
Cherry merasa kesal, karena ia masih teringat dengan percakapan antara Rayn dan juga Syerlin. Apalagi ia mengetahui kalau mereka pagi tadi bertemu satu sama lain, dan entah mengatakan hal apa di belakangnya.
“Lepasin! Aku nggak mau!” bentak Cherry, yang lalu segera menarik kembali lengan tangannya, yang ditahan oleh Rayn.
Rayn pun bingung, karena tidak biasanya Cherry melakukan hal seperti ini. Biasanya ia menerima, bahkan Cherry berinisiatif untuk memeluknya seperti pagi tadi. Namun ternyata saat ini berbeda dengan apa yang ia lakukan tadi pagi. Hal itu membuat Rayn merasa bingung.
“Kamu kenapa bersikap seperti itu? Apa ada masalah?” tanya Rayn, membuat Cherry membuang pandangannya darinya.
“Nggak ada masalah apa-apa, tuh! Aku sedang malas aja!” jawab Cherry dengan ketus, membuat Rayn merasa bingung mendengarnya.
“Jika kau tidak ada masalah apa pun, kenapa kamu melakukan hal itu? Kau tidak biasanya seperti ini?” tanya Rayn penasaran.
Cherry memandangnya dengan sinis, “Memang aku melakukan hal apa?” tanya balik Cherry dengan sinis.
“Kamu biasanya mau aku pegang? Malah biasanya kamu yang memeluk aku, seperti tadi pagi. Kenapa sekarang kamu bahkan tidak mau aku pegang?” tanya Rayn, yang membutuhkan jawaban dari Cherry.
Karena Cherry yang tidak bisa mengungkapkan perasaan kesalnya kepada Rayn, ia hanya diam sambil memandang sinis wajah Rayn. Sekuat apa pun Cherry melupakan tentang masalah rasa bencinya terhadap Rayn dan juga Syerlin, tetap saja ia tidak bisa melakukannya dengan mudah. Ia tidak bisa dengan cepat melupakan semua hal itu. Yang ada, ia malah semakin mengingatnya dengan jelas.
“Udah ah, aku mau siap-siap untuk ke pertemuan malam ini! Hari sudah semakin sore, aku belum merias wajahku!” ujar Cherry lagi-lagi dengan nada yang ketus, lalu ia segera pergi dari hadapan Rayn untuk bersiap-siap mengenakan gaun dan juga riasan, yang hendak ia pakai.
Cherry pun duduk di kursi meja rias, sembari merias wajahnya, dengan Rayn yang masih saja penasaran dengan apa yang terjadi dengan Cherry. Karena biasanya Cherry tidak seperti ini di hadapannya.
__ADS_1
‘Apa yang terjadi dengan Cherry? Kenapa dia tiba-tiba saja menjadi seseorang yang berbeda dari biasanya?’ batin Rayn, yang merasa bingung ketika melihat Cherry yang saat ini tidak ingin disentuh olehnya.
Cherry tidak memedulikan apa yang Rayn katakan, dan ia hanya berfokus pada riasannya saja. Ketika sudah selesai dengan riasan wajahnya, Cherry pun segera mengenakan gaun yang ingin ia kenakan. Ketika ia hendak menarik resleting gaun tersebut, ternyata ia tidak bisa melakukannya, karena resleting gaun itu tidak bisa dijangkau oleh tangannya.
Karena tidak bisa dijangkau, Cherry pun berusaha untuk tetap menjangkaunya meskipun ia tidak bisa melakukannya. Cherry terkejut karena ternyata Rayn saat ini berada di belakangnya, sembari membantu Cherry untuk memakaikan resleting gaunnya itu dengan sangat lembut. Rayn pun menarik resleting itu, membuat Cherry memandangnya dengan bingung di hadapan cermin.
Ia merasa agak aneh dengan keadaan ini, dan ia segera melepaskan diri dari Rayn. Namun ia tidak bisa melakukannya karena Rayn yang menahan tubuhnya dari belakang. Hal itu membuat Cherry merasa resah, karena saat ini mereka berada dalam posisi yang tidak mengenakkan.
“Lepaskan aku, Rayn!” ujar Cherry tetapi tidak membuat Rayn menurutinya.
Rayn malah semakin mengeratkan pelukannya pada Cherry, membuat Cherry merasa risih dengan perlakuannya tersebut.
“Lepasin! Aku nggak mau dipeluk!” ujar Cherry dengan sedikit memberontak kepada Rayn, tetapi Rayn benar-benar tidak memedulikannya dan hanya bisa memeluknya dengan erat.
“Kau pikir saja sendiri!” bentak Cherry, yang malah terpacu oleh emosinya sendiri.
Karena mendengar ucapan Cherry yang seperti itu, Rayn pun berinisiatif untuk mencium bibir Cherry dan tetap memeluk Cherry dari belakang. Hal itu membuat Cherry merasa terkejut, dan tidak mengerti dengan apa yang Rayn lakukan padanya. Ia berusaha memberontak dari ciuman tersebut, tetapi Rayn terlalu kuat untuknya. Kali ini, Rayn tidak melepaskannya seperti biasanya dan malah meneruskan ciumannya itu.
Dengan tangannya yang sudah mulai nakal, dengan meraba area sekitar dada Cherry, hal itu membuat Cherry mendelik karena tidak biasanya Rayn melakukan hal seperti ini padanya.
“Rayn, apa yang kau lakukan? Jangan melakukan hal itu! Aku tidak suka!” bentak Cherry, sembari tetap berusaha untuk memberontak dari pelukan Rayn.
__ADS_1
Namun, sekali lagi Rayn tidak mengatakan apa pun dan hanya tetap memeluk erat Cherry. Sampai akhirnya Cherry pun terdiam, dan tidak melakukan pemberontakan apa pun.
Karena merasa Cherry yang sudah tenang, Rayn pun segera melakukan hal lain untuk melanjutkan apa yang sudah ia lakukan pada Cherry. Selama beberapa bulan mereka menikah, mereka belum pernah melakukan hal intim kembali, setelah kecelakaan malam itu. Kali ini, mereka merasa membutuhkan hal tersebut, karena hasrat mereka yang terpendam harus segera dikeluarkan.
Tak bisa dipungkiri, Cherry pun ingin melakukannya. Namun yang ada di hadapannya kini hanyalah Rayn, yang juga adalah suami sahnya, sehingga ia sudah pasrah dengan apa yang Rayn lakukan terhadapnya.
Rayn masih saja berkutik pada area dada Cherry, membuat hasrat mereka terpacu karena Cherry yang saat ini sudah tidak melawan, dan mengizinkannya untuk melakukannya.
Rayn mendekati telinganya sembari berbisik, “Apa kau mengizinkan aku untuk melakukannya?” tanya Rayn, yang bertanya lebih dulu kepada Cherry.
Cherry yang sudah tidak karuan, merasa tidak bisa mengendalikannya lagi. “Mau bagaimana lagi? Kita sudah pernah melakukannya, jadi ya ... aku juga ingin merasakan kembali dan tidak ingin menahan semuanya. Terlebih lagi karena kau adalah suamiku,” ujar Cherry, yang sepertinya sudah memberikan lampu hijau padanya.
Karena merasa sangat bahagia, Rayn pun akhirnya membantu Cherry untuk melepaskan kembali gaunnya, sehingga ia bisa melihat pakaian dalam Cherry yang membentuk area dada dan juga perutnya yang sudah membesar itu.
Mereka sama-sama memandang satu sama lain, dari arah cermin.
“Apa tidak apa-apa kita melakukan hal seperti ini, di saat kau sedang hamil? Apa tidak mengganggu anak yang ada di dalam perutmu?” tanya Rayn, yang merasa tidak tahu dan belum berpengalaman tentang hal ini.
Mendengar pertanyaan Rayn, Cherry yang juga tidak mengerti lalu segera mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya. Ia jadi berubah pikiran, dan tidak mengizinkan Rayn melakukan apa pun terhadapnya.
“Aku tidak tahu! Aku tidak mau melakukannya! Aku tidak ingin sampai terjadi apa pun pada anakku,” jawab Cherry yang sepertinya enggan untuk melakukan hal itu.
__ADS_1
Padahal wanita hamil yang sudah memasuki trimester kedua, sudah diperbolehkan untuk melakukan hubungan intim bersama dengan suaminya. Namun karena keduanya yang tidak mengerti dengan hal itu, mereka pun merasa ragu dan Cherry malah jadi tidak mengizinkan Rayn untuk menyentuhnya.