
Perkelahian antara Reyn dan Rayn menyita perhatian Mama dan Papa mereka. Seketika saja orang tua mereka menghampiri ketiganya.
"Ada apa ini?" Mama panik.
"Ya ampun Reyn, apa yang terjadi? Kenapa kalian berkelahi?" Papa bertanya pada Rayn dan menghiraukan Reyn.
Sontak saja hal ini menjadikan Reyn semakin membenci keadaan karena mereka semua berpihak pada Rayn tanpa memikirkan dirinya.
"Ma... Pa... Ini aku Reyn, dia bukan aku, dia adalah Rayn." Reyn memberi penjelasan pada kedua orang tuanya.
"Apa maksud perkataanmu? Bagaimana bisa dia adalah Rayn? Apa yang kamu mau Rayn?" Papa memborbardir pertanyaan pada Reyn seolah-olah dia tidak tahu bahwa yang telah menggantikan posisi Reyn sebagai suami Cherry adalah Rayn.
"Iya Nak, kenapa kamu berkata seperti itu?" Mama pun ikut bertanya-tanya namun Mama memang belum mengetahui bahwa dia adalah benar-benar Reyn.
"Aaarrggh...kalian ini, masa sama anak sendiri tidak bisa mengenali? Kita memang kembar identik, untuk sekilas kita memang susah untuk dibedakan, tapi mana mungkin kalian tidak bisa mengenaliku sedikit pun!" Reyn marah karena merasa tak seorang pun dapat mengenalinya.
Memang benar saat ini jika dilihat sekilas mereka memang benar-benar sulit untuk dibedakan, sampai-sampai Mamanya pun tidak bisa mengenalinya jika dia adalah Reyn yang asli.
Biasanya Rayn selalu memiliki potongan rambut yang lebih panjang dari Reyn. Reyn selalu nampak lebih rapi daripada Rayn namun kali ini mereka memiliki potongan rambut yang sama, jadi sangat sulit untuk dibedakan.
"Rayn... Apa yang kamu inginkan Nak? Jangan membuat keributan di hari bahagia ini. Kamu lihat, para tamu sedang menunggu kita. Tolong Nak, jangan kacaukan acara malam ini." Mama memohon pada Reyn.
"Ma... Reyn nggak peduli, ini menyangkut masa depan Reyn. Reyn tidak mau melihat wanita yang Reyn cintai dimiliki oleh Rayn." Reyn melirik dan menatap dalam pada Cherry.
Cherry hanya tertunduk dan tidak tahu harus berbuat apa, karena saat ini semua adalah sandiwara yang telah diatur oleh Papa. Ingin sekali dia mengatakan yang sebenarnya namun saat ini Rayn memang suami sahnya.
"Sudah cukup semua yang telah kalian berikan pada Rayn, saat ini aku hanya minta kalian batalkan pernikahan ini karena Cherry adalah milikku." Reyn menjelaskan.
"Papa... Apa maksud semua ini? Kenapa Rayn terus menerus mengatakan bahwa dia adalah Reyn?" Mama bingung.
__ADS_1
"Ma... Ini aku Reyn, aku tahu aku salah karena datang terlambat untuk melangsungkan pernikahanku dan janjiku pada Cherry untuk menjadi suaminya, tapi aku punya alasan untuk semua itu." Reyn semakin memperjelas.
"Benarkah itu semua, Pa?" Mama semakin penasaran.
"Perlukah aku tanyakan pada para tamu? Aku yakin di antara mereka ada yang mengenaliku karena kebanyakan dari mereka adalah rekan kerja dan juga temanku." Reyn mengancam.
"Hmmm...." Papa menghela napas dalam-dalam kemudian melepaskannya.
"Tidak perlu," Papa mulai memikirkan jalan keluar untuk masalah rumit ini.
"Kamu tidak perlu menanyakan para tamu, Reyn." Lanjut Papa.
"Apa!" Mama kaget.
Mama melirik Reyn dan Rayn bergantian, masih tidak percaya jika dia sebagai seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan mereka sampai tidak dapat mengenali perbedaan keduanya.
"Tapi...ini semua memang kesalahanmu Reyn. Kamu harus menanggung akibatnya!" Papa berusaha tenang.
"Tapi...." Sela Reyn.
"Diam! Jangan dulu bicara. Seharusnya kamu berterimakasih pada Rayn yang sudah menyelamatkan nama baik keluarga kita. Apa jadinya jika dia tidak datang pada saat itu. Mungkin saat ini Papa tidak berani bertemu dengan yang lain saking malunya."
Semua terdiam, Papa sangat serius saat ini.
"Papa yang menyuruh Cherry untuk tetap menerima Rayn sebagai suaminya karena memang mereka sudah terikat janji suci. Dan untuk kedepannya, Papa akan pikirkan nanti. Saat ini kita semua harus bersikap dewasa, singkirkan dulu ego masing-masing, setelah itu kita akan membicarakannya lagi setelah acara makan malam ini selesai." Papa menjelaskan panjang lebar.
Semua masih terdiam, Cherry berusaha membantu Rayn berdiri dan merapikan penampilannya. Sesekali dia melirik Reyn, banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan padanya. Namun, dia menyadari jika ini bukan waktu yang tepat.
"Ya sudah, ayo kita kembali. Kasian para tamu sudah menunggu dari tadi." Mama berusaha membuat keadaan menjadi tenang. "Rapikan bajumu Reyn, berpura-puralah jadi Rayn untuk malam ini, demi nama baik keluarga kita."
__ADS_1
Reyn terpaksa menuruti keputusan sang Papa dan juga Mama sebagai bentuk rasa bersalahnya. Dia terus menerus menatap Cherry dan Rayn yang terlihat mesra. Dia semakin cemburu melihat semua itu.
"Cherry... Maafkan aku, seharusnya aku yang saat ini berada di sampingmu." Batin Reyn.
Mereka semua kembali ke tempat di mana acara makan malam berlangsung. Semua tersenyum tak terkecuali Reyn. Reyn harus berpura-pura tersenyum ramah dan menyapa seluruh rekan kerja dan temannya seolah-olah mereka tidak saling mengenali.
Kini saatnya untuk sambutan dari berbagai pihak.
Beberapa orang memberikan kesan dan pesan untuk kedua mempelai. Tibalah giliran Reyn yang harus memberikan sambutan. Dia bingung harus berkata apa. Apa yang diketahui Rayn tentang dirinya dan Cherry? Selama ini Reyn tidak pernah bercerita tentang wanitanya itu padanya.
"Para hadirin yang saya hormati, terimakasih atas kehadirannya pada malam ini, terimakasih telah memberikan selamat pada saudaraku dan saudara...iparku," Reyn melirik Cherry
"Saya sangat bahagia ketika mendengar mereka akan melangsungkan pernikahan. Saya mengenal Cherry dengan baik, dia wanita yang cantik dan juga baik...."
Reyn menatap Cherry, Cherry membalas tatapannya.
"Semoga Reyn dan Cherry bahagia sampai maut memisahkan." Reyn mengakhiri sambutannya.
Seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Mereka mengira jika yang telah berbicara tersebut adalah saudara kembarnya Reyn yaitu Rayn. Mereka tidak dapat membedakannya keduanya, begitu pun keluarga Cherry. Seluruh hadirin yang hadir telah tertipu olehnya.
Papa tersenyum bahagia setelah mendengar sambutan Reyn. Dia takut Reyn akan menghancurkan acara malam ini karena egonya yang tinggi. Banyak rekan bisnis sang Papa yang diundang pada acara tersebut. Dan tidak terbayangkan olehnya jika acara malam ini hancur karena ulah anaknya itu.
Tiba di akhir acara, para tamu undangan satu per satu berpamitan pada kedua mempelai juga pada keluarga mereka. Begitu pun keluarga Cherry yang harus pulang malam itu juga karena pada pagi harinya ayahnya memiliki urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
Keluarga Cherry berpamitan, ibunya memeluk erat Cherry dan berpesan supaya menjadi anak yang berbakti pada suami apa pun yang terjadi. Dan juga, ibunya mengingatkan pada Cherry, jika mereka memiliki masalah, selalu ingat akan janji suci mereka, ibunya tidak ingin mendengar kata cerai di antara mereka.
Sungguh permintaan yang sulit, karena saat ini juga Cherry sangat ingin bercerai dengan Rayn dan lari ke pelukan Reyn, lelaki yang dicintainya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1