Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Pulang


__ADS_3

Tak lama mama datang, bersamaan dengan mobil papa yang pulang kerja. Mam menyerahkan batagor ke Cherry, “Nah, mama mau ngurus papa dulu. Terserah deh kamu mau ngapain.”


Cherry mendengus mendengar mama berbicara demikian. Ia melihat mama menghampiri papa yang keluar dari pintu penumpang. Loh kok bukan papa yang menyetir? Papa sama siapa ya? Cherry bertanya dalam hati.


“Ah bodo palingan juga sama temennya,” katanya pelan, lalu ia melanjutkan makan batagor. Ah nikmatnya kuah kacang buatan mang Alip.


“Enak banget kayaknya. Bagi dong.”


Cherry langsung tersedak saat mendengar suara yang ia rindukan.


“Pelan-pelan sayang, gak jadi di minta kok ” lanjutnya sambil menyodorkan mium.


Cherry minum, lalu bertanya “Loh kok datengnya sekarang sih. Kan katanya mau minggu depan?”


Lelaki di depannya tertawa kecil, lalu berjongkok di depan Cherry. “Halo jagoan, kamu gak nyusahin bunda kan?” katanya lalu mencium perut Cherry yang membuncit.


Cherry tertawa, “Enggak dong, tapi katanya dia kangen banget sama kamu?”


“Bunda atau adek bayi yang kangen?” Tak ayal ayah muda itu juga ikut tertawa dan mendengar ucapan Cherry, ia begitu gemas lalu memeluk Cherry dengan erat. “Kangen banget tauu” rengeknya manja.


“Ya lagian lama banget urusannya, katanya minggu depan kelar, eh udah sampe aja di rumah.” ujar Cherry.


Mereka melepaskan pelukan. “Ya urusanya udah selesai, kata Papa nanti sisanya mau dibantuin ya udah pulang deh,” jawab Rayn.


“Cherry, Rayn. Cepetan masuk udah mau malem!” mama berteriak dari pintu rumah.

__ADS_1


“Yuk masuk!” ajak Cherry.


Mereka berdua masuk ke rumah. Waktu itu setelah keluar dari rumah sakit, Cherry memberikan keputusan kalau mereka tak akan bercerai. Katakanlah ia bodoh karena plin-plan dengan keputusannya.


Ia sudah mempertimbangkan semuanya, selama berada di rumah sakit. Ia juga merasakan kalau dirinya bahagia saat Rayn dengan sigap membantunya. Bahkan ketika ia sedang muntah di hadapan Reyn yang berkunjung, Rayn tak malu dan jijik membantunya. Ia jadi jatuh cinta denga Rayn.


Semua perlakuan Rayn membuatnya berbeda. Mungkin juga pengaruh dari anak yang dikandungnya yang tidak mau berjauhan dengan sang ayah. Manja sekali anaknya ini.


“Terimakasih ya sayang,” Rayn berkata sambil memeluk Cherry. Mereka sedang berjalan masuk ke rumah.


“Buat apa?” tanyanya heran. Perasaan dirinya tak memberikan apa-apa, justru malah menyusahkan.


“Ya buat semuanya, kamu mau bertahan dan memilih aku, itu udah berarti banget buatku.”


Cherry terbangun dalam pelukan Rayn lagi. Sama seperti kemarin pagi. Namun pagi ini ia tidak berteriak, Cherry hanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Ingatannya melayang ke kejadian semalam. Kejadian yang tidak ia kira akan terjadi padanya. Bahkan dalam waktu singkat ketika masalah lain belum menemukan titik temu. Cherry menangis.


Semuanya tiba-tiba dan tumpang tindih jadi satu. Siapa yang harus salah di sini, apakah dirinya yang memaksa Reyn untuk segera mempercepat pernikahan setelah lamaran. Atau Reyn yang mendadak hilang di hari sumpah suci mereka. Atau Rayn yang bodoh mau mengantikan kembarannya. Atau Syerlin, nama yang mengalun saat Rayn sedang berada di atas awan?


Ia tak peduli juga dengan suara ketukan pintu dan suara bibi yang menyuruh mereka untuk sarapan. Ia juga tak peduli dengan hujan yang malu-malu membasahi halaman. Yang ia pedulikan hanya badannya yang tertutup selimut dan satu kalimat yang sudah akan ia teriakan di depan wajah Rayn.


“Iya Bi, bentar lagi kami turun.” Sama seperti kemarin, Rayn menjawab dengan mata tertutup.


Tak lama Rayn membuka matanya, ia mengerjap ke arah Cherry yang masih terdiam memandang langit-langit kamar. Rayn memegang kepalanya yang pening. Yang ia ingat semalam saat bertemu Syerlin di resto, ia hanya mampir ke kosan Amar. Lalu minum seteguk dan merokok. Setelahnya pulang ke rumah masuk kamar dan melihat Syerlin keluar dari kamar mandi.


Rayn terdiam, sepertinya ada yang salah dengan ingatannya.

__ADS_1


“Mari bercerai.” Cherry bersuara setelah lama terdiam. Suarana dingin dan dalam.


Rayn diam lalu melepas pelukannya pada Cherry. Dirinya masih berusaha mengingat semua kejadian semalam. Ia bertemu Syerlin, mampir ke kost Amar lalu minum dan merokok setelahnya pulang. Tidak ada yang salah.


“Setelah sarapan aku akan bilang ke Papa, kalau kita akan bercerai” Cherry bersuara kembali.


Dan Rayn masih berusaha mengingat semuanya. Ia bertemu Syerlin, mampir ke kost Amar lalu minum dan merokok setelahnya pulang. Sampai rumah langsung masuk kamar dan bertemu seseorang yang hanya memakai handuk.


Oh Sial ! Wanita itu Cherry bukan Syerlin. Ia semalam pasti mabuk berat, tetapi kapan ia minum banyak, kenapa juga ia bisa pulang dalam keadaan mabuk. Dan seingatnya ia hanya minum bir seteguk lalu merokok. Dan ia pulang. Ah sudah mulai menemukan titik terang kejadian ini.


Ia semalam datang kepada Cherry, menghapirinya di kamar mereka. Jadi inilah alasan kenapa pagi ini terasa sangat dingin. Bajunya berantakan di setiap sudut kamar. Ac juga tak di atur dengan baik, sedangkan gorden tak tertutup dengan benar. Pantas saja suasana kamar ini begitu mencekam.


Jadi ini alasan kenapa Cherry berkata dingin dan tangannya terus menggenggam selimut. Ah persetan dengan minuman dan Amar. Sial, semuanya tambah runyam.


“Maaf, aku ...“ Rayn hanya berkata maaf dan menyadari kesalahannya, tapi hanya maaf. Ia masih bingung untuk mengucap alasan apa yang akan disampaikan.


Semalam ia bertemu Syerlin, memberika oleh-oleh liburan dan ingin mengajaknya nonton. Celakanya ia lupa melepas cicin pernikahan dengan Cherry, semua berawal dari sana. Syerlin menuduhnya berselingkuh, dan Rayn membela bahwa itu diberi oleh mama. Tapi memang kenyataannya Rayn telah mendua bukan, meskipun itu bukan keinginannya.


Andaikan saja ia tidak egois dan bepikir panjang. Kalau saja ia mau berdiskusi dengan keluarganya agar tak mempercepat pernikahan. Pasti semua tidak akan terjadi seperti ini. Seandainya ia sedikit egois dan tidak memutuskan sambungan telepon dengan Reyn waktu itu. Seandainya ia mau bersabar lebih lama lagi. Seandainya.


Tapi semua sudah terjadi, pernikahan yang direncanakan tak sesuai harapan. Bukan Reyn yang mencupak janji suci dengannya. Tapi Rayn. Sosok yang tidak pernah ia mimpikan dan sapa kecuali melihat lalu tersenyum singkat demi sopan santun.


Tapi kenapa harus Rayn? Orang yang memiliki wajah sama dengan Reyn. Jadi seolah ia mendapat luka lalu diobati dengan racun. Sangat sakit sekali.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2