
Namun, Cherry hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Ia masih berusaha untuk memikirkan semuanya, karena jujur saja Cherry masih sangat berat melepaskan Rayn dalam hidupnya.
“Aku tidak memikirkan yang lainnya. Aku tidak memedulikan yang lainnya. Aku hanya peduli tentangmu saja. Aku ingin kita bersama kembali seperti dulu. Aku yakin dan berjanji, tidak akan ada yang berubah setelah ini. Aku pastinya akan semakin mencintaimu dan akan segera melamarmu,” ujar Reynald, yang mencoba untuk memberikan harapan kepada Cherry.
Cherry memandangnya dengan senyuman, “Terima kasih, kamu sudah bersikap seperti ini di hadapanku. Terima kasih kalau kau masih ingin menungguku. Aku juga sudah tidak tahan lagi. Aku tidak ingin mempertahankan rumah tangga ini lagi,” ujar Cherry, membuat Reynald tersenyum sumringah mendengarnya.
“Baiklah, semoga semua ini cepat berlalu dan kau kembali lagi padaku,” ujar Reynald, membuat Cherry tersenyum kembali mendengarnya.
Mereka pun akhirnya menuruni mobil Reynald, dengan Reynald yang membantu Cherry untuk menuruni mobilnya itu. Ketika Cherry berhasil turun, tak sengaja ia berpapasan kembali dengan Rayn, yang baru sampai di sana. Rayn pun keluar dari dalam mobil yang ia kemudikan, lalu memandang ke arah Cherry dengan tatapan yang datar. Ia juga memandang ke arah Reynald, yang saat ini dengan bangganya sedang merangkul bahu Cherry, untuk membantunya berjalan.
“Lepaskan Cherry,” ucap Rayn, tiba-tiba membuat Cherry memandangnya dengan sinis.
“Apa hakmu? Kau tidak bisa menyuruh orang untuk mengikuti keinginanmu!” ujar Cherry dengan ketus, membuat Rayn memandang Cherry dengan tatapan yang dalam.
“Kau masih istriku, jangan lupakan status itu!” ujar Rayn, yang kemudian membuat Cherry terdiam sejenak mendengarnya.
Apa yang Rayn katakan memanglah benar. Cherry tidak seharusnya bergandeng mesra dengan lelaki lain, ketika ia masih berstatus sebagai istri dari Rayn.
Cherry pun akhirnya melepaskan tangan Reynald dari bahunya, membuat Reynald bingung dengan sikap aneh Cherry yang berbeda, ketika bertemu dengan Rayn kembali.
“Aku bisa berjalan sendiri, terima kasih sudah membantuku,” ucap Cherry membuat Reynald mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
Namun Renault tidak habis pikir dengan apa yang Rayn katakan pada Cherry itu. ‘Kenapa ketika bertemu dengan Rayn, sikapnya selalu berubah seperti itu? Apa yang dilakukan Rayn, sehingga membuatnya merasa sangat takut seperti itu?’ batin Reynald, yang merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara Rayn dan juga Cherry.
Namun untuk saat ini, ia hanya mengurungkan niatnya dan tidak mengatakan apa pun. Ia hanya membaca keadaan dan tidak ingin memperkeruh suasana di antara mereka.
“Biar aku bantu kau masuk ke dalam kamar,” ujar Rayn, tetapi Cherry pun menggeleng mendengarnya.
“Kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa berjalan sendiri ke ruangan kamarku. Oh ya, untuk malam ini, kau tidurlah di kamar lain. Aku tidak ingin melihatmu dulu,” ujar Cherry membuat Rayn merasa semakin sendu mendengarnya.
“Jangan seperti itu, Cherry. Aku tidak ingin kau memusuhiku, hanya karena hal seperti ini. Aku tidak ingin ada kata cerai di antara kita. Aku ingin kau memikirkannya baik-baik, sebelum kau melakukan hal tersebut,” ujar Rayn, yang merasa belum puas dengan jawaban yang Cherry berikan padanya.
Karena kondisi Cherry yang merasa lelah, ia pun tidak ingin mendebatkan masalah ini lagi dengan Rayn. Ia hanya bisa memandang Rayn dengan datar.
“Aku lelah, aku ingin beristirahat sekarang. Tolong hormati aku sedikit saja, kali ini ... saja. Aku minta tolong padamu untuk tidak menggangguku malam ini,” ujar Cherry yang lalu segera pergi meninggalkan Rayn di sana.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Rayn sinis, membuat Reynald semakin tersenyum saja mendengarnya.
“Aku tidak menertawakan apa pun. Mungkin kau salah lihat,” ujar Reynald, membuat Rayn merasa terpacu kembali untuk menghajar wajahnya itu.
“Aku masih belum puas untuk menghajarmu!” ujar Rayn, membuat Reynald berkacak pinggang di hadapannya.
“Jangan jumawa kamu, Rayn. Wajahmu saja terlihat sudah seperti babak belur seperti itu. Jika kau meneruskan menghajarku, aku tidak akan pernah berhenti untuk menghajarmu kembali,” ancam yang sama sekali tidak ditakuti oleh Rayn, justru Rayn sangat menantikan untuk mereka melakukan adegan baku hantam kembali.
__ADS_1
Rayn ingin menunjukkan pada Reynald, kalau dirinya juga bisa menghajar habis-habisan Reynald itu.
“Aku mengalah bukan kalah. Aku mengalah di hadapan Cherry, agar Cherry berpikir seolah-olah kaulah yang menghajarku. Dari situ saja kau sudah salah langkah, sehingga aku bisa mendapatkan simpatik Cherry,” ujar Reynald, membuat Rayn merasa tidak terima mendengarnya.
“Ke_parat ini!” gumam Rayn, yang merasa tidak habis pikir dengan apa yang Reynald pikirkan itu.
Reynald pun berbalik, “Sudahlah, nikmati saja kesendirianmu malam ini. Aku tidak akan mau berbagi kamar denganmu malam ini,” ujar Reynald, membuat Rayn meludah mendengarnya.
“Aku juga tidak sudi menumpang denganmu! Aku tidak sudi menumpang di kamar jelekmu itu!” bentak Rayn dengan sinis, membuat Reynald melangkah pergi dari hadapannya.
“Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Yang jelas, selamat menikmati kesendirian malam ini,” ledek Reynald, yang lalu segera pergi meninggalkan Rayn di sana sendiri.
Rayn pun merasa kesal karena ia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk malam ini. Ia menghela napasnya panjang, “Setidaknya aku harus melupakan kejadian malam ini untuk sementara,” gumam Rayn, yang lalu segera memesan taksi online untuk pergi ke bar yang ia janjikan dengan Amar.
***
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Cherry pun perlahan membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Karena tubuhnya yang sudah sangat membesar, ia harus memiringkan posisi tidurnya. Ia pun segera berbalik dan memiringkan tubuhnya, ke sebelah kiri. Posisi yang disarankan untuk ibu hamil, yang sudah memasuki trimester kedua. Ia merasa tubuhnya sudah sangat sesak, apalagi ditambah dengan beban permasalahan yang saat ini ia tanggung, semakin membuat sesak dadanya saja.
Ia pun memandang datar ke arah langit-langit kamarnya, dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Apa keputusan yang aku ambil sudah tepat? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa aku malah terlibat dengan Rayn lebih jauh dari yang aku bayangkan? Ketika aku sudah berusaha menerimanya, tetapi sekarang ini muncul permasalahan baru, yang membuat aku jadi bingung sendiri. Sebenarnya apa maksud Rayn menyatakan perasaannya padaku, bersamaan dengan dia yang ingin kembali bersama dengan Sherly?” gumam Cherry, yang merasa sangat bimbang, entah harus melakukan apa saat ini.
__ADS_1
Cherry terus menghela napasnya, karena ia merasa pakaiannya sudah terlalu sesak untuk ia kenakan, mengingat tubuhnya yang sudah semakin membesar.