Ketika Hatimu Tak Lagi Untukku

Ketika Hatimu Tak Lagi Untukku
Awal bertemu Bianca


__ADS_3

Mika masih terus menatap wajah pria yang ada di hadapannya. Biarpun wajahnya terlihat dingin, Namun Mika baru sadar jika wajah yang ada di hadapannya ini adalah wajah Tama. Pria yang pernah menyatakan perasaannya saat jam smp.


"Kenapa aku tidak menyadari itu, Jadi ternyata selama ini aku masih mencintai satu orang sama. Hanya saja Aryan yang sekarang jauh lebih dari segalanya" batin Mika sembari terus menatap pada Aryan.


Liana yang melihat raut wajah Aryan membuat wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya. Pasalnya sangat terlihat jelas jika saat ini Aryan sedang benyak pikiran. Sebagai seorang ibu, Liana tentu saja mengerti apa yang terjadi dengan anaknya saat ini.


"Aryan. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Liana sambil menatap Aryan.


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari sang mama, Aryan membuang nafas, Namun setelah itu Aryan memutuskan untuk menceritakan semuanya nanti setelah mereka santai-santai kembali.


"Nanti Aryan ceritakan ya, Ma. Sekarang Aryan mau mandi dulu"


Aryan beranjak dari duduknya. Sebelum makan malam Aryan lebih memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Saat sudah sampai di dalam kamarnya, Pria itu segera menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat melihat baju ganti sudah tersedia di atas tempat tidur. Membuat Aryan mengangkat sebelah alisnya.


Karna tidak mungkin jika sang mama yang menyiapkan. Pasalnya memang selama ini Liana tidak pernah menyiapkan baju ganti untuk Aryan. Semenjak Aryan lulus sekolah, Liana memang sudah sangat jarang masuk ke dalam kamarnya. Sebab Liana ingin memberikan privasi pada putranya.


"Siapa yang sudah menyiapkan ini? Masa iya mama" gumam Aryan sembari memperhatikan pakaian piyama tidur berwarna hitam.


Tiba-tiba saja Aryan teringat akan kebiasaan Mika yang selalu menyiapkan baju untuknya. Membuat Aryan tidak perlu repot menyiapkan baju ganti sendiri.


"Apa mungkin iya Mika masuk ke dalam kamar ini" lanjut Aryan lagi.

__ADS_1


Pria itu menoleh pada foto yang selalu dia pajang di atas nakas. Jika memang itu Mika yang menyiapkan baju untuknya, Apa mungkin Mika sudah melihat fotonya saat masih jaman SMP.


Setelah itu Aryan masuk ke dalam kamar mandi. Melakukan ritual mandinya dengan sangat cepat, Selain penasaran dengan siapa yang sudah menyiapkan baju ganti untuknya, Aryan juga sudah merasa jika perutnya mulai perih. Sejak siang Aryan memang belum sempat makan sama sekali. Karna harus mengurus semua masalah yang di sebabkan oleh Bianca.


****


Saat ini semua anggota keluarga Alberto sudah berkumpul di meja makan. Setelah cukup lama menunggu Aryan, Akhirnya mereka bisa menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh Mika serta Liana beberapa saat yang lalu.


Aryan menatap pada menu makanan yang ada di depannya. Dia tau betul jika makanan yang sudah tersaji di meja makan itu adalah makanan Mika. Karna beberapa waktu yang lalu Mika pernah memasak menu yang sama sebelum kecelakaan itu terjadi.


Namun seperti biasa, Aryan harus menjadi seperti kucing yang mencuri makanan di rumah sendiri. Karna rasa gengsi yang terlalu besar, Aryan merasa malu saat teringat akan ucapannya sendiri"Sampai kapan pun saya tidak akan pernah sudih untuk makan masakan kampung yang kamu buat, Mika. Jadi berhentilah untuk melakukan hal itu lagi, Karna percuma. Makanan itu tidak akan pernah saya makan!"


kalimat itu masih teringat jelas oleh Aryan. Dan hal itu yang membuat seorang Aryan Alberto harus melakukan berbagai cara agar bisa menikmati masakan Mika yang selalu lezat tanpa sepengetahuan dari Mika.


Mereka semua makan dalam diam. Selain peraturan yang dibuat oleh Alberto, Aryan beserta Mika fokus dengan pikirannya masing-masing. Sehingga makan malam itu dilalui dengan keheningan seperti biasanya.


Setelah selesai makan malam, Mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Selain untuk bersantai bersama, Aryan memang sengaja meminta kedua orang tuanya duduk di sofa ruang Tengah untuk membicarakan apa yang sudah terjadi.


"Apa!! Berni sekali wanita itu!" sentak Alberto setelah Aryan mulai menceritakan semuanya.


Aryan hanya bisa membuang nafas dengan penuh rasa bersalah. Semua ini tidak akan pernah terjadi jika Aryan tidak membawa Bianca ke dalam perusahaannya dan meminta wanita itu untuk menjadi asisten pribadinya.


Bianca dan Aryan bertemu di sebuah club malam beberapa bulan yang lalu, Tepatnya saat Aryan masih duduk di bangku kelas dua SMA. Sebelum pernikahannya dengan Mika terjadi.

__ADS_1


Flashback On


Hari itu Aryan merasa sangat kesal. Setelah di sekolah melihat Mika bersama dengan salah satu musuh bebuyutannya yang bernama Marvin, Aryan menahan amarahnya. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit saat melihat gadis yang menjadi bagian dari masa lalunya dekat dengan pria lain.


Setelah kurang lebih dua tahun Aryan berusaha melupakan seorang Eyla, Dunia kembali mempertemukannya dan kembali menuntut ilmu di bawah atap yang sama. Namun bedanya Mika bisa bersekolah di tempat itu karna beasiswa.


Sejak pertama kali melihat Mika di sekolah ini, Aryan berusaha untuk membenci gadis itu. Bahkan Aryan selalu memperlihatkan sikap dingin serta acuh pada Mika.


Setelah rasa sakit hati karna kesalahpahaman di masa lalu, Aryan bersikap seolah tidak mengenal Mika. Beruntung karna memang Mika tidak mengenalnya sebagai Tama si pria menyedihkan.


Malam hari Aryan duduk di salah satu bar dengan minuman beralkohol di depannya. Entah sudah berapa banyak Aryan teguk, Namun yang pasti seorang wanita tiba-tiba saja datang dan mendekati Aryan yang sudah setengah mabuk.


Wanita itu mengantar Aryan pulang hingga depan rumahnya. Dan sejak saat itulah, Mereka sering bertemu setelah Aryan pulang sekolah.


Tepat setelah insiden yang membuat status Aryan serta Mika berubah jadi pasangan suami istri, Bianca mulai mencoba masuk ke dalam hati Aryan.


Selain untuk menghancurkan pernikahan Aryan dan Mika, Wanita itu juga menerima tawaran dari seseorang untuk membuat Pratama Group hancur secara perlahan. Dan salah satu cara terbaik adalah menjadi asisten pribadi Aryan.


Hingga suatu hari, Bianca merayu Aryan dan meminta agar dia bisa bekerja di perusahaan Pratama Group sebagai asistennya. Dengan bodohnya Aryan malah menyetujuinya begitu saja. Karna Aryan berpikir dia mencintai Bianca begitu dalam.


Aryan tidak pernah merasa jika perasaannya terhadap Bianca hanyalah sebuah keterpaksaan dari dirinya sendiri.


Flashback Off

__ADS_1


Melihat raut wajah sang papa, Aryan mendekat lalu menatap pada Alberto"Papa tenang saja, Karna Ryan sudah mengurus semuanya. Ryan juga akan memberikan pelajaran pada Bianca sekaligus Pak Sanjaya, Karna dia yang sudah membayar Bianca akan hal ini" terang Aryan


__ADS_2