Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Menyakiti Cherry


__ADS_3

Rayn tak menjawab, dan lebih memilih diam. Ia tidak ingin salah mengambil langkah, karena bertahun-tahun bersama dengan Syerlin, kalah dengan 2 hari saja ia bersama dengan Cherry. Entah apa yang terjadi, hubungan yang halal memang memiliki power tersendiri.


“Aku gak bisa memastikan. Yang jelas, untuk saat ini, kamu jangan pernah melakukan hal yang aneh dengan Cherry. Karena bukan hanya Reynald saja yang marah, tapi aku pun akan marah sama kamu,” ujar Rayn, berusaha memberikan peringatan pada Syerlin.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Rayn pun pergi dari sana meninggalkan Syerlin sendiri. Hal itu sontak membuat Syerlin merasa kesal, saking kesalnya ia tidak bisa melakukan apa pun dan hanya memandang ke arah kepergian Rayn saja.


Sudah tidak bisa melakukan apa pun, Syerlin hanya bisa meratapi nasibnya saat ini. Rasa cintainya yang tumbuh merebak di hatinya, kini ternyata harus dipaksa pupus karena keadaan.


“Aku pikir kamu setia, Rayn. Ternyata, kamu malah seperti ini. Kamu malah bermain cinta dengan calon kakak iparmu sendiri. Aku sangat menyesal bisa kenal denganmu,” gumam Syerlin, yang berusaha untuk menahan diri dan emosinya, agar tidak keluar dan menguasai dirinya.


Rayn kembali ke arah Cherry. Di sana, ternyata Cherry dan Reynald sudah tidak ada di tempat. Ia sangat bingung, dan langsung segera pergi dari sana untuk mencari keberadaan Cherry.


Langkahnya ia percepat, dengan pandangan yang selalu ia edarkan ke mana pun. Ia harus mencari keberadaan Cherry dan juga Reynald, dan ia harus melakukan sesuatu kepada Reynald, agar tidak mencari masalah dengannya dan juga Cherry.


“Di mana mereka?” gumam Rayn, yang langkahnya ia tujukan ke arah kamar dirinya dan juga Cherry. Ia tidak tenang, karena tidak bisa menemukan Cherry di mana pun.


Sampai dirinya di kamar, ternyata di sana Reynald sedang berdiri di depan kamarnya dan juga Cherry. Jantungnya seketika terpacu, melihat Reynald yang kini berdiri sambil memandang ke arah pintu masuk kamarnya.


Pandangan mereka bertemu, membuat mereka sama-sama kaku saat ini. Namun, sebagai sesama lelaki dan juga sebagai adik kakak, Rayn harus memecahkan keheningan di antara mereka.


“Di mana Cherry?” tanya Rayn, membuat Reynald memandangnya dengan tajam dan dingin.


“Ada di dalam kamar,” jawab Reynald singkat, Rayn agak tenang mendengarnya.


“Baiklah. Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Rayn, membuat Reynald mengangguk kecil mendengarnya.


Mereka sama-sama pergi. Namun, sebelum mereka pergi, Rayn berniat untuk bertanggung jawab untuk mengantarkan kembali Syerlin ke rumahnya. Rayn memandang ke arah Reynald, karena tidak menemukan Syerlin di mana pun.

__ADS_1


“Apa kau melihat Syerlin?” tanya Rayn, Reynald menggelengkan kepalanya kecil.


“Untuk apa kau bertanya padaku? Aku jelas-jelas sedang bersama Cherry tadi. Kau yang sedari tadi bersama dengannya. Kenapa kau bertanya padaku?” tanya balik Reynald, membuat Rayn merasa bingung sendiri mendengarnya.


‘Ya ... apa yang dia katakan memang ada benarnya,’ batin Rayn, merasa heran dengan dirinya sendiri yang malah bertanya seperti itu pada Reynald.


Reynald memandang tajam ke arahnya. “Ada yang mau aku bicarakan juga denganmu. Sebaiknya, cepat sedikit!” ujarnya, membuat Rayn tersadar lalu mengangguk mendengarnya.


Mereka pergi ke club, untuk menyelesaikan masalah mereka sesama lelaki. Mereka memesan sebuah table, dengan suguhan minuman alkohol yang sangat banyak. Karena mereka ingin menghabiskan malam di sini, mereka pun sengaja memesan minuman sebanyak ini, agar bisa menemani mereka sampai munculnya fajar.


Rayn duduk pada tempatnya, begitupun Reynald. Mereka saling pandang dengan sinis, karena sudah lama mereka tidak berbicara seperti ini, dengan suguhan minuman sebanyak ini di atas meja.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Reynald, Rayn masih memandangi jam tangannya karena sedang menunggu temannya datang.


“Tunggu sebentar, aku ingin mengajak seseorang agar bisa menjadi penengah untuk kita,” ujar Rayn, membuat Reynald terdiam mendengarnya.


“Maaf sudah membuat kalian menunggu,” ujarnya, yang ternyata adalah Amar yang merupakan teman baik Rayn.


“Tidak apa-apa. Aku bisa menunggumu sampai besok, kalau kamu benar-benar tidak datang,” ujar Rayn, membuat Amar tertawa kecil mendengarnya.


“Terlalu berlebihan, aku tidak sepenting itu,” ujar Amar, dengan tawa khasnya.


Keadaan seketika berubah menjadi canggung. Mereka tidak bisa membayangkan, kejadiannya akan seperti ini. Di tengah kecanggungan yang terjadi, ada beberapa wanita yang datang menghampiri mereka. dua di antara masing-masing dari mereka menghimpit Rayn, Reynald dan juga Amar, untuk menemani mereka di meja.


“Apa seperti ini tidak apa-apa?” tanya Amar, yang merasa Rayn dan Reynald terganggu dengan kehadiran para wanita ini.


“Tidak apa-apa, lanjutkan saja!” ujar Rayn, yang tidak masalah mengenai hal ini.

__ADS_1


Sikap playboy Rayn ternyata masih ada, walaupun saat ini Cherry tengah berbadan dua. Namun, ia hanya menjadikan wanita ini sebagai pelampiasan, dan tidak benar-benar melakukan hal keji pada mereka.


Reynald yang melihatnya merasa geram, karena ia melihat sikap itu masih tertanam di diri Rayn.


“Aku tidak ingin kau menyakiti Cherry! Aku tidak sudi!” bentak Reynald, Rayn malah merenggangkan lengannya, dan membuka kesempatan bagi para wanita itu unutk bersandar padanya.


“Sudahlah, ini hanya agar tidak tegang saja. Aku juga tidak benar-benar melakukan hal yang buruk pada para wanita ini. Aku juga masih memikirkan jagoanku, yang ada di dalam rahim Cherry,” ujar Rayn, sontak membuat Reynald terpacu ingin marah padanya.


“Kau—”


Ketika hendak melampiaskan amarahnya pada Rayn, Reynald tertahan karena lengannya pun sudah digelayuti para wanita cantik itu. Ia berpikir kembali, dan tidak ingin membuat keributan di tempat ini.


Sementara itu, Amar tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Ia hanya menangkap tentang jagoan dan rahim, yang sebenarnya sama sekali tidak ia ketahui maksudnya apa.


“Apa maksud dari jagoan ... dan rahim?” tanya Amar, tetapi tak dipedulikan oleh mereka.


“Tugasmu hanya melerai, bukan ikut campur!” ujar Rayn dengan datar dan tajam, membuat Amar tersentak kaget, karena ia tidak pernah melihat Rayn yang bersikap serius seperti ini di hadapannya.


Amar tak sengaja menelan salivanya, “Baiklah. Silakan kalian berbicara, aku akan diam,” ujarnya, mengembalikan suasana seperti semula.


“Tuangkan aku minuman,” suruh Rayn, yang sudah tidak sabar ingin meminum alkohol itu, agar bisa mengutarakan maksud dan tujuannya untuk mengajak Reynald berbincang.


Tak hanya Rayn, Reynald pun menuangkan minuman ke dalam gelasnya, berusaha untuk membuat keadaannya senyaman mungkin di hadapan Rayn.


Mereka sama-sama menenggak minuman itu. Ketika sudah sama-sama mengonsumsi segelas alkohol, mereka pun baru hendak memulai percakapan antar lelaki ini.


Rayn memandang dalam ke arah Reynald. “Langsung saja pada intinya, aku tidak suka jika kamu masih mengejar Cherry. Aku tidak ingin kau bertindak di luar batasmu sekarang!” ujarnya, membuat Reynald mendelik kaget mendengarnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2