
Yang lainnya terkejut. Apalgi pegawai yang meyangka kalau ia adalah Reyn. Si suami bosnya, tapi kenapa ia malah datang bersama perempuan lain. Rayn juga gak nyangka kalau tempat bertemunya dengan Syerlin akan membuat ia bertemu juga dengan Cherry. Ah tau begini lebih baik ia mengajak Syerlin bertemu ditempat biasanya saja. Bodo amat jika Syerlin terus merengek ingin mencoba cafe baru.
“Mas tolong siapin mobil buat ke rumah sakit. Ini kuncinya” suara Rayn yang kalut bercampur khawatir memerintah Rio. Tentu hal itu membuat Syerlin bingung dan bertanya-tanya.
“Kamu kenal dia Rayn?” Syerlin berteriak tanya.
“Kamu diem dulu deh!”
Syerlin terkejut tenttu saja. Ini pertama kalinya ia dibentak oleh Reyn. Sepanjang mereka bersama, Rayn selalu berlaku lembut padanya. Apa jangan-jangan perempuan ini salah satu pacar Rayn yang lain? Syerlin hanya bisa berspekulasi di dalam hati.
Reyn segera mengangkat tubuh Cherry ke mobil saat Rio memberitahunya kalau mobil sudah siap. Syerlin juga mengekor di belakang Rayn tanpa di suruh.
“Di belakang aja Rayn, biar sama aku. Nanti aku jagain kok,” Syerlin berkata serius dan meyakinkan “Kamu fokus aja nyetirnya”
Rayn menurut, ia meletakkan Cherry di kursi belakang. Lalu ia mengemudi dengan cepat. Untung siang ini jalanan masih sepi. Ah kenapa dia bisa ceroboh sekali. Semenjak Cherry meninggalkan rumahnya ia benar-benar menutup mata dan telinga.
Padahal mama dan papa sempat membahas Cherry di meja makan. Reyn juga sering mengabarkan tentang Cherry. Ia tau semuanya, bahkan ia juga tau kalau saudaranya itu juga mendekati Cherry lagi.
Tapi jangankan bertanya dengan mereka tentang Cherry, ia justru mangkir dari semua pembicaraan itu. Yang ia tanya hanya kapankah waktunya sidang perceraian mereka.
Rayn sadar kalau ia salah, ia masih terus berusaha membuang rasa penasaran dan tidak nyaman. Dalam hatinya tentu ia penasaran dengan kabar Cherry, ia masih mengingat bagaimana Cherry menangis di pagi itu.
Di sepanjang perjalanan Syerlin juga turut diam. Ia terus mengingat siapa perempuan yang ada di sadarannya ini. Seingatnya semua mantan Rayn itu punya tinggi yang semampai, bukan berbadan kecil seperti ini. Tentu saja Syerlin ingin bertanya, tapi ia masih ragu, takut-takut kalau Rayn menghardik dirinya lagi.
“Mas suaminya pasien?” Suster bertanya saat selesai memeriksa Cherry.
__ADS_1
Tanpa sadar Rayn menjawab, “Iya, ada apa dengan istri saya?”
Kalimat Rayn membuat Syrelin terkejut. ‘Rayn belum menikah mbak, dia pacar saya. Kami baru akan menikah beberapa bulan lagi’ Syerlin ingin berteriak seperti itu, tapi ia memilih diam karena melihat wajah Rayn yang sekalut ini.
“Sebentar ya tunggu dokter saja Mas, biar dokter yang menjelaskan semuanya.” Suster berlalu setelah mengatakan kalimat tersebut.
Ah ada apa ini, kenapa perasaannya mendadak gak enak sekali. Apa jangan-jangan Cherry mengidap penyakit mematikan yang membuat umurnya gak lama lagi.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan, Rayn langsung menghampiri bersama Syerlin yang masih setia mengekor dibelakangnya. “Dengan Pak ?”
“Saya Rayn, suami Cherry” jawaban Rayn tentu membuat Syerlin terkejut.
“Dari hasil pemeriksaan saya, istri anda kelelahan sehingga asam lambungnya naik. Memang tidak terlalu bahaya, tapi ini beperngaruh pada perkembangan janinnya”
“Istri anda hamil, baru berjalan tiga minggu. Semuanya sehat, tapi harus dijaga dengan ekstra karena masih tahap awal kehamilan.”
Sial.Seharusnya Rayn memikirkan hal ini. Bukan malah memikirkan perceraian. Dirinya yang tadi penasaran karena meyangka Cherry mengidap pernyakit berbahaya, kini malah terkejut. Dunia rasanya runtuh. Ia tak lagi mendengar perkataan dokter setelahnya. Tak juga peduli pada Syerlin yang menatapnya marah dan penasaran. Ia juga tidak peduli pada Reyn yang bernafas terengah-engah karena berlari dari parkiran.
Yang ia tahu, tubuhnya limbung setelah mendapat hantanman dari Reyn. Ah ia bingung, ini sebenarnya kabar duka atau suka?
“Kalian ini buat malu aja, berantem di rumah sakit. Kalau mau adu kekuatan naik ke ring tinju sana. Papa masih sanggup kalau menjadi wasit”
Papa dan mama setelah mendapat kabar bahwa menantu dan kedua putranya ada di rumah sakit. Tentu mereka langsung bergegas. Tapi betapa terkejutnya saat sampai di rumah sakit yang ditemui kedua putranya babak belur. Mama tentu saja terkejut, tapi ia lebih terkejut lagi dengan keadaan Cherry. Tak ia sangka kejadian malam itu berbuntut panjang seperti ini.
Setelah mengurus segala hal, Cherry di pindahkan ke ruang rawat yang lebih besar lagi. Cherry masih tertidur. Sedangkan si kembar mendapat ceramah setelah diobati oleh perawat. Syerlin tentu masih mengekor. Ia masih sangat penasaran.
__ADS_1
“Syerlin udah lama di sini?” Mama menyapa setelah melihat Cherry di ruang sebelah.
Kamar rawat ini sangat luas, ada ruang tamu dan tempat tidur yang terpisah. Jadi mereka bisa berbicara tenang dan mama bisa mengawasi Cherry di kursi tengah ruangan.
“Iya Tante” Syerlin hanya menjawab seadanya. Ia kikuk karena sangat jarang sekali ia bertemu mamanya Rayn. Ia juga baru tau kalau Rayn punya kembaran yang sangat mirip.
“Kalian masih seperti anak kecil. Mau kalian apa?” Papa melanjutkan masih dengan nada marah yang kentara. “Ada apa sebenarnya? Kamu gak terima kalau Cherry hamil, Reyn?” Papa bertanya pada pada Reyn.
Reyn menggeleng. Tentu saja ia tidak terima dengan kenyataan ini. Meskipun Cherry hamil dalam keadaan bersuami. Ia tidak terima. Demi tuhan dan semesta, ia masih sangat mencintai Cherry, dan juga yang ia tahu Cherry juga masih mencintainya. Tentu saja ia tahu, sudah beberapa minggu ini ia mendekati Cherry.
Reyn juga rutin datang ke cafe saat makan siang. Termasuk siang ini, ia juga datang lagi. Tapi bukan Cherry yang ia temui, ia malah ditodong pertanyaan oleh Rio, yang mengatakan bahwa Reyn kan baru saja mengantarkan Cherry ke rumah sakit karena pingsan. Reyn yang terkejut langsung berlari keluar menuju mobil. Ia segera menyusul Rayn ke rumah sakit terdekat.
“Aku gak terima bajingan ini menghamili Cherry, gugurkan saja” setelah lama terdiam Reyn bersuara dan mengejutkan semua orang.
“Jangan gila kamu Reyn. Anak dalam kandungan Cherry bukan anak haram. Mereka menikah sah.” Papa membentak Reyn.
Reyn memang gila, mana ada saudara yang menyuruh menggugurkan kandungan istri saudaranya. Tapi ia sungguh tidak akan rela menerima fakta ini. Baginya Cherry adalah milik Reyn, dan hanya boleh ia yang menjadi ayah anak Cherry. Reyn memang egois.
Lantas bagaimana dengan Rayn? Apakah ia akan tega juga membunuh darah dagingnya? Bukankah anak yang dikandung Cherry adalah anaknya juga. Anak sah dari istri sahnya. Ya meskipun menikah karena terpaksa tapi anaknya kan gak berdosa. Mereka juga suami istri yang belum bercerai. Lalu dengan Syerlin dia harus bagaimana.
Cuma dua hari Rayn bangun berpelukan dengan Cherry. Tapi rasanya masih terbawa hingga saat ini. Padahal Cherry sudah pergi dari rumah beberapa minggu ini. Tapi kenapa juga rasa nyamannya masih bercokol di hati.
Ah Cherry ternyata sudah punya tempat di hati Rayn, tanpa Rayn sadari. Pantas saja beberapa hari ini ia begitu ingin makan yang segar-segar. Ternyata ini alasannya, ad buah hati yang tumbuh di rahim Cherry.
BERSAMBUNG....
__ADS_1