
Rayn memandang layar handphone dengan sinis, kemudian segera membaca pesan singkat yang dikirimkan Reynald pada Cherry.
Beruntung Cherry sama sekali tidak mengunci layar handphone-nya, sehingga ia bisa dengan mudahnya masuk untuk melihat apa yang Reynald kirimkan kepada Cherry.
Rayn membaca pesan singkat dari Reynald, yang ditujukan untuk Cherry. Ia memandangnya sinis, karena menemukan chat yang sangat tidak pantas baginya.
“Sayang, aku sangat merindukanmu. Aku ingin sekali memelukmu.”
Pesan dari Reynald sontak membuat Rayn mendelik, karena ia yang tiba-tiba saja merasa kesal dengan perlakuan Reynald kepada Cherry, yang ternyata masih sama seperti saat mereka menjalin hubungan dulu. Tak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa cemburu di hati Rayn, karena melihat hal tersebut di hadapannya kini.
‘Dia pikir dia siapa? Dia hanya masa lalu istriku, kenapa masih saja menempel bagaikan permen karet?’ batin Rayn sinis, yang merasa harus memberikan pelajaran untuk Reynald.
Namun, saat ini bukan saat yang tepat untuknya memberikan pelajaran kepada Reynald. Ia tidak bisa melihat Cherry semakin tertekan, hanya karena permasalahannya dengan Reynald yang masih saja berlanjut.
“Dia ... kenapa tidak menyerah saja, sih?” gumam Rayn, kesal dengan sikap Reynald yang masih saja seperti itu.
Semua sudah berubah, sehingga membuat Rayn tidak bisa menerimanya. Ada sedikit rasa cemburu, yang tumbuh di hatinya, ketika melihat Cherry didekati kembali oleh Reynald.
Memang, Reynald adalah kekasih dari Cherry sebelum menikah dengannya. Namun, sekarang Cherry sudah menikahinya, dan semua hal yang menyangkut Cherry, seharusnya tidak boleh diketahui Reynald lagi.
“Aku tidak bisa membiarkan itu semua terjadi!” gumam Rayn, yang berusaha keras untuk memastikan keadaannya tidak seperti ini jadinya.
Setelah menikah dengan Cherry, kehidupan Rayn seketika berubah drastis. Walaupun masih belum ada benih cinta di antara mereka, tetapi bayi yang ada di dalam kandungan Cherry saat ini tidak sengaja menjadi perekat hubungan di antara mereka. Mereka tidak bisa lepas begitu saja dengan mudahnya, karena bayi yang ada di dalam kandungan Cherry.
Karena sudah terlalu penasaran, Rayn pun membuka seluruh isi chat mereka. Ia membaca dari awal hingga akhir, membuatnya selalu mengelus dada ketika membaca satu per satu pesan dari Rayn.
__ADS_1
Memang Cherry masih membalasnya, tetapi semakin ke sini Cherry semakin cuek, dan tak jarang ia melewatkan untuk membalas pesan singkat dari Reynald. Hal itu tak membuat Rayn merasa puas karenanya.
“Aku tidak puas hanya dengan hal ini!” gumam Rayn, yang masih terus menggulirkan isi chat di antara mereka.
Tak sengaja, jari Rayn menggulirkan isi percakapan Reynald dengan Cherry, yang membuat matanya mendelik. Ia merasa harus membaca keseluruhan isi percakapan mereka sebelum ia menikahi Cherry, agar rasa haus penasarannya hilang setelah membacanya.
Semakin dibaca, isi pesan mereka semakin membuat Rayn mendelik. Itu karena semua isi percakapan mereka adalah list keinginan Cherry yang ingin ia lakukan bersama dengan Reynald setelah mereka menikah nantinya.
Cherry sudah menyelesaikan mandinya, membuat Rayn gugup dan dengan segera menghapus riwayat pada handphone Cherry, dan kembali meletakkan handphone Cherry di tempat semula.
Rambutnya tergerai indah, karena terlihat masih basah. Cherry mengusapnya perlahan menggunakan handuk kecil, agar ia bisa dengan cepat mengeringkan rambutnya kemudian menatanya.
Rayn segera bangkit, lalu dengan segera berjalan ke arah belakang Cherry, membuat Cherry memandangnya bingung. Rayn pun memeluk Cherry dari belakang, sehingga membuat Cherry terdiam ketika Rayn melakukannya.
Rayn mendekatkan wajahnya ke telinga Cherry, sambil berbisik, “I love you, my sweetheart.”
Ucapan yang sangat romantis yang Rayn katakan barusan, adalah ucapan yang ingin sekali Cherry dengar dari mulut Reynald, ketika nanti mereka menikah. Ia ingin ketika bangun dari tidurnya, yang ia pandang pertama kali adalah Reynald. Tak lupa Reynald memeluknya dan menciumnya, sembari membisikkan perkataan yang baru saja Rayn katakan padanya.
Kurang satu hal, setelah membisikkan hal manis di telinga Cherry, Rayn segera mencium pipi Cherry, sontak membuat Cherry melepaskan diri dari Rayn. Ia memandang Rayn dengan tatapan aneh, karena Rayn yang ternyata tahu dengan hal kecil seperti ini.
“Kamu Rayn atau Reynald?” tanya Cherry sinis, yang saat ini sedang ketakutan di hadapan Rayn.
Perlakuan dan sikap Rayn yang seperti ini, ternyata membuat Cherry takut. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Cherry, karena ia mengetahui beberapa hal yang dapat membuat Cherry bahagia.
“Aku bantu keringin rambut kamu, ya?” ujar Rayn, lalu menuntun perlahan tangan Cherry untuk duduk di depan meja riasnya.
__ADS_1
Melihat effort Rayn yang seperti itu, Cherry semakin bingung dengan keadaan ini. Ia bingung, sebenarnya yang ia hadapi sekarang adalah Rayn, atau Reynald?
‘Aku hanya mengatakan hal ini kepada Reynald, tapi kenapa dia tahu akan hal ini?’ batin Cherry, merasa bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka.
Rayn mulai menyiapkan seluruh peralatannya, untuk mengeringkan rambut Cherry. Ia merasa senang, karena bisa membantu Cherry untuk mengeringkan rambutnya itu.
Perlahan, Rayn pun mengarahkan hair dryer itu ke arah rambut Cherry. Ia tidak memakai kecepatan yang tinggi, dan hanya menggunakan kecepatan yang sedang saja. Hal itu membuat Cherry memandang ke arah Rayn datar, melalui cermin yang ada di hadapannya.
“Kalau begini kapan keringnya rambutku?” tanya datar Cherry, membuat Rayn menyeringai mendengarnya. “Sudah sini, biar aku saja yang mengeringkan rambutku sendiri!” ujarnya yang sudah terlanjur gemas dengan apa yang Cherry lakukan.
“Aku tidak ingin melihatmu sampai kepanasan karena alat ini. Jangan terlalu keras dan terlalu panas, yang standar saja. Utamakan keselamatanmu,” ujar Rayn, membuat Cherry memandangnya dengan semakin datar.
“Kamu sengaja ya membuat lama keadaan? Kalau lama, akhirnya aku gak jadi persiapan untuk pergi ke pertemuan kali ini, bukan?” bidik Cherry, membuat Rayn memandangnya dengan tatapan yang serius.
“Kau kenapa memikirkan sampai sejauh itu? Padahal aku sudah berbaik hati untuk memberikanmu izin, untuk pergi ke pertemuan itu. Bersama Reynald pula!” ujar Rayn dengan sedikit ketus, membuat Cherry pun memandangnya sinis.
“Siapa kau memangnya? Memberikan izin padaku?” tanya sinis Cherry.
“Aku suamimu,” jawab Rayn dengan tegas, membuat Cherry mendelik kaget mendengarnya.
Mereka sama-sama memandang satu sama lain, dan akhirnya menghambat pekerjaan Rayn dalam mengeringkan rambutnya itu.
Handphone Cherry berdering tiba-tiba, memecah suasana yang canggung di antara mereka.
Cherry bangkit, untuk mengambil handphone tersebut yang berada di atas ranjang tidurnya. Hal itu membuat Rayn tersadar, dan langsung menahan Cherry agar tidak mengambil sendiri handphone-nya itu.
__ADS_1
“Eh, biar aku aja yang ngambil,” ujar Rayn, yang langsung segera mengambil handphone tersebut.
Cherry melihat effort Rayn yang sangat besar untuk mengambilkan handphone-nya. Ia merasa Rayn tidak buruk juga, untuk menjadi seorang suami.