
Sejenak Rayn memandangi wajah Cherry yang polos, tanpa polesan make up sedikit pun. Ia merasa sangat senang melihat wajah Cherry yang terlihat putih bersih. Walaupun ia sudah lama menjalin hubungan dengan Syerlin, bahkan Syerlin sama sekali tidak pernah menunjukkan wajah tanpa make up yang ia miliki.
“Bahkan Syerlin pun tidak pernah menunjukkan wajah polosnya di hadapanku,” gumam Rayn, yang merasa sangat beruntung bisa melihat wajah asli dari istrinya itu.
Namun, hati dan perasaannya tidak sejalur dengan logika. Ia merasa dirinya tidak bisa melakukan hal yang melebihi apa yang sudah ia lakukan dengan Cherry saat ini. Dirinya saat ini, hanyalah sekadar suami pena dari Cherry, yang tidak memiliki hak penuh atas Cherry.
Tangannya membelai lembut wajah Cherry, “Aku tidak tahu kenapa. Bersamamu, hatiku hancur. Tidak bersamamu apalagi. Tidak ada bedanya,” gumamnya, yang merasa bingung harus berbuat apa.
Cherry tiba-tiba saja membuka matanya, membuat Rayn mendelik kaget melihat Cherry yang melakukan hal seperti itu.
“Ah ... kenapa kau mengagetkanku?” tanya Rayn, berusaha menahan rasa terkejutnya itu di hadapan Cherry.
Air mata Cherry seketika mengalir deras, membuat Rayn bingung melihat keadaannya saat ini.
“Eh, kenapa kau menangis? Ada apa?” tanya Rayn, membuat Cherry segera memeluk Rayn dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Rayn.
Rayn semakin terkejut, dan ia pun memberontak dengan apa yang Cherry lakukan. Namun, Cherry berusaha menahan tubuh Rayn, agar tidak lepas dari pelukannya.
“Kumohon, jangan lepaskan. Sebentar saja ....” Cherry memohon agar Rayn terus memeluknya.
Rayn yang bingung, hanya bisa mengikuti apa yang Cherry inginkan.
Sejenak mereka saling memeluk satu sama lain, membuat tangisan Cherry semakin mengalir dengan derasnya. Rayn tak bisa melakukan apa pun, karena saat ini Cherry yang sedang tidak bisa disenggol sedikit pun.
“Rayn,” panggil Cherry, membuat Rayn tersenyum tipis mendengarnya.
__ADS_1
“Kau tahu ini aku?” tanya Rayn, Cherry mengangguk kecil mendengarnya. “Kenapa kau tidak berpikir aku Reyn?” tanyanya lagi, Cherry memandangnya dengan dalam.
“Reyn tidak mungkin masuk ke dalam kamar ini, ketika kau tidak ada,” jawab Cherry, membuat Rayn menghela napasnya dengan panjang.
“Bagaimana kau bisa tahu? Apa jaminanmu kalau Reynald tidak akan melakukan hal itu, ketika aku tidak ada?” tanya Rayn.
“Aku tahu, aku bisa menjamin. Reynald tidak akan seperti itu,” ujar Cherry, yang bisa meyakinkan hal ini kepada Rayn.
Mendengar Cherry yang mengatakan hal seperti itu, Rayn pun mendadak terdiam. Ia tidak mengerti dengan perasaannya, dan juga ia tidak mengerti arti dari ucapan Cherry itu. Apalagi tentang pelukan ini. Ia benar-benar tidak mengerti semua hal itu.
“Jangan membuat aku jadi salah sangka dengan pelukan ini. Aku hanyalah suami penamu saja,” ujar Rayn, Cherry memandangnya dengan sinis.
“Memangnya aku tidak boleh memeluk suamiku?” tanya Cherry sinis, Rayn terdiam mendengarnya.
“Suami pena?” tanya Rayn, menegaskan arti dirinya di hadapan Cherry.
Situasi yang sulit, karena Cherry juga memang tidak berniat untuk bercerai dengan Rayn. Ia tidak bisa melakukan itu, apalagi saat ini ketika ia sudah mengandung anaknya. Ia semakin tidak bisa saja menceraikan Rayn.
“Apa kau salah paham?” tanya Cherry, bingung dengan keadaan yang Rayn pikirkan.
“Ya, salah paham sekali. Kau melakukan ini padaku, sementara di luar masih ada lelaki yang mencintaimu, sedang menunggumu dan masih banyak berharap padamu. Apa kau tidak ingin menjelaskan pada salah satu dari kami, tentang kecondonganmu? Kau lebih memilih yang mana?” Rayn berkata demikian, membuat Cherry semakin bingung mendengarnya.
Perkataan Rayn padanya menjadi beban pikiran untuknya. Cherry berusaha untuk menafikan semuanya, tetapi ia tidak bisa. Ia lagi-lagi terpikir tentang masalah ini. Padahal sejak Rayn meninggalkannya tadi, ia sudah berusaha keras untuk melupakan beban pikiran itu, sampai ia tertidur sejenak.
Namun, sedikit ucapan Rayn saja sudah membuatnya terpikir kembali dengan permasalahan di antara mereka. Cherry gagal menepiskan semuanya, membuatnya harus mengulang semua terapi dari awal kembali.
__ADS_1
Rayn tersenyum tipis, “Tolong, jangan permainkan aku. Jika kau tidak bisa melakukannya, minimal jangan permainkan pernikahan ini,” ujarnya, sontak membuat Cherry mendelik mendengarnya.
Dalam hati kecil Cherry, ia memang tidak berniat untuk mempermainkan pernikahan ini. Sejak awal memang keadaannya sudah salah, dan akan terus salah sampai akhir. Namun, Cherry berulang kali berusaha untuk berdamai dengan takdirnya, tetapi ia memang masih memerlukan waktu untuk bisa melakukannya.
“Apa maksudmu? Kau saja masih mencintai Syerlin, kenapa malah menuduhku untuk mempermainkan perasaanmu dan juga pernikahan ini?” tanya sinis Cherry, Rayn memandangnya dengan dalam.
“Aku tidak perlu mengatakan apa pun tentang Syerlin. Kau pasti bisa menilainya sendiri,” ujar Rayn, Cherry semakin memandangnya dengan sinis.
“Aku tidak tahu apa pun!” bentak Cherry, Rayn menghela napasnya dengan panjang.
“Aku sama sekali sudah tidak mencintai Syerlin.” Rayn menjawab demikian, membuat Cherry memandangnya dengan rasa penuh harap.
‘Apa benar yang dia katakan? Dia sudah tidak mencintai Syerlin?’ batin Cherry, yang masih belum percaya dengan apa yang Rayn katakan.
“Memangnya kenapa? Syerlin cantik, segala hal baik ada padanya. Apa yang membuatmu sampai sudah tidak mencintainya lagi?” tanya Cherry, penasaran perasaan yang Rayn rasakan saat ini.
“Kau bertanya padaku, atas apa yang sudah kau ketahui,” ujar Rayn, membuat Cherry terdiam.
Semua ucapan ini membuatnya tidak bisa berpikir. Ia masih tetap menginginkan jawaban langsung dari mulut Rayn.
“Aku tidak tahu! Aku bukan cenayang!” bentak Cherry lagi, Rayn hanya bisa memandangnya dengan datar.
Sejenak mereka saling memandang satu sama lain, dengan posisi yang masih saling berpelukan. Pelukan hangat itu membuat Rayn merasa nyaman, lalu Rayn dengan lembut mencium bibir Cherry sejenak, membuat Cherry mendelik dengan wajah yang memerah karena malu.
“Aku sudah tidak mencintai Syerlin, karena dirimu,” ujar Rayn, membuat wajah Cherry semakin memerah dan semakin bertambah malu.
__ADS_1
Mereka terdiam sejenak, dengan Rayn yang masih setia memandang wajah Cherry yang memerah itu. Cherry tidak menyangka, dirinya ternyata bisa membuat Rayn menyukainya. Sementara itu, walaupun Rayn masih belum mengerti tentang mereka, setidaknya ia sudah paham kenapa dirinya sudah tidak mencintai Syerlin lagi.
Itu semua karena ia sudah mengalihkan cintanya pada Cherry.