Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Petaka Tak Pernah Di Sangka


__ADS_3

Cherry keluar dari ruangannya saat mentari sudah menguning. Ini sudah cukup sore, harusnya ia sudah pulang dari tadi, tapi gara-gara laporan yang harus dibaca ia jadi menunda kepulangannya. Ia menuruni tangga menuju lantai bawah.


Setelah sampai ia duduk di meja bar. Cafe ini baru opening dua bulan yang lalu. Tapi pengunjung yang datang sudah lumayan banyak. Hmm sepertinya Cherry harus mememberikan hari libur pada timnya.


“Eh ada nona muda Cherry, gimana non semalam” sapa Rio sambil tesenyum menggoda.


Cherry mendengus dan tertawa masam. Baru saja duduk santai untuk menghilangkan lelah, malah ditanya yang enggak-enggak. “kepo. Buatin gue minum dong, jangan soda ya apalagi alkoho.''


Rio yang sedang membuat minuman mengangguk, “Eleh gayaan no soda no alkohol. Lo mau program biar cepet hamil ya.” Lalu Rio tertawa terbahak.


Gila. Ia bahkan tak berpikir ke sana. Hamil? Berbuat saja dia gak mau apalagi hamil. Yang ada dia sekarang lagi pusing mau pilih cerai atau nikah lagi. Eh sama aja ya.


Rio kembali mengahadap Cherry dengan memberikan segelas milkshake stroberi. “Ya kali aja lo mau cepetan hamil. Kan Reyn sama lo sama-sama anak pertama, mau kejar target gitu.''


Ah benarkan, tidak ada yang tau kalau Reyn itu punya Rayn, kembaran yang sialnya susah dibedakan. Jangankan orang lain, dirinya saja kadang masih salah kira. “Yeu gak gitu juga dong, Eh Yo, gue mau tanya nih, lo kalau misalnya udah sama yang baru, tapi yang lama balik lagi gimana? Yang lama ini udah nyakitin tapi lo cinta mati juga sama dia, ibaratnya kayak Dilan deh, si Milea balik lagi saat Dilan udah nikah sama bininya ini” Tanpa basa-basi Cheryy mengutarakan pertanyaan yang bersemayam di benaknya.


Rio terdiam, sepertinya ia sedang berpikir keras. Sedangkan Cherry hanya meminum milkshake yang terasa segar dipandang. Sambil menunggu jawaban Rio, Cherry mengingat semua kenangan yang terjadi di Cafe ini.

__ADS_1


Dua bulan yang lalu, Pikiran Cheryy melayang ke sana. Ingatannya masih segar sekali. Dua bulan yang lalu saat opening cafe, Reyn menunduk dihadapannya sambill menyodorkan kotak berlapir bludru, Di dalamnya ada cincin, cantik sekali. Persis dengan apa yang Cherry inginkan dulu.


Sepertinya Reyn habis membajak hp Cherry dan menemukan gambar cincin ini. Reyn mengucapkan kalimat yang ia tunggu sedari lama ‘Will You Marry Me, Honey’ tak ketinggalan dengan senyum manis dan musik yang mengalun. Romantis sekali.


Semua pengunjung berteriak heboh dan berseru ‘Terima ... terima’ tak ayal Cherry menganggukkan kepala dan menerima lamaran Reyn. Ia senang, sangat senang saat Reyn menyematkan cincin di jarinya lalu memeluk dirinya dengan erat.


“Ye malah ngelamun Non. Lo lagi mikirin semalam ya.”


“Mesum banget lo.” Cherry menjawab ketus. “Jadi apa tanggepan lo dari pertanyaan gue tadi” lanjutnya menuntut jawaban.


Hmm, Cherry mengguman. Kalau dipikir-pikir sebenarnya Reyn gak nyakitin, tapi tindakan dia dihari pernikahan kalau dibiarkan akan buat malu semua keluarga. Terus juga kasian dengan mama dan papa, yakali baru pertama buat acara dan mengeluarkan biaya harus gagal sih. Kan malu banget kalau sampe kejadian.


Tapi kalau dia lebih milih egois, sekarang gak akan serunyam ini. Semuanya pasti gak akan membingungkan. Terus dia bisa nikah sama Reyn dan hidup bahagia, punya anak lalu membangun keluarga kecil kayak di film-film roamansa. Nah kan romantis.


“Lah bengong lagi, mantan lo ngajak balikan?” Tanya Rio dengan nada heran.


“Mana ada, dahlah gue mau balik, thanks minumannya, gue gak mau bayar ya. Jangan lupa tutup cafe jam 10, kunci juga pintunya, beresin juga dalemnya jangan jorok, gue potong gaji lo.'' Cherry menjawab dan beranjak keluarg cafe tanpa mempedulikan Rio yang misuh-misuh dan beberapa pengunjung yang menatapnya penasaran.

__ADS_1


Cherry memasuki mobil yang sudah ia pesan sebelumnya. Bergabung dengan berjuta kendaraan lain yang berdesakan setelah lelah seharian bekerja.


Dua jam waktu yang dia tempuh untuk sampai ke rumah besar ini. Semua gara-gara macet, yakali biasanya cuma empat puluh lima menit, ini sampai dua jam. Parahnya dia belum makan malam juga, mana males banget badan capek semua.


Cherry langsung memasuki kamar yang ia pakai semalam, ia menyiapkan baju ganti lalu beranjak ke kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, ia mandi kilat karena sudah lapar. Ah kenapa ia bodoh, Kenapa pula tadi hanya menyiapkan baju tanpa membawa, kan sekarang ia bukan di rumah, ada Rayn di juga yang tinggal di kamar ini. Ah tapikan Rayn belum pulang. Bodo amat kayaknya tadi pintu sudah di kunci.


Cherry keluar hanya memakai handuk. Saat ia menutup pintu kamar mandi tiba-tiba ada yang memeluknya. Aroma orang itu membuatnya mual. Bau alkohol sangat mendominasi nafas yang mengalur di tengkuknya.


“Maafin aku Yang. Aku juga bingung mau gimana. Maaf” ini suara Rayn. Ia sedang mabuk. Cherry tak tinggal diam ia terus memberontak dan Rayn terus mengeratkan pelukan. Rayn membalik tubuh Cherry lalu mendekapnya erat.


Cherry yang berusaha melepaskan pelukan merasa kelelahan. Tenaganya tak sebanding dengan Rayn. Tak lama bibirnya basah dan bersatu dengan bibir berasa alkohol milik Rayn. Cherry semakin memberontak, tapi Ryan tan mau mengalah. Ia bahkan membimbing Cherry menuju ranjang. Sedang Cherry terus memberontak.


Malam itu petaka tanpa aba-aba menghampiri Cherry. Saat ia tengah binbang antara cerai atau menikah lagi. Ketika ia juga sedang mengenang dua bulan yang lalu hatinya tumbuh bunga.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2