
“Aku tidak bisa memaksakan kehendakmu tentang perasaanku ini. Aku juga masih harus memastikan dengan benar, karena aku tidak bisa asal mengatakan hal ini padamu. Ini semua aku katakan, karena aku sudah mulai menyukaimu,” ujar Rayn, membuat Cherry masih terdiam mendengarnya.
Mereka pun masih tetap memandang satu sama lain, membuat Cherry mendadak menjadi malu saat ini. Ia membenamkan kembali wajahnya pada dada bidang Rayn, membuat Rayn bingung dengan reaksinya itu.
“Ada apa lagi?” tanya Rayn, Cherry menggelengkan kepalanya bingung.
“Aku tidak tahu, Rayn. Bersamamu beberapa waktu itu, membuatku merasa sangat tidak ingin membuatmu marah. Aku tidak bisa melanggar inti dari pernikahan ini, bahkan dengan Reynald sekalipun. Aku masih memandangmu sebagai suamiku, terlepas dengan bagaimana perlakuan Reynald padaku,” ujar Cherry, membuat Rayn tersenyum mendengarnya.
“Aku tidak memaksamu untuk memandangku, Cherry. Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. Jangan pedulikan aku, tapi terkadang aku sangat marah ketika Reynald melakukan sesuatu padamu. Entah, itu semua di luar nalar. Aku tidak bisa menahan amarahku, itu semua terjadi di bawah kesadaranku,” ujar Rayn, yang mengungkapkan semua perasaannya terhadap Cherry.
Cherry memandang kembali wajah Rayn, yang saat ini masih terlihat sisa senyumannya itu. “Kau tidak marah?” tanyanya, Rayn menggelengkan kepalanya.
“Tidak marah, tapi terkadang aku kesal.” Rayn memberitahukan apa yang ia rasakan.
“Kesal kenapa?” tanya Cherry, masih penasaran dengan apa yang Rayn katakan.
“Entah, mungkin karena rasa sukaku terhadapmu sudah mulai menjalar, aku jadi kesal jika Reynald melakukan sesuatu yang di luar batas terhadapmu. Padahal, aku tahu dia adalah kekasihmu, tetapi aku memposisikan diriku sebagai suamimu, yang harus menjagamu dari siapa pun itu, termasuk juga dari Reynald,” ujarnya, membuat Cherry kembali terdiam mendengarnya.
“Jadi, aku harus bagaimana agar kau tidak kesal?” tanya Cherry, yang ingin mendengar langsung larangan Rayn dari mulutnya langsung.
“Aku yakin, kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan,” jawab Rayn, Cherry pun menggelengkan kecil kepalanya.
“Tidak, aku sama sekali tidak tahu,” ujar Cherry, Rayn membelai lembut wajah Cherry.
“Kau adalah istriku, jangan sampai memberikan kesempatan kepada lelaki lain selain diriku,” ujar Rayn, yang dengan lembut mengatakan hal demikian kepada Cherry.
Mendengar ucapan Rayn itu, membuat Cherry merasa sangat aneh mendengarnya. Namun, ia sama sekali tidak menolak, ketika Rayn mengatakan hal seperti itu padanya.
‘Ya, aku memang seharusnya tidak melakukan hal itu. Tapi ... aku masih mencintai Reynald, walaupun akhir-akhir ini sepertinya aku sudah jatuh cinta pada Rayn,’ batin Cherry, yang masih bimbang dengan keadaan.
__ADS_1
“Rayn, untuk perasaanmu ... aku butuh waktu untuk bisa memutuskan,” ujar Cherry, membuat Rayn terkejut mendengarnya.
Rayn menghela napasnya dengan panjang, “Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya sekarang. Aku tidak bisa melakukannya juga,” ujarnya, membuat Cherry tersenyum hangat mendengarnya.
“Terima kasih. Akan aku lihat di antara kalian, mana yang paling baik menurutku,” ujar Cherry, Rayn pun mengangguk kecil mendengarnya, lalu memeluk Cherry kembali dengan erat.
“Jangan sampai kau membuatku mati penasaran,” bisik Rayn, Cherry pun tertawa mendengarnya.
“Mana bisa seperti itu? Kau tidak boleh mati,” bantah Cherry.
Rayn memandangnya dengan heran, “Kenapa aku tidak boleh mati?” tanyanya heran.
“Kasihan anakmu nanti,” jawab Cherry, seraya mengelus perutnya yang sudah membuncit itu.
Mendengar ucapan Cherry, Rayn pun tersenyum karenanya.
“Bukannya ayahnya ada 2 sekarang?” seloroh Rayn, membuat Cherry memandangnya dengan sinis.
“Bagiku ayah anakku hanya ada 1,” protes Cherry, membuat Rayn tersenyum riang mendengarnya.
“Ya sudah, maka tinggalkan Ayah lainnya,” suruh Rayn, seketika membuat Cherry terdiam mendengarnya.
Sejenak mereka hanya diam, dengan Cherry yang merasa sangat sedih ketika mendengar ucapan itu dari Rayn. Ia tiba-tiba saja terpikir dengan semua kenangan bersama dengan Reynald. Namun, ia juga tidak bisa memungkiri tentang pernikahan ini, dan juga tentang anak mereka itu.
“Aku akan melakukan ... apa yang menurutku benar,” ujar Cherry, yang mendadak berubah mood di hadapan Rayn.
Rayn pun menghela napasnya dengan panjang, lalu segera memeluk kembali Cherry. Ia sejenak melupakan semua itu, dan hanya bisa diam sembari memeluk hangat tubuh Cherry.
‘Setidaknya aku sudah mengungkapkan, apa yang menjadi beban dalam pikiranku. Aku ingin kau tahu, sesuka itu diriku padamu,’ batin Rayn, yang bahkan tidak mengerti dengan perasaannya sendiri terhadap Cherry.
__ADS_1
Apa yang Rayn rasakan saat ini, sudah ia ungkapkan pada Cherry. Tinggal bagaimana Cherry melakukan apa yang menjadi batasan bagi dirinya, dan juga Rayn.
“Ya sudah, kamu jadi ke pertemuan itu?” tanya Rayn, Cherry sampai lupa dengan pertemuan itu.
“Aku lupa,” ujar Cherry, membuat Rayn tersenyum hangat mendengarnya.
“Kau ingin aku mengantarkanmu?” tanya Rayn, Cherry terdiam tak bisa menjawabnya.
Di hati kecil Rayn, ia merasa sedih melihat reaksi Cherry yang seperti ragu. Namun, ia segera menepis semua hal yang ia pikirkan tentang Cherry. Ia tidak bisa melakukan hal itu, karena ia sudah janji tidak akan memaksa Cherry untuk cepat menerimanya.
“Kau keberatan? Kau bisa pergi ke pertemuan itu bersama dengan Reynald. Jika ada sesuatu, langsung kabari aku,” ujar Rayn, Cherry pun memandangnya dengan dalam, kemudian mengangguk kecil mendengarnya.
Rayn bangkit dari ranjang tidurnya, kemudian melepaskan kemeja yang masih ia kenakan. Hal itu membuat Cherry menutupi wajahnya, saking malunya ia melihat Rayn yang membuka pakaian di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Cherry, membuat Rayn terhenti sejenak dan tidak melanjutkannya.
“Ada apa? Apa kau keberatan?” tanya Rayn, Cherry pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Setidaknya, buka dan pakai baju di kamar mandi. Itu sangat nyaman untukku,” ujar Cherry, membuat Rayn menghela napasnya dengan dalam.
“Sebelum menikah denganmu, aku sudah terbiasa melakukan hal ini,” ujar Rayn, membuat Cherry kesal mendengarnya.
“Kau sudah menikah denganku, dan semua yang menjadi kebiasaan buruk, harus segera ditinggalkan!” ucap Cherry dengan nada yang gemas, membuat Rayn sangat gemas mendengarnya.
“Ya sudah, aku akan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaianku. Sekalian, aku ingin mandi,” ujar Rayn, yang lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Ketika menyadari Rayn yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Cherry pun membuka matanya, dan menghela napas.
Pandangannya tertuju pada handphone Rayn yang bergetar, membuatnya penasaran dan meraih handphone tersebut. Matanya seketika membulat, kaget dengan apa yang saat ini ia lihat.
__ADS_1