
“Aku harus beli pakaian besok. Pakaianku sudah banyak sekali yang tidak muat lagi,” gumam Cherry, yang mau tidak mau harus pergi ke mall untuk membeli pakaiannya.
Cherry sejenak terdiam mengingat semua permasalahan kilas balik yang ia derita itu. Ia tidak ingin semua ini terjadi, tetapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa kejadian ini memberikan hikmah tersendiri baginya. Namun, ketika ia sudah bisa mengambil hikmah dari kejadian yang ada, ia merasa sedikit menyesal. Itu semua karena Rayn yang ia dengar ingin kembali lagi bersama dengan Syerlin.
Melihat Syerlin yang sangat sempurna baginya, Cherry merasa sangat minder dan tidak percaya diri. Itu semua juga karena saat masa kehamilan ini, ia tidak pernah menggunakan skincare lagi, sehingga membuat kulitnya menjadi kusam. Tidak seperti kulit yang Syerlin miliki.
“Pantas saja Rayn mau kembali dengan Syerlin. Pantas saja, karena Syerlin adalah wanita yang sangat sempurna. Aku saja sampai minder melihat paras dan juga tubuhnya yang sangat menggoda itu,” gumam Cherry, yang tiba-tiba saja merasa tidak percaya diri jika disandingkan dengan rivalnya.
Karena memikirkan masalah wajah dan juga skincare, Cherry pun tiba-tiba saja teringat dengan ucapan Rayn, yang berjanji akan mengajaknya membelikan skincare yang aman untuk dirinya.
Namun, ia kembali tersadar, karena dirinya yang sudah tidak mood lagi meminta Rayn untuk mengantarkannya membeli skincare tersebut.
“Aku sudah tidak mood untuk meminta Rayn mengantarkanku. Aku tidak bisa melakukannya, sementara untuk meminta bantuan Reynal pun, aku juga tidak bisa karena aku masih terikat hubungan dengan Rayn. Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Cherry.
Perasaan dan logikanya menolak, “Aku tidak bisa melakukan keduanya,” gumam Cherry lagi, yang merasa semakin bingung dengan keadaan.
Sementara itu di sana, Rayn sedang menikmati malam panjangnya bersama dengan Amar. Ia menenggak beberapa botol wine, membuatnya hampir saja kehilangan kesadarannya. Amar memandangnya dengan bingung, karena ternyata Rayn sedang ada permasalahan yang ia pikirkan.
“Apa kau ada masalah?” tanya Amar, Rayn tidak menjawabnya, dan hanya bisa menenggak wine yang ia minum.
__ADS_1
Melihat Rayn yang tidak menghiraukannya, Amar pun lantas meraih gelas yang Rayn pegang.
“Jawab dulu, memangnya ada masalah apa sampai kau menenggak minuman sebanyak ini?” tanya sinis Amar yang merasa sangat penasaran.
Rayn menggeleng kecil, dengan tatapan yang kosong memandang ke arah hadapannya. “Aku tidak mengerti apa maksud dari semua ini. Kenapa dia bisa mengambil keputusan sepihak seperti itu, secara singkat?” gumam Rayn, membuat Amar merasa bingung mendengarnya.
“Maksudnya apa? Siapa yang mengambil keputusan cepat dan sepihak secara singkat?” tanya Amar yang menginginkan penjelasan detail dari apa yang ia tidak mengerti.
Rayn pun kembali menenggak minuman yang ia pegang, tetapi Amar dengan segera menahannya agar tidak kembali menenggak minuman tersebut.
“Sudah cukup, jangan dilanjutkan lagi! Kau bisa mati berdiri jika kebanyakan menenggaknya!” ujar Amar yang menahan apa yang menjadi keinginan Rayn.
Namun karena rasa kesal yang Rayn rasakan mendalam, ia pun tidak ingin menahan semuanya. “Tolong jangan tahan aku,” ujar Rayn, yang lalu segera menarik kembali tangannya yang tertahan oleh Amar.
“Sudah, jangan diteruskan! Aku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu!” bentak Amar, membuat Rayn memandangi dengan sinis.
“Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban apa pun dari darimu. Jangan menghalangi aku untuk malam ini!” bentak balik Rayn, yang tidak ingin dihalangi oleh Amar.
Namun, Amar tidak serta-merta meng-iya-kan apa yang menjadi keinginan Rayn. Ia hanya bisa menyingkirkan botol minuman itu sebisa mungkin, agar Rayn tidak kembali menenggaknya dan tidak membuat dirinya semakin kehilangan kesadaran.
__ADS_1
“Ya ... ya ... ya ... kau bicara saja dengan rumput yang bergoyang,” ujar Amar yang sama sekali tidak memedulikan apa yang Rayn katakan itu.
“Jangan seperti ini, aku tidak ingin diatur seperti ini!” bentak Rayn, yang tidak paham dengan keadaan yang ia alami saat ini.
“Aku tidak bermaksud untuk mengaturmu, tapi jika aku tidak melakukan hal ini, kau pasti akan tamat malam ini juga! Bayangkan saja sudah berapa banyak botol yang kau minum? Apa kau abnormal?” ujar Amar, yang merasa harus bertindak saat ini, untuk menyelamatkan nyawa Rayn.
Jika Amar tidak melakukannya, Rayn pasti akan tamat malam ini juga.
“Biarkanlah aku tamat detik ini juga! Aku merasa tidak bisa melakukan apa pun lagi untuk membuatnya menjadi milikku. Bahkan menghamilinya saja, ternyata tidak bisa membuatnya untuk menjadi milikku,” gumam Rayn, yang saat ini ucapannya sudah mulai melantur.
Hal itu diketahui Amar, karena ternyata yang saat ini dibahas oleh Rayn adalah sosok Cherry, yang beberapa waktu lalu ia ceritakan. Amar merasa sangat simpatik dengan apa yang terjadi pada Rayn dan juga Cherry, karena ia mengikuti dari awal permasalahan mereka.
“Aku tahu masalahmu memang sangat berat, tapi kau tidak seharusnya seperti ini. Kau masih memiliki masa depan. Bahkan kalaupun kau tidak menginginkannya, banyak orang yang menginginkan masa depan bersamamu. Contohnya keluargamu, anakmu, atau wanita lain yang mungkin nanti akan bersamamu menggantikan sosok Cherry,” ujar Amar menasehati Rayn.
Rayn menggelengkan kecil kepalanya. “Aku tidak ingin sosok pengganti dari Cherry. Cherry saja bagiku Sudah cukup, aku tidak ingin orang lain menggantikan posisinya. Aku bisa mati berdiri jika Cherry meninggalkanku. Entah mengapa beberapa waktu bersamanya saja sudah membuatku mabuk kepayang seperti ini. Aku tidak bisa jika tidak bersamanya,” bantah Rayn, membuat Amar memandangnya dengan datar.
“Kau juga mengatakan hal yang sama seperti ini, saat kau dan Syerlin bertengkar waktu itu. Tapi nyatanya apa? Kau bisa melupakan Syerlin dan menikah dengan Cherry. Di dunia ini apa yang tidak mungkin?” bidik Amar, yang merasa ucapan Rayn itu tidak sinkron dengan kenyataan yang sedang ia jalani.
Rayn menghela napasnya panjang. Ia tidak bisa membandingkan antara Cherry dan juga Syerlin. Baginya, Cherry dan Syerlin adalah dua orang yang sangat berbeda. Ia tidak bisa menyamakan antara Cherry dan juga Syerlin.
__ADS_1
“Cherry dan Syerlin adalah dua orang yang berbeda, seharusnya kau tahu itu!” ujar Rayn, yang kembali ingin menenggak minumannya, tetapi Amar segera menahannya kembali, agar tidak melakukan hal bodoh itu lagi.
“Walaupun mereka adalah dua orang yang berbeda, tapi aku lihat kau lebih lama menjalani hubungan bersama dengan Syerlin daripada Cherry. Nyatanya kau bisa melewati semua masa-masa sulitmu, dan malah berpaling kepada Cherry. Lantas sekarang apa yang menyulitkanmu?” tanya Amar.