Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Masalah Reuni


__ADS_3

Rayn menghela napas panjang. Ia tidak bisa memutuskan sepihak mengenai masalah ini. Ia juga tidak ingin memutuskan secara terburu-buru, dan tidak ingin salah mengambil langkah.


“Berikanlah aku waktu untuk menjawabnya. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang karena aku tidak ingin salah mengambil langkah. Aku tahu, kamu juga tidak ingin salah mengambil langkah, dan aku juga tahu pasti kamu juga memerlukan waktu untuk mengambil keputusan yang besar ini, bukan?” ujar Rayn, membuat Cherry semakin memandangnya bingung.


Cherry mengangguk, “Baiklah, kita akan sama-sama memberikan waktu untuk kita mengambil keputusan. Aku tidak bisa memikirkan ini. Aku mengakui bahwa aku juga membutuhkan waktu untuk berpikir. Kita lihat saja nanti, bagaimana semesta bekerja untuk kita,” ujar Cherry yang mendapat anggukan dari Rayn.


Sejenak mereka melupakan permasalahan kali ini. Namun, mereka bingung dengan apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


“Baiklah, sekarang apa yang ingin kau lakukan?” tanya Rayn.


Cherry tiba-tiba saja teringat dengan undangan reunian antar kelas di kampus mereka. Mereka mengundangnya untuk datang bersama dengan Reynald, karena Cherry dan Reynald adalah teman satu angkatan waktu mereka kuliah di sebuah kampus. Beberapa dari mereka pun sudah mengetahui, berita tentang pernikahan Cherry dan Reynald, yang sudah digelar beberapa bulan lalu.


Undangan itu tiba-tiba saja datang dari temannya yang bernama Cahaya, yang saat ini baru saja muncul kembali memberikan kabar padanya. Selama ini mereka hilang kontak, sampai tidak bisa bertukar kabar. Namun, baru saja bertukar kabar, Cahaya sudah mengatakan hal seperti ini dan mengundang Cherry untuk datang ke pertemuan mereka.


Namun jika dipikir kembali, Cherry merasa sangat bingung. Ia tidak mungkin membawa Reynald bersamanya, dan tidak mungkin juga ia membawa Rayn bersamanya. Hal itu karena Rayn sama sekali tidak mengerti seluk-beluk kampus, dan juga teman-teman mereka.


Bagai buah simalakama, Cherry mengerti Rayn tidak akan pernah mengizinkan Reynald untuk datang bersama dengannya, ke tempat reuni tersebut.


Cherry menunduk, “Tidak ada yang akan aku lakukan,” jawabnya yang pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk tidak mengatakan hal ini kepada Rayn.


Namun Rayn sangat tahu, apa yang sekarang tengah dirasakan Cherry. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Cherry, sehingga ia tidak bisa mengatakan dengan benar apa yang sebenarnya sedang ia tahan.


Karena Rayn yang mengerti dengan keadaan Cherry saat ini, ia pun hanya diam walaupun ia mengerti pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Cherry. Rayn pun bangkit dari pinggir ranjang dan berdiri di hadapan Cherry.


“Aku ingin mandi sekarang. Jika ada yang ingin kamu katakan, katakanlah setelah aku mandi,” ujar Rayn, membuat Cherry memandangnya dengan bingung.

__ADS_1


Rayn pun benar-benar pergi setelah mengambil sebuah handuk, dan masuk ke dalam toilet untuk membilas tubuhnya, yang sudah terasa lengket. Sementara itu, rasa bimbang mengusik pikiran Cherry. Ia benar-benar tidak bisa mengatakan hal ini kepada Rayn, karena ia yakin Rayn tidak akan pernah mengizinkannya untuk melakukan hal ini.


‘Aku tidak mungkin datang ke tempat reuni bersama dengan Rayn. Dia pasti tidak akan mengenal teman-temanku, dan akan menjadi rancu nantinya. Tapi aku juga tidak mungkin datang bersama dengan Reynald. Pasti Rayn tidak akan pernah mengizinkan aku pergi bersama dengannya,’ batin Cherry, yang merasa bingung kalau masalah kali ini.


Cherry menghela napasnya panjang, “Apa aku tidak datang saja ke pertemuan kali ini?” gumamnya, merasa itu adalah jalan satu-satunya yang paling tepat yang harus ia ambil.


Handphone-nya berdering, ia melihat sebuah nama yang tertera pada layar teleponnya. Dengan segera ia menerima telepon tersebut, yang ternyata adalah dari temannya yaitu Cahaya.


“Halo?” sapa Cherry dengan ramah.


“Halo, Cherry! Bagaimana tentang pertemuan kali ini? Apakah kau sudah siap?” tanya Cahaya.


Cherry benar-benar bingung harus bagaimana menolak dan mengatakan, kalau ia tidak bisa hadir dalam pertemuan itu. Sejenak ia hanya diam tak mengatakan apa pun.


Cahaya menunggunya dengan sabar, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Cherry.


“Mmm ... mungkin aku tidak akan hadir pada pertemuan kali ini, Cahaya. Kau duluan saja dengan yang lainnya,” ujar Cherry, membuat Cahaya merasa sedih mendengarnya.


“Yah ... kenapa kau tidak hadir? Aku sangat menunggu kedatangan kamu, setelah sekian lama kita tidak bertukar kabar dan tidak pernah bertemu! Aku jadi rindu kepadamu. Aku benar-benar ingin kau datang. Aku mohon, datanglah,” ujar Cahaya memohon kepada Cherry, membuat Cherry merasa sangat bimbang.


“Sebenarnya aku tidak bisa datang, Cahaya. Aku tidak bisa datang dan benar-benar tidak bisa melakukannya,” tolak Cherry lagi tetapi Cahaya tidak kehabisan akal untuk merayunya.


“Aku benar-benar merindukanmu, Cherry. Haruskah aku menjemputmu ke rumahmu?” tanyanya.


Mendengar ucapan Cahaya, Cherry pun menjadi bimbang. Ia terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban yang pas, yang akan ia katakan kepada Cahaya.

__ADS_1


Karena terlalu lama berpikir, Cahaya pun menjadi bingung. “Cherry, apa kau masih di sana?” tanyanya.


Cherry pun terkesiap, “Ah, ya ... aku masih di sini,” jawabnya dengan bingung.


“Baiklah, bagaimana? Aku akan menjemputmu nanti. Jika kau ingin pergi bersama tapi harus datang bersama Reynald, ya!” ujarnya, sontak membuat Cherry merasa semakin bingung mendengarnya.


‘Kalau seperti itu sih ... sama saja,” batin Cherry, yang padahal enggan untuk datang karena permasalahan itu.


Terdengar suara Rayn yang sedang membuka pintu kamar mandi, karena sudah selesai melakukan aktivitasnya. Ia pun keluar sembari menggosokkan handuk kecil pada rambutnya, membuat Cherry sedikit terkejut melihatnya.


Mereka sejenak saling pandang, sampai Rayn pun tahu saat ini Cherry sedang menghubungi seseorang melalui handphone-nya.


Karena pandangan mereka yang saling bertemu tanpa mengatakan sepatah kata pun, Cherry pun mengambil sikap.


“Cahaya, nanti aku hubungi kamu lagi, ya. Aku ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan sekarang,” pamit Cherry, yang ingin sekali segera mengakhiri sambungan telepon mereka.


“Lalu, bagaimana dengan pertemuan nanti malam?” tanya Cahaya, yang masih menagih saja agar Cherry bisa datang ke pertemuan nanti malam.


“Nanti aku diskusikan dulu dengan Reynald,” jawab Cherry sembari memandang bingung ke arah Rayn yang ada di hadapannya.


Agak sedikit terkejut Rayn mendengar ucapan Cherry, karena ada hal yang ingin ia diskusikan kepada Reynald. Namun, ia masih menghormati Cherry dan tetap diam sampai Cherry selesai menghubungi temannya itu.


“Baiklah sampai jumpa nanti malam,” ujar Cahaya.


“Baiklah, sampai jumpa.”

__ADS_1


Cherry mengakhiri teleponnya bersama dengan Cahaya, lalu segera menyimpan handphone-nya di atas ranjang tidurnya.


Mereka pun sejenak saling pandang, dan terlihat wajah bingung pada raut wajah Rayn.


__ADS_2