Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Bab > 39


__ADS_3

Rayn memandang heran ke arah Cherry, “Kamu kenapa?” tanyanya, Cherry tersadar dari lamunannya.


“Gak apa-apa, kok.” Cherry baru saja menepiskan perasaan dan pikirannya itu terhadap Rayn.


“Kamu gak mau jawab, kenapa kamu gak skin care-an atau make up?” tanya Rayn.


Cherry menghela napasnya panjang. “Aku masih belum menemukan skin care yang cocok untuk ibu hamil. Jadi, aku masih khawatir dengan hal itu,” ujarnya membuat Rayn memandangnya dengan dalam.


“Nanti aku bantu kamu untuk mencari skincare yang kamu butuhkan,” ujar Rayn, membuat Cherry bingung mendengarnya.


“Memangnya kamu tahu? Apa Syerlin lagi yang mengatakan hal itu padamu?” tanya Cherry, menebak kejadian yang ada.


Rayn menggelengkan kecil kepalanya. “Syerlin belum hamil, jadi ... aku mana mungkin tahu itu dari dia,” bantahnya, membuat Cherry memandangnya dengan sinis.


“Kamu tahu dari mana?” tanya sinis Cherry, membuat Rayn bingung melihat perubahan sikap Cherry yang agak kasar.


“Emm ... yaa ... tahu dari orang lain, lah! Yang jelas bukan dari Syerlin,” jawab Rayn seadanya, membuat mata Cherry mendelik kaget mendengarnya.


“Apa kamu sudah pernah menghamilin kekasihmu, selain Syerlin?” tanya Cherry kaget, membuat Rayn mendelik tak percaya mendengar tuduhan Cherry padanya itu.


“Hey, jaga bicara kamu ya!” ujar Rayn setengah membentak Cherry, membuat Cherry memandangnya dengan heran.


“Kalau tidak melakukannya, kamu gak usah bentak begitu dong!” bentak balik Cherry, membuat Rayn memandangnya dengan pandangan yang sama dengan apa yang Cherry lakukan.


“Ya sudah, sih! Makanya jangan asal bicara! Aku tuh cuma melakukan itu sama kamu aja! Gak ada lagi yang lain!” bantah Rayn, membuat suasana menjadi sangat rancu saat ini.


Cherry terdiam, membuat Rayn terdiam juga melihat ekspresi Cherry yang seperti itu. Ia berdeham kecil, dan mengubah sikapnya menjadi seperti biasa saja.


“Emm ... sudahlah, jangan sampai mereka nunggu kita terlalu lama. Ayo ke bawah,” ajak Rayn, yang lalu pergi ke arah pintu masuk dari ruangan kamar mereka.

__ADS_1


Cherry memandangnya bingung, karena ia baru mengetahui tentang Rayn yang baru pertama kali melakukan hal itu bersamanya.


‘Kalau dia baru pertama kali melakukannya sama aku, kenapa bisa dia sampai sangat ahli ....’ Cherry tidak melanjutkan pikirannya, dan lalu segera melangkah menghampiri Rayn di sana.


Mereka pun melangkah ke arah pintu ruangan kamar mereka. Di sana Rayn sengaja melakukan hal yang romantis untuk Cherry. Ia membukakan pintu ruangan kamar tersebut, kemudian mempersilahkan Cherry keluar dari ruangan itu lebih dulu.


“Silakan Tuan Putri, jalan lebih dulu. Ladies first!” ujar Rayn, membuat Cherry sedikit tercengang mendengarnya.


Karena tak ingin memusingkan dengan hal itu, Cherry pun melangkah dan ketika ia hendak menuruni anak tangga, tangan Rayn pun menahannya dan Rayn meminta Cherry untuk menggenggam tangannya.


"Ayo pegang tanganku, khawatir jatuh nanti," ujar Rain, membuat Cherry mendadak semakin bingung karenanya.


'Dia kenapa jadi mirip seperti yang aku inginkan, sih? Dia kenapa jadi ngingetin percakapan aku dengan Reynald?' batin Cherry, merasa bingung melihat Rayn yang melakukan hal itu untuknya.


Cherry menggelengkan kecil kepalanya, karena merasa tak percaya dengan perlakuan Rayn padanya. Namun, tangannya tetap menggenggam erat tangan Rayn, karena ia merasa sangat ingin melupakan kejadian yang ada, dan tak mengambil pusing dengan apa yang Rayn lakukan padanya.


Rayn tersenyum penuh rasa puas. Ia akhirnya bisa membuat Cherry bingung, dengan perlakuannya terhadapnya.


Rayn sangat khawatir ketika Cherry melangkah menuruni anak tangga. Ia tidak bisa melepaskan tangannya, karena ia merasa harus melakukan hal yang sangat gantle, agar Cherry bisa merasakan kehadiran sosok suami idamannya itu.


Ya, walaupun bukan bersama dengan Reynald, Cherry sudah cukup merasakan kebersamaan dengan Rayn. Ditambah lagi dengan wajah keduanya yang sangat otentik, membuatnya merasakan hal yang sama dengan yang mungkinnya ia rasakan jika ia menikah dengan Reynald waktu itu.


Namun, ada perasaan tidak percaya dan tidak enak di hati Cherry. Walaupun Rayn dan Reynald sangat otentik, tetap mereka tetaplah orang yang berbeda. Cherry tidak ingin menipunya, dengan hal-hal yang membuatnya malah merasakan sakit hati.


'Sadar, Cherry! Dia itu Rayn, bukan Reynald! Dia ga bisa gantiin posisi Reynald, biar bagaimanapun juga! Dia pun sudah memiliki Syerlin di hatinya, kenapa masih memperlakukan aku dengan baik?' batin Cherry, yang merasa tidak bisa melakukan hal itu secara akal sehat.


Mereka pun segera menuruni anak tangga, dan sampai di meja makan. Beberapa kali para pelayan berhenti di depan kamar mereka, karena tak jadi memanggil mereka. Pada akhirnya mereka pun datang juga ke meja makan, dengan pemandangan yang membuat mereka bingung.


Rayn memandang bingung ke arah mereka, "Lho, kalian kenapa belum memulai sarapannya?" tanyanya.

__ADS_1


Papa dan Mama pun tersenyum penuh haru melihat kedatangan mereka.


"Kami menunggu kalian datang. Kita harus makan bersama, supaya lebih terasa nikmatnya," jawab Papa, membuat Cherry tersenyum mendengarnya.


Rayn memandang mereka dengan bingung. "Kenapa memangnya? Makan dulu saja, gak apa-apa, kok!"


"Tetap lebih enak makan bersama." Papa menjawabmya dengan senyuman yang penuh makna.


Cherry memandang mereka bingung, karena tidak biasanya mereka bersikap seperti ini di hadapannya.


'Pasti ada sesuatu,' batin Cherry, yang memang sudah merasakan ada hal yang aneh dari mereka.


"Kenapa tidak panggil kita saja?" tanya Rayn, masih tidak bisa menerima semua ini.


Mama dan Papa saling melempar pandangan mereka. Mereka tersenyum penuh arti, membuat Rayn semakin bingung saja karenanya.


"Lho, kenapa?" tanya Rayn.


"Kami sudah memanggil beberapa kali, tapi ... aktivitas pasangan di pagi hari lebih penting daripada sarapan," ujar Papa dengan sangat hati-hati, membuat Cherry dan Rayn saling pandang tak percaya.


"Apa?" pekik mereka bersamaan, membuat Papa dan Mama tertawa melihat respon mereka yang bersamaan.


Rayn langsung membenarkan sikapnya di hadapan mereka. "Sudahlah, ayo kita mulai sarapannya," ajak Reynald, membuat Cherry mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka pun bersama melakukan sarapan, dengan suasana yang rancu antara Rayn dan juga Cherry.


Rayn memainkan perkakas makannya. 'Aktivitas apa tadi pagi? Bahkan aku pun tidak boleh menyentuhnya,' batinnya merasa sangat kesal mendengar tuduhan mereka terhadapnya.


Papa memandang ke arah Cherry. "Bagaimana kandungan kamu? Apa ada perkembangan?" tanyanya.

__ADS_1


Cherry pun tersenyum, "Ya, sudah memasuki usia 5 bulan kandungan, semakin sesak napasku," jawabnya, membuat semua tertawa kecil mendengarnya.


“Wah, perkembangannya ternyata sudah pesat. Baru kemarin sepertinya kalian bersama-sama, sekarang kandungannya sudah terasa besar,” ujar Papa, membuat Cherry tersenyum mendengarnya.


__ADS_2