Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Pertemuan atau Perpisahan


__ADS_3

Tatapan mata Reyn semakin sendu dan pedih. Yah, ia benar-benar kecewa melihat sosok yang ia cintai kini terbalut dalam gaun dansa yang sengaja ia pilihkan dulu.


Dan satu hal yang paling membuat hatinya luka saat ia tak menemukan sedikit pun kesedihan di mata Cherry. Ia terlihat sangat baik-baik saja selayaknya orang yang pada umumnya setelah menikah.


Bahkan Cherry terlihat kehilangan saat Rayn melepas tangannya dan pergi meninggalkan mereka. Kejadian yang tak seharusnya dilihat Reyn, katana pasti akan menjadi mimpi buruk padanya.


"Kamu ikut denganku, Cherry. Ada yang mau aku omongin " kata Reyn dengan suara bergetar.


"Aku pikir ngga ada yang mau diomongin lagi, Reyn. Semuanya udah jelas, dan aku hanya percaya apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri tak perduli benar salahnya. " Balas Cherry sambil terus menari meskipun ia hanya sendirian.


"Cherry, aku mohon beri aku kesempatan walau hanya sekali. Ini semuanya salah paham," kata Reyn memohon.


Selama berpacaran dengan gadis ini, tentu saja ia mengetahui beberapa k3lemahan Cherry meskipun terkadang hal itu sudah tidak mempan. Tapi biarlah, siapa yang percaya jika tak mencobanya. Reyn menghela nafas berat, dan kemudian bersiap untuk berlutut. Biarkanlah semua orang melihat, dan bertanya-tanya kenapa dirinya melakukan hal itu.


Namun belum sempat ia melakukan hal itu, lebih dulu Cherry menahan pundaknya dan menggenggam tangannya erat. " Kita bicara di lain tempat." Katanya menarik tangan Reyn menjauh dari kerumunan.


Yah, ia memang sangat marah pada Reyn. Tapi jika Reyn benar-benar gila dan melakukan hal itu, ia tak rela dan tak mau dicaci karena bersikap seperti itu. Ia menarik tangan Reyn dengan langkah cepat tanpa perduli kalau gaunnya akan segera robek jika ia terusan seperti ini. Yah, ia tampak kesusahan dengan gaun panjangnya tapi ia sama sekali tak perduli dengan itu.


Ia melepas tangan Reyn ketika mereka tiba di halaman belakang kediaman keluarga Rusdiantoro yang jauh dari keramaian. Yah, di tempat seperti ini tak akan ada yang melihat walau ia bersikap kasar atau membunuh Reyn sekalipun.


"Kamu mau ngomong apa?" katanya dingin tak berbentuk.


Reyn menelan ludah getir yang pahit seketika. Yah, saat sudah berhadapan dengan Cherry seperti ini mulutnya malah enggan untuk berucap mewakili hatinya. Rasanya sangat letih dan sakit sehingga ia kesulitan bicara. Akh, jangankan untuk bicara berdiri tegak sekalipun ia tak sanggup.


"Kenapa diam? Bukannya tadi kamu bilang mau ngomong?" kata Cherry berang.


Yah, tak hanya Reyn yang merasakan sakit yang luar biasa. Dirinya jauh lebih sakit dan mungkin akan bertambah sakit setelah ini. Menikah dengan orang yang kita cintai memang kebahagiaan yang tak pernah terkira, namun mencintai seseorang yang kita nikahi adalah keharusan tanpa penawaran.


Tapi menangis bukanlah pilihannya. Sudah terlalu banyak air mata yang keluar karena pemuda ini dan mereka terlalu enggan untuk keluar dari sudut matanya. Mereka malah memilih mengalir dengan leluasa menuju hatinya sehingga perihnya semakin menjadi.

__ADS_1


"Kamu bicara atau aku akan pergi?" ancamnya.


Reyn lagi-lagi hanya bisa menunduk menatap rumput yang menghijau. Sikap pengecut yang selama ini ia sembunyikan kinibterlijat jelas. Ia meremas tangannya sendiri mewakili perasaan nya saat ini yang hancur lebur.


Karena dirinya tak kunjung bicara, Cehrry berbalik bersiap untuk pergi. Tapi lagi-lagi tangannya ditahan Reyn sehingga tubuhnya berguncang. Ia kemudian mendengkus kesal dan memilih berbalik menatap wajah orang yang tega melakukan hal jahat itu padanya.


"Maaf_"


PLAK!


Tamparan keras menyapa pipi Reyn saat ia mulai berucap. Yah, Cherry menghadiahkan nya tamparan begitu kata-kata keluar dari mulut nya.


"Aku beneran minta maaf, aku tau aku salah tapi kamu tak seharusnya menikah begitu saja dengan Rayn. Kamu_"


PLAK!


Mendadak tatapan matanya berubah, ia mencekal lengan Cherry sampai gadis itu meringis kesakitan. Seumur hidupnya baru kali ini ia menerima perlakuan seperti ini dari Reyn. Seketika tatapan matanya berubah menjadi takut saat Reyn mencekal dagunya keras.


"Kenapa jadinya kamu yang marah? Bukannya harusnya aku yang_"


"Kenapa tidak menepati janjimu?"


"Seharusnya kamu bersyukur aku sudah kembali Cherry, kalau kamu tidak mau perduli tentang apa yang kujalani selama tak ada di sisimu. "Balas Reyn.


Cherry menepis tangan Reyn sehingga ia bisa bernafas lega kembali.


Namun yang ada didepannya saat ini bukan sosok Reyn yang selama ini ia kenal. Sosok ini begitu menyeramkan dan mungkin tak pernah terpikirkan oleh Cehrry ia pernah mencintai orang seperti ini.


"Aku tak akan merubah apa yang telah terjadi. Tidak perduli siapa yang mengucapkan janji suci bersamaku, aku akan selamanya hidup dengannya. " kata Cherry.

__ADS_1


Kata-kata itu keluar tanpa beban dari mulutnya meski ia tak bisa memungkiri kalau hatinya jauh lebih terluka dari kelihatannya. Yah, selanjutnya ia akan hidup dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai meskipun ia begitu mirip dengan orang yang dicintai nya.


"Aku tau aku salah. Tapi kenapa tidak menungguku? Bukankah dulunya kamu berjanji akan melakukan itu?"


Cherry bersiap pergi, namun langkahnya ditahan Ryan. Yah, karena ia tidak mau menatap wajah lelaki yang pernah mengisi hatinya itu, Ryan terpaksa mencekal dagunya agar mereka bisa menatap wajah satu sama lain.


"Cher, aku tak akan pernah melepasmu apapun yang_"


Ucapan Reyn terhenti saat Cehrry mencoba melepaskan diri dari cengkraman Reyn.


Namun bukannya merasa kasihan, ia malah mengencangkan cengkraman nya hingga air mata sukses keluar dari pelupuk mata Cherry. Saat ini ia merasakan tak hanya hatinya saja yang sakit, tapi juga dengan tubuh dan pikirannya.


"Reyn!" pekiknya pelan.


"Kenapa? Kamu merasa sakit?''


Senyuman Reyn terlihat menyeramkan dan penuh dengan dendam. "Harusnya kamu sadar seberapa murahan dirimu sebelum bersikap seolah aku yang menyakitimu. "katanya.


"Lepasin aku, Yan." rintih Cehrry.


"Aku tak akan membiarkan tubuh jorokmu jatuh ke tangan Rayn keparat itu. Biar bagaimanapun akulah harusnya orang yang menikmati tubuhmu. Maka jangan salahkan aku jika_"


Tatapan mata dan ekspresi wajah Reyn semakin menakutkan. Ia meneliti setiap lekuk tubuh Cehrry dengan tatapan penuh nafsu dan kebegisan. Saat seperti ini, Cherry berharap setidaknya suami sahnya mendengar panggilan hatinya. Tak perduli dengan urusan cinta, ia tak ingin terlibat dalam hal menjijikkan bersama Reyn.


Ia mencoba menunduk saat bibir Ryan mendekat ke bibirnya. Bukannya ia bersikap sok jahat. Tapi ia sedikit jijik pada hal yang biasanya mereka lakukan, hingga.


"Apa yang kamu lakukan?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2