercerai dengan Rayn dan lari ke pelukan Reyn, lelaki yang dicintainya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2