Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Bab > 57


__ADS_3

Cherry memandang sendu ke arah Rayn, yang saat ini sudah mendengkur. Ia merasa Rayn sudah tidak sadarkan diri saat ini.


Cherry menghela napasnya panjang, kemudian perlahan menyelimuti bagian tubuh Rayn, agar ia tidak kedinginan. Cherry kembali memandang ke arah Rayn, dan merasa sendu ketika melihat wajahnya yang tertidur pulas, dengan kening yang mengerut.


“Maaf, aku tidak bisa memperlakukanmu seperti dulu lagi. Ini salahmu sendiri, kenapa kau malah ingin kembali dengan Syerlin, ketika aku sudah mulai ingin menerimamu? Aku tidak akan mentoleransi dengan yang namanya perselingkuhan. Lebih baik, kita kembali kepada pasangan kita masing-masing. Itu akan jauh lebih baik untuk kita,” ujar Cherry sembari memandang sendu ke arah Rayn.


Ia tidak menyangka, kejadiannya akan seperti ini. Air mata mulai bercucuran, membuat Cherry merasa tidak kuat menghadapi semua yang ia hadapi ini. Cherry menutup wajahnya, dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.


‘Kenapa semua terjadi seperti mimpi? Apa saat ini aku memang sedang bermimpi? Kenapa aku harus sampai mengandung anak dari Rayn? Kenapa juga aku harus menikahinya? Kenapa juga aku harus terpikir untuk menerimanya, tetapi dia malah ingin kembali kepada kekasihnya? Apa aku yang terlalu bodoh sudah melakukan hal itu?’ batin Cherry yang merasa sangat kesal dengan keadaannya saat ini.


“Lebih baik, kita hidup masing-masing saat ini. Kamu kembali bersama dengan kekasihmu dan aku juga kembali bersama dengan orang yang seharusnya bersamaku. Aku tidak ingin membuat hidup kita semakin rumit. Jika seperti ini caranya, akan banyak hati yang tersakiti,” gumam Cherry dengan wajah yang masih tertutup oleh tangannya.


Cherry pun segera pergi dari hadapan Rayn, tanpa berkata apa pun lagi. Bahkan melihat wajah Rayn pun, ia sudah tidak kuat.


Ketika Rayn menyadari Cherry yang sudah pergi, Rayn pun membuka matanya. Ia menghela napasnya panjang, karena ia tidak menyangka apa yang Cherry inginkan ternyata memanglah benar keinginannya.


‘Kenapa aku tidak bisa menghadapinya saat ini? Kenapa aku tadi malah diam saja mendengarkannya berbicara? Kenapa aku tidak membantah saja ucapannya? Kenapa harus seperti ini?” batin Rayn, yang merasa bingung dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia tidak bisa melakukan apa pun, di saat Cherry mengatakan hal itu. Itu sangat menyiksa dirinya karena dia tidak bisa membela diri di hadapan Cherry.


Rayn menghela napasnya panjang, ‘Biarkanlah ... aku ingin memberikannya sedikit waktu untuk melupakan semua permasalahan ini. Lebih baik, aku membicarakannya nanti ketika kita sudah sama-sama siap, dan sudah sama-sama mereda emosinya,’ batin Rayn lagi, yang merasa keputusan yang ia buat sudah tepat.


Rayn pun kembali tertidur, dengan selimut yang Cherry berikan padanya. Ia memeluk dengan erat selimut tersebut, sembari membayangkan yang ia peluk adalah sosok Cherry yang sangat ia dambakan.


‘Hari ini aku tidak bisa memeluk dia lagi,’ batin Rayn tetapi hanya dengan memeluk selimutnya saja ia sudah sangat bahagia seperti ini.


***


Saat ini, Cherry sudah bersiap untuk pergi dari sana. Ia mengemas barang-barangnya dengan rapi di dalam koper kecilnya. Ia tidak tahu ingin pergi berapa lama, tetapi untuk saat ini, ia harus menenangkan dirinya lebih dulu dan tidak ingin bertemu dengan Ryan ataupun Reynald. Namun, sebelumnya pergi ia harus lebih dulu berpamitan dengan kedua orang tua dari Rayn. Ia harus memiliki etika untuk berpamitan, agar mereka tidak khawatir dengan keberadaan dirinya.


Namun, untuk berjaga-jaga agar tidak ribet nantinya, ia mengemas pakaiannya lebih banyak dari perkiraan.


Cherry menghela napasnya dengan panjang. ‘Aku sebenarnya tidak ingin pergi dari sini, tapi mau bagaimana lagi? Aku harus mencari jawabannya sendiri dan aku ingin tenang dulu saat ini. Aku tidak ingin membebankan siapa pun dan juga tidak ingin terbebankan oleh siapa pun,’ batin Cherry, yang merasa sudah sangat yakin ingin pergi dari rumah ini secepatnya.


Cherry pun mempersiapkan semuanya, kemudian segera turun untuk menemui kedua mertuanya untuk berpamitan. Ia melangkah perlahan, satu per satu anak tangga ia turuni, dan kebetulan mertuanya sedang ada di meja makan saat ini.

__ADS_1


Mereka sedang melakukan sarapan seperti biasa, sebelum mereka beraktivitas kembali. Mereka yang menyadari kedatangan Cherry di hadapannya, membuat mereka terhenti dengan aktivitas mereka dan memandang bingung ke arah Cherry.


“Kamu mau ke mana, Nak?” tanya Mama, membuat Cherry menghela napasnya panjang, kemudian menghampiri ke arah mereka.


“Mama, Papa, aku ingin meminta izin untuk kembali ke rumah keluargaku. Aku ingin menenangkan diri untuk sementara waktu. Aku tidak bisa jika harus di sini lebih lama,” ujar Cherry, berusaha untuk berpamitan kepada mereka.


Mama mengelus bahu Cherry dengan lembut. “Ada apa, Nak? Apa yang terjadi di dalam rumah tangga kamu? Apa ada pertengkaran di antara kamu dan juga Rayn?” tanya Mama, yang merasa khawatir dengan keadaan Cherry saat ini.


Cherry hanya bisa tersenyum, karena bukan hanya permasalahannya dengan Rayn saja, tetapi juga permasalahannya dengan Reynald. Permasalahan yang ia hadapi saat ini sangatlah kompleks, membuatnya merasa kesal ketika ia memikirkannya seorang diri saja.


“Aku harus menenangkan diri, Ma. Aku tidak bisa tinggal di sini dulu untuk sementara waktu,” ujar Cherry, yang tidak memberikan jawaban yang spesifik kepada Mama dan Papanya.


Papa menghela napas panjang, “Jika itu yang kamu inginkan, kami tidak bisa memaksa. Kamu boleh datang dan pergi ke rumah ini, sesuka kamu. Ingatlah satu hal, ini juga adalah rumahmu. Kamu tidak perlu sungkan untuk itu,” ujar Papa, yang harus memikirkan perasaan Cherry juga, ketimbang rasa egois mereka sebagai orang tua, yang menginginkan kesehatan anak dan menantu mereka.


Mendengar jawaban dari Papa, Cherry pun tersenyum hangat karena Papanya itu sudah membuatnya merasa sangat dihargai.


“Terima kasih, Pa! Cherry sangat senang mempunyai mertua seperti Papa dan Mama. Maafkan kalau Cherry punya salah sama kalian,” ujar Cherry, membuat mereka menghampiri Cherry dan mengelus pundak Cherry dengan lembut.

__ADS_1


“Kamu tidak punya salah apa pun, Nak. Jangan salahkan dirimu karena ini. Semua berawal dari kesalahan Reynald, justru Papa yang harusnya minta maaf sama kamu karena kamu jadi terlibat hal kompleks seperti ini,” ujar Papa membuat Cherry tersenyum mendengarnya.


Cherry berpikir untuk menyalahkan Papanya pun, ia sudah tidak mampu lagi. Hal itu karena masalahnya saat ini sudah lebih besar dibandingkan saat pertama kali ia melakukannya. Karena Cherry yang sudah hampir ingin menyerah dengan pernikahan ini.


__ADS_2