
"Mika, bersiaplah. sepuluh menit lagi pesawat akan segera take off" suara itu menyadarkan Mika. membuat dadanya kembali terasa sesak. apakah ini memang keputusan yang sangat tepat? keputusan terbaik dari apa yang pernah dia lakukan. pergi dari kehidupan Aryan dan ikut bersama Marvin ke Milan. bahkan Mika sampai melupakan Erdin kakaknya.
Mika mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar lalu mematikan ponselnya. "Bismillah, semoga memang ini yang terbaik untuk hidupku, Ya Allah. hamba percaya jika semua ini adalah jalan takdir yang sudah engkau tuliskan untukku." batin Mika sambil menatap pada ponselnya yang sudah mati.
Mika duduk tepat di sebelah jendela. karma Marvin yang duduk paling samping. pria itu menatap wajah Mika yang terlihat sangat sendu. ingin rasanya dia kembali memeluk Mika dan menenangkannya seperti kemarin. namun Marvin mengurungkan niatnya karna detak jantungnya yang semakin tidak normal.
Berada di jarak yang sedekat ini saja jantungnya sudah bertalu-talu, apalagi jika sampai memeluk Mika seperti kemarin. Marvin benar-benar merasa jika kemarin jantungnya berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat dari pada biasanya.
"Mika, Seandainya saja kamu tau bagaimana perasaanku. seberapa besarnya perasaan cintaku padamu. apalagi jika sampai bisa mendapatkan hatimu, mungkin aku akan menjadi pria paling bahagia saat ini. tapi sayangnya semua itu hanya akan menjadi anganku yang tak kan pernah menjadi nyata. karma kamu hanya mencintai Aryan"
Marvin membatin sambil terus menatap pada Mika yang sedang menatap ke arah luar jendela. sesekali air matanya meluruh begitu saja. tentunya Marvin sangat paham bagaimana perasaan Mika saat ini. selain berat meninggalkan kota jakarta, Gadis itu sebenarnya berat meninggalkan Aryan begitu saja.
"Mika, ikuti kata hatimu. jika memang kamu ragu untuk ikut bersamaku, kamu masih ada waktu untuk membatalkannya" ujar Marvin sambil menepuk pundak Mika.
Mika diam tak langsung menjawab perkataan nya, gadis itu mengalihkan pandangannya pada Marvin yang memang sejak tadi menatapnya.
__ADS_1
"Sepertinya memang ini keputusan terbaik, kak. biarpun rasanya sangat berat, tapi aku akan mencobanya. Setelah ini aku akan berusaha untuk menata hidupku kembali. memulai semuanya dari awal di negara yang berbeda" balasnya mantap. biarpun Mika berkata demikian, tentunya Marvin sangat tau jika apa yang baru saja Mika katakan tidak sejalan dengan hatinya.
Mendengar perkataan Mika, Marvin hanya mengangguk. karna tidak ada yang bisa Marvin lakukan selain mendoakan yang terbaik untuk hidup Mika kedepannya.
Tak lama kemudian, Pesawat itu pun sudah hampir take off untuk meninggalkan kota jakarta. tidak ada kata yang bisa Mika ucapkan selain kata selamat tinggal masa lalu.
"Yakinlah, Semua akan baik-baik saja. kamu hanya perlu waktu untuk mengerti situasi yang kamu hadapi saat ini. Fighting, Mika. aku percaya kamu mampu. makanya Allah memilih kamu untuk menerima semua ujian yang kamu alami selama ini" gumam Marvin sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
*
*
Liana yang mendengar suara ponselnya berdering langsung berjalan mengambil ponselnya yang dia simpan di atas nakas dalam kamarnya. keningnya mengerut kecil saat melihat jika pesan masuk tadi adalah pesan dari nomor Mika.
"kesayangan"
__ADS_1
Kedua mata Liana membulat sempurna saat melihat isi dari pesan yang baru saja masuk. dadanya terasa sesat saat membaca pesan yang Mika tulis tadi.
"Tidak...Ini tidak boleh terjadi..Tidak.. Mika jangan tinggalin mama sayang" Liana terduduk lemas di atas lantai di dalam kamarnya. kabar yang baru saja dia baca sudah benar-benar membuatnya sesak.
Alberto yang melihat sang istri seperti itu membuatnya semakin mempercepat langkahnya. tentunya saja Alberto penasaran dengan apa yang sudah membuat sang istri terduduk lemas seperti itu.
"Ma, Ada apa, Ma? kenapa mama terlihat pucat seperti itu? apa mama sakit? papa antar ke rumah sakit ya" kata Alberto dan duduk berjongkok di depan Liana. namun wanita itu tak kunjung menjawab. dadanya terlalu sesak sehingga membuatnya susah untuk berbicara.
"Minum dulu ma. Dan setelah itu Mama cerita ada apa?" Alberto memberikan segelas air putih untuk Liana.
Liana memberikan ponselnya pada sang suami. membiarkan dia untuk membaca sendiri pesan dari Mika yang sudah membuatnya seketika lemah seperti itu.
Bukan hanya Liana, Bahkan Alberto juga shock saat membaca pesan atas nama kontak kesayangan. "Ini semua pasti karna kebodohan Aryan!" ujarnya yang langsung menyalahkan Aryan. Karna memang kebodohan Aryan sendiri yang akan menghancurkan hidup serta masa depannya.
"Pa, Mama gak mau tau, Pokoknya papa harus bisa cari Mika dan bawa dia kembali ke rumah ini. Mau dia tetap jadi istri Aryan atau tidak, Yang pasti mama mau Mika tetap ada di tengah-tengah kita. Mama sangat menyayanginya pa! Atau kalau perlu kita angkat dia jadi anak kita, Bukan kah Mika tidak punya keluarga lagi" kata Liana sambil menoleh pada Alberto.
__ADS_1
"Apa!!" ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.