
‘Dia gak buruk juga,’ batin Cherry, yang mulai melantur dalam berpikir.
Setelah mengambil handphone Cherry, Rayn pun langsung menyodorkannya ke arah Cherry, membuat Cherry menerimanya dengan baik.
“Terima kasih,” ucap Cherry, membuat Rayn memandangnya dengan sedikit sinis.
Hal itu rupanya disadari Cherry, sehingga membuatnya memandang kembali Rayn dengan bingung.
“Ada apa lagi?” tanya Cherry, Rayn memeluk Cherry dari belakang, dengan posisi yang sama.
“Hanya makasih saja?” tanya Rayn, membuat Cherry bingung mendengarnya.
Karena terlalu lama Cherry menerima telepon itu, akhirnya deringnya berhenti, tetapi tatapan mereka dari arah cermin masih terlihat sangat tajam.
“Tidak ada panggilan apa pun setelah terima kasih?” tanya Rayn, Cherry memandangnya dengan tatapan aneh.
“Terima kasih, Rayn ....” Cherry mengatakan hal itu dengan nada polosnya, membuat Rayn mendadak memandang Cherry dengan datar, lalu kemudian melepaskan pelukannya dari Cherry.
“Terserah kau saja, lah!” gerutu Rayn, tetapi Cherry tidak ingin meneruskannya.
Cherry melihat ke arah layar handphone-nya. Di sana tertera nama Cahaya, yang ternyata sudah menelponnya kembali. Karena tidak terangkat oleh Cherry, ia pun akhirnya menghubungi kembali Cahaya.
Beberapa saat menunggu, ia tidak mendapati jawaban dari Cahaya. Cherry pun hanya memandang bingung ke arah layar handpone-nya saja.
“Cahaya balas dendam padaku, ya? Kenapa tidak diangkat?” gerutu Cherry, yang merasa kesal dengan keadaan ini.
“Mungkin dia menerima telepon yang lain dulu,” celetuk Rayn, yang masih dalam keadaan tidak memandang ke arah Cherry.
Cherry tersadar, lalu segera memandang bingung ke arah Rayn.
“Kamu kenapa, Rayn?” tanya Cherry, membuat Rayn memandangnya datar.
“I’m okay,” ujar Rayn, dan mereka pun hanya saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Handphone Cherry kembali berdering, dan ternyata Cahaya kembali menghubunginya. Cherry pun mengangkat telepon dari Cahaya, dan memulai perbincangan mereka bersama.
“Halo, Cahaya. Ada apa?” tanya Cherry.
“Halo Cherry, apakah jadi ikut pertemuan kali ini?” tanyanya balik.
“Ya, aku jadi ikut pertemuan kali ini. Nanti kamu tunggu di mana? Aku malu jika harus datang sendirian,” ujar Cherry, membuat Cahaya bingung mendengarnya.
“Lho memangnya kamu tidak datang bersama dengan Reynald? Ke mana Reynald? Datanglah bersama dia!” suruh Cahaya, membuat Cherry bingung mendengarnya.
Cherry melirik ke arah Rayn, membuat Rayn memeluknya dari belakang. “Oh ya, aku pasti datang dengan Reynald, tapi ... aku malu saja jika datang berdua bersama Reynald. Aku ingin kamu menemani aku di pertemuan nanti, agar aku tidak terlalu malu,” ujar Cherry berkilah di hadapan Cahaya.
Saat Cherry dan Cahaya sedang berbincang, Rain pun memanfaatkan kesempatan ini untuk memeluk Cherry dari belakang. Karena Cherry yang sedang berfokus kepada Cahaya, ia jadi setengah tidak menghiraukan apa yang Rayn lakukan padanya.
Rayn terus memeluk Cherry, sampai akhirnya ia pun tersenyum sendiri menyadari perasaan nyaman yang ia rasakan, ketika memeluk Cherry.
‘Ternyata benar apa kata orang, kalau seseorang sedang menghubungi orang lain di telepon, dia tidak akan terlalu berfokus kepada kita. Jadi aku bisa melakukan apa pun terhadap Cherry sekarang,’ batin Rayn, membuatnya sedikit menyunggingkan senyumnya.
Cherry memang menyadari apa yang Rayn lakukan padanya, tetapi ia tidak bisa membagi perhatiannya kepada dua hal yang berbeda sekaligus. Jadi ia hanya diam sembari tetap berfokus berbincang dengan Cahaya saja.
“Iya, kamu tunggu di mana? Biar nanti kita bisa ketemu langsung,” tanya Cherry.
“Mungkin nanti aku tunggu di parkiran aja kali ya? Nanti aku telepon deh kalau aku sudah sampai di parkiran itu,” jawabnya membuat Cherry tersenyum mendengarnya.
“Oke deh! Nanti lagi ya, aku mau siap-siap dulu,” ujar Cherry.
“Oke deh, aku tunggu ya!” ujar Cahaya, yang lalu mengakhiri hubungan telepon dengan Cherry.
Ketika sudah selesai menghubungi Cahaya, Cherry pun memandang ke arah Rayn yang saat ini langsung melepaskan pelukannya darinya.
Pandangan mereka bertemu satu sama lain, membuat Rayn memandangnya dengan senyuman miliknya yang khas.
“Ada apa, Sayang?” tanya Rayn, membuat Cherry semakin malu mendengarnya.
__ADS_1
Cherry tidak mengerti dengan sikap Rayn saat ini. Rayn menjadi sangat manja terhadapnya, sehingga membuat Cherry merasa aneh sendiri dengan perlakuannya.
‘Kok aku jadi merasa aneh ya, saat Rayn yang melakukan hal yang romantis seperti itu? Kita memang suami istri, tapi untuk melakukan hal yang romantis seperti itu ... kita belum pernah melakukannya,’ batin Cherry yang merasa ada yang aneh dengan sikap Rayn padanya.
Karena Rayn sudah melihat isi percakapan antara Cherry dan juga Reynald, dia jadi mengerti apa yang ingin Cherry rasakan, ketika sudah menikah bersama dengan Reynald. Rayn berusaha untuk mengabulkan apa yang Cherry inginkan. Di samping itu, Rayn juga sangat menyukai aktivitasnya untuk memanjakan Cherry ini.
‘Entah kenapa aku jadi suka membacakan dirinya sekarang. Rasanya senang saja, karena aku bisa memanjakannya seperti ini. Serasa seperti suami istri yang sungguhan,’ batin Rayn, merasa sedikit senang melakukannya terhadap Cherry.
“Udah, yuk! Kita makan. Pasti kita udah ditungguin sama yang lain di bawah!” ajak Cherry, membuat Rayn tersenyum senang mendengarnya.
“Oke deh,” ujar Rayn dengan patuh.
Ketika mereka bangkit, Rayn teringat dengan rambut Cherry yang masih basah itu.
“Hey, kamu mau ke bawah dengan rambut yang basah seperti itu?” tanya Rayn, membuat Cherry tersadar dengan rambutnya itu.
“Ya ampun ... aku lupa! Aku akan mengeringkannya! Kamu ke bawah duluan aja,” ujar Cherry, yang dengan ribet langsung mengambil alat pengering rambut tersebut.
Mendengar ucapan Cherry, Rayn pun sama sekali tidak ingin melakukannya. Ia hanya memandang ke arah Cherry saja, yang saat ini sedang ribet melakukan sesuatu, untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
“Aku akan di sini,” ujar Rayn, Cherry hanya bisa diam sembari melanjutkan apa yang menjadi pekerjaannya saat ini.
Setelah menunggu 10 menit, Cherry pun akhirnya sudah selesai mengeringkan rambutnya. Ia memandnag ke arah Rayn, yang saat ini masih setia menunggunya di sekitarnya.
“Sudah selesai?” tanya Rayn, Cherry pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, sudah.”
“Ada lagi yang mau kau lakukan sebelum sarapan?” tanya Rayn, Cherry pun menggelengkan kepalanya, membuatnya bingung melihat respon Cherry. “Gak skin care-an atau make up gitu?” tanya Rayn lagi, merasa penasaran dengan rutinitas Cherry yang berbeda dari rutinitas Syerlin setiap harinya.
Cherry memandangnya bingung, “Lho, kok kamu tahu tentang skin care atau make up?” tanyanya heran.
“Jangan heran, Syerlin soalnya begitu tiap habis mandi,” jawab Rayn, membuat mata Cherry terbuka mendengarnya.
__ADS_1
‘Iya, aku bodoh banget. Bisa-bisanya aku mikir kalau Rayn itu sering melakukannya, atau mengetahui kebiasaanku sebelum hamil,’ batin Cherry, membuatnya merasa sedikit sedih mendengar jawaban dari Rayn.