
Para wanita itu lagi dan lagi menuangkan minuman ke dalam gelas Rayn dan Reynald. Mereka akan menemani Rayn dan Reynald sampai mereka kehilangan kesadaran. Itulah tugas mereka.
“Apa hak kamu? Cherry awalnya adalah milikku! Kau tidak perlu ikut campur dengan apa yang aku lakukan!” bentak Reynald, membuat Rayn mulai kesal mendengarnya.
Rayn menenggak kembali gelas keduanya, diikuti oleh Reynald. Rasa panas di tenggorokan membuat mereka sedikit memejamkan matanya, karena rasa dari alkohol itu yang sangat menyengat.
Rayn memandangnya sinis, “Apa hakku? Kau bertanya apa hakku atas Cherry?” tanya balik Rayn, membuat Reynald menyunggingkan senyumannya, lalu menuang kembali alkohol pada gelas ketiganya.
Melihat mereka yang meminum alkohol secepat itu, Amar pun agak khawatir dengan keadaan mereka. Ia jadi tidak berani menyentuh satu gelas pun, khawatir terjadi sesuatu di antara mereka, yang bisa membuat kekacauan. Ia harus bisa menghandle semuanya, agar mereka tidak sama-sama membuat masalah di tempat orang lain.
“Silakan dinikmati,” ujar salah satu wanita itu kepada Amar, membuat Amar tersadar dan mengangguk tersenyum mendengarnya.
“Terima kasih, aku tidak minum dulu,” tolak Amar, berusaha menolak mereka dengan halus.
Reynald memandang dengan tatapan yang sudah setengah teler. “Kau hanya suami di pena Cherry saja. Yang ada di hatinya, ya tetaplah aku!” ujarnya, lalu segera menenggak gelas ketiganya, diikuti oleh Rayn.
“Huh, suami pena? Aku sudah menanamkan benihku pada rahimnya, jangan kau pikir hal itu bisa melepaskan ikatan kami!” bentak Rayn, membuat Reynald memandangnya dengan sinis.
“Kamu hanya merampas Cherry dariku saja. Cherry mengandung dari benihmu pun hanya sebuah kecelakaan. Wajahku dan wajahmu mirip, aku tidak peduli soal anak yang Cherry kandung. Yang aku pedulikan hanya Cherry, dan aku akan membahagiakan Cherry nantinya. Soal anak itu, kau boleh mengambilnya jika sudah waktunya tiba,” ujar Reynald dengan mudahnya, mengatakan hal demikian di hadapan Rayn.
Hal itu sontak memicu amarah bagi Rayn. Ia tidak terima, ketika Reynald mengatakan hal itu di hadapannya.
“Aku tidak terima jika kau mengatakan hal itu! Ini semua kesalahanmu, karena kau tidak datang ke acara pernikahanmu sendiri! Kau tidak bisa menyalahkanku atas hal ini!” bentak Rayn, yang amarahnya sudah terpicu saat ini.
Mendengar bentakan Rayn, Reynald pun tak terima dengan hal itu. Ia memandang sinis ke arah Rayn, berusaha mencari balasan yang sesuai dengan keadaan yang terjadi.
__ADS_1
“Ya, ini semua memang salahku. Terlepas dari tidak menerima, aku juga sangat tidak menerima semua ini terjadi pada kalian. Harunya aku yang bersama Cherry sekarang. Maka dari itu, aku akan menebus semua kesalahanku, dengan cara menikahi Syerlin! Aku akan melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan pada Cherry, dan membuat Syerlin mengandung benihku! Aku baru akan tenang, jika aku benar-benar melakukan hal itu padanya!” ungkap Reynald, sontak membuat Rayn mendelik tak terima dengan apa yang Reynald katakan.
“Kurang ajar kau!” bentak Rayn, yang lalu segera menghajar wajah Reyn dengan sangat keras.
Efek alkohol itu membuat mereka tidak bisa mengendalikan diri mereka saat ini. Beruntung Amar sigap untuk melerai mereka, sehingga perkelahian itu setidaknya bisa sedikit dikondisikan.
“Sudah, tenanglah kalian! Jangan seperti anak kecil di tempat umum seperti ini!” bentak Amar, yang berusaha untuk melerai mereka.
Karena tak terima dihajar oleh Rayn, Reynald pun segera melawannya kembali. Mereka enggan untuk dipisahkan, membuat Amar sampai kewalahan karenanya. Para satpam pun bergegas masuk ke dalam ruangan, berusaha untuk memisahkan mereka. Namun, mereka tidak bisa dipisahkan dengan mudah, karena mereka yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol, semakin membuat tenaga mereka semakin besar.
“Tolong bantu aku memisahkan!” teriak Amar, berusaha tetap untuk melerai mereka dan menghalangi mereka menyakiti satu sama lain.
“Mati saja kau sana ke neraka!” bentak Rayn, yang tidak ada habisnya menghajar kakaknya sampai babak belur seperti itu.
Akhirnya, karena kerja keras mereka untuk memisahkan keduanya, mereka pun berhasil melakukannya. Keduanya berhasil dipisahkan, dan dibawa ke ruang monitor satpam di bar tersebut.
Ketika hendak dibawa ke ruangan monitor satpam, Amar menolak. Ia menghentikan laju mereka berjalan.
“Tolong, biarkan aku membawa mereka kembali. Sepertinya mereka sudah tidak melakukan perlawanan,” ujar Amar.
“Baiklah, tolong urus mereka.”
Para petugas keamanan pun menyerahkan mereka pada Amar, membuat Amar dengan cepat merangkul mereka untuk masuk ke dalam mobil yang mereka kemudikan saat datang ke tempat ini.
Beruntung Amar sudah mengetahui kejadiannya akan seperti ini. Ia antisipasi dengan tidak membawa kendaraan, dan datang hanya menggunakan taksi online saja.
__ADS_1
Amar pun mengantarkan mereka kembali ke rumah, dengan perasaan yang sangat bingung. Entah apa yang terjadi di antara mereka, ia tidak tahu. Ia hanya mendengar sekelibat saja, tentang hal yang terjadi dengan mereka.
Sebelumnya Amar juga sudah melakukan hal ini, dengan mendengarkan curhatan dari Rayn. Namun, sepanjang mereka bersama, Rayn sama sekali tidak berbicara mengenai hal ini. Ia hanya mengucapkan nama Syerlin sepanjang ia mengalami mabuk, dan tidak mengatakan hal apa pun lagi selain nama Syerlin.
Setelah beberapa saat, Amar sudah sampai di rumah kediaman mereka. Ia menurunkan mereka, dan menuntun sampai di depan gerbang rumah mereka. Beruntung ada seorang petugas keamanan yang masih berjaga, dan membukakan mereka pintu. Amar menyerahkan mereka pada petugas itu, dan petugas itu pun segera membawa Rayn dan Reynald masuk ke dalam rumah mereka.
Dengan kesadaran yang masih tersisa, mereka melepaskan diri dari tubuh sang petugas.
“Aku bisa jalan sendiri!” ujar Reynald dengan ketus, begitupun Rayn.
“Ya, aku juga bisa jalan sendiri!” sahut Rayn, membuat sang petugas melepaskan tangannya dari mereka.
Mereka sama-sama melangkah menuju ke arah kamar Cherry. Walaupun saling sikut, mereka pun akhirnya tiba di kamar tempat Cherry tertidur lelap.
“Kembali ke kamarmu!” bentak Rayn, kesal dengan Reynald yang juga hendak masuk ke dalam kamarnya.
“Jangan berisik! Kau membangunkan Cherry!” bentak balik Reynald, yang tak menghiraukan ucapan Rayn.
Mereka sama-sama masuk ke dalam kamar, dan menghempaskan diri mereka di atas ranjang. Mereka mengapit Cherry yang sedang tertidur pulas, dan sama-sama memeluk Cherry dengan posisi mereka masing-masing.
Entah apa yang terjadi di antara keduanya, mereka sama-sama tidak bisa kehilangan sosok Cherry di dalam hidup mereka.
Semesta memberikan mereka ruang, untuk membiarkan Cherry mengisi ruangan tersebut di hati mereka.
BERSAMBUNG....
__ADS_1