
"Apa ini yang dinamakan First kiss" ucap Mika sembari mengusap bibirnya. Gadis itu masih teringat jelas kejadian di ruang tengah tadi.
tanpa terasa hari ternyata sudah semakin malam, namun Entah kenapa Mika masih belum juga memejamkan kedua matanya. Gadis itu masih menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang tidak menentu, bayangan kejadian di ruang tengah masih terekam jelas dalam ingatannya.
Setelah itu entah kenapa Mika tiba-tiba saja teringat akan kedua orang tuanya yang sudah meninggal ,membuat Mika bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil sesuatu yang disimpan di dalam tasnya selama ini. Foto, Ya foto tentang keluarga besarnya. Yang tak lain adalah foto dirinya dan juga kedua orang tuanya serta neneknya.
Mika terus menatap foto keluarga itu, entah kenapa setiap melihat foto itu kejadian 2 tahun yang lalu masih bisa teringat jelas pada ingatan Mika,membuat Mika tak kuasa dan menjatuhkan air matanya begitu saja.
Gadis itu masih bisa teringat jelas saat di mana kedua orang tuanya dimasukkan ke liang lahat, hari serta kejadian yang paling menyakitkan yang membuat hati Mika benar-benar hancur.
"Kenapa Mama sama Papa harus tinggalin Mika sendiri. Apa kalian tahu bagaimana kehidupan Mika Setelah kalian pergi. Mah, Pah. Mika kesepian tanpa kalian. Mika benar-benar merindukan saat-saat dimana Mika masih bisa merasakan kasih sayang mama dan juga papa" ucap Mika yang terdengar sangat Lirih.
Mika masih menatap foto itu dengan air mata yang semakin deras ,rasanya Mika tidak percaya Kenapa kedua orang tuanya bisa pergi secepat itu bahkan di hari ulang tahunnya sendiri. Semenjak kejadian itu Mika tidak pernah lagi ingin merayakan hari ulang tahunnya. hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia justru menjadi hari yang paling menyakitkan dalam hidup Mika.
Mika masih terdiam untuk beberapa saat. Hatinya benar-benar terluka saat mengingat panggilan telepon yang mengabarkan jika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan di Jalan Merdeka.
Bahkan saat Mika sudah sampai di tempat kejadian, Mika bisa melihat jelas seperti apa luka yang dialami oleh kedua orang tuanya terutama sang mama. Begitu banyak darah yang mengalir deras dari beberapa bagian tubuhnya.
Namun Sedetik kemudian Mika mengusap kedua air matanya, Gadis itu teringat dia harus menemukan siapa yang sudah menabrak kedua orang tuanya tanpa bertanggung jawab dan ditinggalkan begitu saja.
__ADS_1
Setelah mengusap kedua matanya Mika mengambil nafas dalam, Gadis itu sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya dan menjadi seorang pengacara hebat agar bisa keadilan atas apa yang terjadi pada kedua orang tuanya 2 tahun yang lalu.
"Jangan nangis, Mika. Mulai sekarang kamu harus lebih rajin belajar biar bisa menjadi seorang pengacara yang bisa menuntut keadilan atas kedua orang tuamu. Kamu harus bisa menemukan siapa yang sudah menabrak mama dan juga papamu tanpa bertanggung jawab"
Mika kembali Meletakkan foto itu di dalam tasnya kembali. Gadis tu kembali naik ke atas ranjangnya lalu mencoba memejamkan kedua matanya yang sama sekali tidak terasa ngantuk.
***
Di kamar yang berbeda ternyata Aryan juga belum memejamkan kedua matanya. Tak beda jauh dengan Mika, Aryan pun masih teringat akan ciuman yang tak sengaja di ruang tengah tadi.
"Astaga, Kenapa saya harus teringat akan ciuman tak sengaja itu" gumam Aryan sembari mengusap bibirnya.
Aryan tak pernah menyangka jika ciuman pertamanya akan dia lakukan secara tidak sengaja dan tanpa persiapan. Namun sedetik kemudian Aryan tersenyum saat teringat raut wajah Mika yang tiba-tiba saja menjadi merah bak buah tomat.
"Bagaimana caranya agar Mika bisa kembali mengingatku?"
Aryan mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Menyesal sudah pasti iya, Apalagi saat teringat setiap kejadian serta perlakukan yang pernah dia lakukan sebelumnya. Mungkin memang benar jika penyesalan akan datang setelah kita sudah kehilangan.
****
__ADS_1
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Pagi ini Mika ataupun Aryan sama-sama belum keluar dari dalam kamarnya. Mereka berdua masih terlena di dalam mimpi dan masih tidur begitu nyenyak. Entah jam berapa mereka tertidur, Tapi yang pasti mereka tidur lebih dari jam satu dini hari.
"Ma, Jangan terlalu kepikiran masalah dua tahun yang lalu. Karna itu sebenarnya bukan sepenuhnya salah mama" Alberto mengusap punggung Liana yang kini terdiam di taman belakang rumahnya. Tatapannya terlihat sedikit sayu.
Mendengar perkataan suaminya Liana menoleh pada Alberto," bagaimana mama bisa tenang Pah Bukannya tadi malam Papa dengar sendiri perkataan David. Apa menurut Papa Mama masih bisa tenang setelah apa yang Mama dengar,"ucap Liana pada Alberto
"Iya, Papa Paham bagaimana dengan perasaan mama, tapi mama harus ingat bukannya malam itu Mama sendiri yang mengatakan jika mereka berdua tiba-tiba saja menyebrang tanpa menoleh dulu"balas Alberto sambil mengusap Liana
Malam itu memang orang yang khiana tabrak tiba-tiba saja menyebrang tanpa menoleh ke arah jalan, membuat Liana yang buru-buru tanpa sengaja menabrak tubuh kedua orang itu. karena malam itu Liana mendapat kabar jika sang Mama meninggal dunia, membuat Liana yang sedang ada urusan di Jogja terpaksa harus pulang dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Tapi Pa, tetap saja itu salah Mama, Mama terlalu ceroboh membawa mobilnya. Jujur saja mama takut, Bagaimana jika seandainya Mama masuk penjara karena kejadian itu. Mama benar-benar takut pa"
Liana kembali menangis karena tiba-tiba saja merasa takut jika seandainya apa yang selama ini dia takutkan menjadi kenyataan. Alberto kembali meyakinkan jika semuanya pasti akan baik-baik saja. Bahkan dia juga meyakinkan kalau Alberto akan mengurus semuanya.
Tak berselang lama asisten rumah tangganya menghampiri mereka, dia mengatakan jika ada bagian yang dikirimkan seorang untuk Liana. Pembantu itu pun langsung menyerahkan paket yang tadi dia terima. Karena penasaran akhirnya Liana langsung membuka paket yang dikirimkan untuknya, dan tepat saat paket itu sudah dibuka Betapa terkejutnya Liana saat melihat isi dari paket itu.
"Aaaaaa" teriak Liana sembari melempar paket itu. Membuat Alberto semakin penasaran dengan isinya.
Alberto pun mengambil paket yang Liana buang, Ternyata isinya adalah sebuah boneka beserta surat yang tertulis "DASAR PEMBUNUH" membuat Alberto juga merasa cukup terkejut dengan isinya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini!, Siapa yang sudah berani mengirimkan paket seperti ini pada Mama" tukas Alberto
Pria paruh baya itu melirik pada Liana yang terlihat semakin ketakutan. "Aku bukan pembunuh" raung Liana dan berlari masuk ke dalam kamarnya.