Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Apa Kau Serius?


__ADS_3

Rayn kembali menghela napasnya, “Syerlin dan Cherry menduduki posisi yang berbeda di hatiku. Syerlin hanya aku anggap sebagai kekasih, berbeda dengan Cherry yang saat ini sudah memiliki ikatan batin denganku. Dia sudah mengandung anakku, sehingga aku tidak bisa begitu saja melepaskan Cherry dari hidupku. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh, yang terdiri dari aku, Cherry, dan juga anakku nanti. Aku hanya ingin itu saja, tapi kenapa semuanya tiba-tiba berbeda?” paparnya menjelaskan.


Rayn mencoba menjelaskan apa yang menjadi permasalahan baginya. Namun, Amar yang masih belum mengerti, hanya bisa memandanginya dengan tatapan bingung.


“Berbeda seperti apa yang kau maksudkan?” tanya Amar membuat Rayn kembali menghela napas panjang.


“Waktu itu dia ingin aku sentuh, bahkan dia malah memelukku dengan erat. Tapi hanya dalam waktu 1 detik saja, dia seketika berubah pikiran dan tidak ingin aku sentuh. Bahkan lebih memilih untuk membela Reynald daripada membelaku. Ia pun sampai hati mengucapkan kata cerai untukku, hanya karena aku menghajar Reynald saja. Dia langsung membuat keputusan untuk menceraikan. Entah apa yang dia pikirkan, tapi aku merasa ada sesuatu yang lain yang sedang ia pikirkan. Apa pun itu, aku tidak tahu pasti,” ujar Rayn, membuat Amar semakin memandangnya dengan dalam.


“Mungkin itu hanya hormon kehamilannya saja, yang memengaruhi emosinya. Apa kau sudah berbicara empat mata dengannya mengenai hal ini?” tanya Amar, Rayn pun menggelengkan kepalanya, karena ia memang belum berbicara dengan Cherry.


Rayn masih belum memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut.


Amar menghela napasnya, kemudian memandang ke arah Rayn dengan sinis. “Kau harusnya berbicara empat mata lebih dulu dengan dia. Jika kau benar-benar ingin mempertahankan rumah tanggamu, kau harus membicarakannya semaksimal mungkin. Walaupun aku belum berumah tangga, setidaknya aku tahu apa yang harus kau lakukan. Karena aku memiliki rasionalitas tinggi, saat ini. Kau masih terpengaruh oleh emosi, sehingga kau tidak bisa mengambil keputusan saat ini," ujar Amar.


Rayn memandangnya dengan sendu, “Lantas, aku harus bagaimana sekarang?” tanyanya, yang meminta saran kepada sahabatnya itu.


Amar memandangnya dengan sinis, “Sebelum itu, apa kau sekarang sudah mabuk?” tanya Amar, memastikan lebih dulu keadaan Rayn.


“Hampir,” jawab Rayn, membuat Amar menghela napasnya panjang.


“Kau harus berbicara lebih dulu empat mata bersama dengan Cherry. Jika kau sudah berbicara empat mata, kau boleh mengambil keputusan. Yakinkanlah dulu dirimu, dan juga dirinya, agar kalian tidak salah mengambil langkah. Jangan sampai kalian salah mengambil langkah, karena kalau kalian salah mengambil langkah, itu akan menjadi sangat rumit. Sebagaimana kita tahu hubungan kalian saat ini adalah suami istri, dan bukan hubungan kekasih lagi. Kalian sudah sangat jauh, jika kalian memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Pikirkanlah masa depan anak kalian yang membutuhkan sosok ayah dan ibu yang lengkap. Jangan pikirkan ego kalian, tetapi pikirkanlah masa depan anak yang tidak bersalah itu,” ujar Amar yang dinilai ada benarnya juga bagi Rayn.

__ADS_1


Rayn pun menghela napas panjang, “Baiklah, aku akan coba melakukan semuanya demi anakku dan juga Cherry,” ujar Rayn, mengakhiri percakapan mereka saat ini.


“Ya sudah, jangan tambah minum lagi. Aku akan mengantarkanmu pulang dan meninggalkan mobilmu di rumahmu. Aku akan pulang menggunakan taksi online,” ujar Amar, Rayn pun mengangguk kecil mendengarnya.


Rayn terlihat mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk ia berikan kepada Amar. “Ini untuk ongkos taksi online,” ujar Rayn, membuat Amar memandangannya dengan datar.


Hal itu karena yang Rayn berikan adalah uang pecahan 1 dolar, sebanyak 3 lembar. Itu tidak akan cukup untuk ongkos naik taksi online, karena jarak rumah Amar ke bar ini cukup jauh. Apalagi saat ini adalah jam malam, sehingga mungkin saja tarif taksi online akan naik dari biasanya.


“Apa kau sekarang sedang meledekku?” bidik Amar, membuat Rayn kembali memandang ke arah uang yang ia sodorkan kepada Amar.


Rayn mengerjapkan matanya, karena merasa bingung dengan apa yang ia lakukan. Ia sadar jika ia memberikan 3 lembar uang pecahan 1 dolar, yang tentu saja tidak cukup untuk menyewa taksi online.


Rayn pun menyeringai kecil, karena ia sama sekali tidak memiliki uang cash saat ini.


“Tidak, kau sebenarnya sudah sadar. Tapi kau mau main-main denganku,” bantah Amar, Rayn pun tertawa kecil mendengarnya.


“Tidak, aku tidak main-main,” bantah Rayn, yang mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya. “Ini, kau pakai saja kartuku. Nanti pin-nya akan aku kirim lewat chat,” ujar Rayn, membuat Amar tersenyum mendengarnya.


“Apa kau serius?” tanyanya sambil meraih kartu yang Rayn berikan padanya, tetapi Rayn segera menarik kembali kartu tersebut, membuat Amar bingung.


“Aku serius, tapi ini hanya untuk membayar ongkos taksi saja,” ucap Rayn menegaskan, membuat Amar memandangnya dengan datar kembali.

__ADS_1


“Kenapa kau pelit sekali sih dengan teman?” tanya Amar, membuat Rayn kembali tertawa mendengarnya.


“Tidak, kau pakai saja sesuai dengan kebutuhan. Ingat, harus yang rasional!” ujar Rayn, membuat Amar kembali tersenyum mendengarnya.


“Terima kasih, sahabatku yang baik hati dan tidak sombong,” ujar Amar yang seperti saat sedang menjilat.


Rayn pun kembali memandangnya dengan sinis, “Sekali lagi, ingat ... harus yang rasional!” ujar Rayn kembali, untuk mengingatkan Amar.


“Siap, terima kasih!” ujar Amar.


Mereka pun kembali ke rumah mereka, dengan Amar yang mengantarkan Rayn lebih dulu ke rumahnya. Setelah itu, Amar pun langsung pulang menggunakan taksi online dan juga kartu yang Rayn berikan padanya tadi.


Dengan langkah yang sempoyongan, Rayn pun masuk ke dalam rumahnya yang saat ini tidak terkunci. Hal itu mempermudah langkahnya, agar tidak terlalu membuat kebisingan di dalam rumah.


Ketika hendak melangkah menuju ke arah tangga, Rayn tiba-tiba saja teringat dengan ucapan Cherry, yang memintanya untuk tidak tidur di dalam kamarnya saat ini.


Ia menepuk keningnya dengan cukup keras, “Aku lupa, aku tidak boleh tidur dengannya hari ini.”


Rayn pun menghela napasnya, kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa rumahnya. “Ya sudahlah, aku tidur di sini saja hari ini,” gumam Rayn, yang lalu segera memejamkan matanya tanpa membuka kemejanya lebih dulu.


Sementara itu, tak berapa lama kemudian, dari arah sana terlihat Cherry sedang melangkah turun dari kamarnya. Hal itu karena ia mendengar suara mobil Rayn, yang baru saja datang. Ia pun jadi terbangun karenanya.

__ADS_1


Cherry menuruni tangga perlahan, dan kini ia berdiri di hadapan Rayn saat ini, dengan selimut yang ia pegang di tangannya.


__ADS_2