
Aryan serta Aditya sudah sa.oai di bandara. Mereka sudah di tunggu oleh pak Wanto dan akan melakukan penerbangan ke negara italia setengah jam lagi.
"Bismillah, semoga aku bisa menemukan Mika" batin Aryan setelah naik ke dalam jet pribadi milik keluarganya.
Aditya menoleh pada Aryan"Anda tenang saja, tuan. Karna saya akan berusaha mencari keberadaan nona Mika di sana" ujar Aditya pada Aryan.
Aryan mengambil nafas panjang"Semoga saja, dit. Setelah saya berhasil menemukan Mika, saya berjanji akan memperbaiki semuanya. Saya akan menebus semua kesalahan yang sudah pernah saya lakukan pada Mika sebelumnya" kata Aryan lirih.
Aditya yang memang belum tau titik permasalahan Aryan seta Mika hanya bisa menatap pria itu. Sehingga dia memutuskan untuk bertanya saat rasa penasarannya semakin meronta-ronta.
"Gak bisa. Mulut gue rasanya gatel kalau gak tanya apa permasalahan yang terjadi sama mereka" batin Aditya.
"Maaf nih, Tuanku. Kalau boleh tau kenapa nona Mika pergi? Apa sebelumnya kalian sempat bertengkar" tanya Aditya. Pria itu memukul mulutnya sendiri yang sudah begitu lancang bertanya perihal masalah pribadi Aryan.
"Mohon maaf, Tuanku. mulut saya memang terkadang susah di kontrol. Hihi. Jadi tidak usah di jawab"
Aditya menatap keluar jendela"astaga ini mulut kenapa kagak bisa di rem sih. Bagaimana kalo dia marah karna gue nanya soal masalah pribadinya" batin Aditya yang merasa takut saat melihat raut wajah dingin Aryan yang tanpa ekspresi.
"Mika pergi karna kesalahan saya. Karna kebodohan saya sendiri, saya harus kehilangan perempuan yang begitu tulus sepertinya" balas Aryan setelah cukup lama terdiam.
Mendengar jawaban Aryan rasa penasaran Aditya semakin menjadi"Maksud tuanku? Karna kebodohan. Memangnya tuanku bodoh ya? masa iya seorang direktur bodoh" ujar Aditya pada Aryan. Namun sedetik kemudian pria itu menutup mulutnya yang lagi-lagi membuat Aryan semakin tak berekspresi.
"Ya ampun. Ini mulut kenapa pula dah. Kagak bisa apa di tahan untuk tidak kepo" batin Aditya lagi.
__ADS_1
"Mohon maaf, tuanku. Mulut saya terkadang memang menyebalkan. Tidak usah di jawab ya. Karna tidak mungkin juga seorang direktur seperti tuanku yang baik hati bodoh"
Setelah itu Aditya berpura-pura sibuk dan mengeluarkan laptopnya untuk menghindari rasa kepo yang mengganggu pikirannya.
*
*
*
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Mika dan Erdin serta Ana duduk di ruang tamu yang ada di tempat kost Mika. Setelah kemarin mendengar keributan yang terjadi di ruang tengah keluarga Dirgantara membuat Mika dan juga Adrian keluar melihat kejadian dimana Erdin dan Ana kembali berdebat hanya karna hal sepele.
"Jadi kamu tinggal di sini, Mika?" tanya Erdin sambil terus menatap Mika.
Gadis itu mengangguk, setelah pertengkaran yang terjadi dengan Aryan hari itu membuatnya memutuskan untuk pergi dan memulai hidup barunya sendiri. Tanpa Aryan atau kedua orang tuanya. walaupun Mika sangat tau pasti jika dia akan sangat sulit untuk melupakan cintanya terhadap Aryan yang memang sebesar itu.
Erdin yang mendengar itu hanya bisa menatap adiknya. Sungguh dia sangat paham bagaimana perasaan Mika. Karna memang selama ini Erdin sangat tau bagaimana kelakuan Aryan. Hanya saja dia tidak pernah tau jika gadis yang sudah Aryan hancurkan perasaannya adalah adiknya sendiri.
"Jujur kakak juga ikut sedih dengan kehidupan rumah tanggamu, Dek. Tapi sebagai seorang kakak, Aku hanya bisa menjadi mensupport apapun keputusanmu. Karna kakak tau keputusanmu sudah pasti pilihan terbaik. jika memang pergi dari kehidupan Aryan bisa membuat kamu bahagia, maka lakukanlah."
Erdin mendekat lalu memeluk Mika yang sudah menampakkan raut wajah sendunya. Kedua matanya berkaca-kaca. Membuat Erdin semakin paham jika dalam hati Mika Aryan masih segalanya.
"Jangan pernah merasa sendiri, dek. karna ada kakak yang akan selalu menjadi penguatmu" gumam Erdin sambil memeluk Mik serta mengusap lembut rambut Mika dengan penuh sayang.
__ADS_1
Sejak kecil Erdin memang sangat menyayangi Mika. bahkan tak jarang Erdin sering berkorban untuknya. "terimakasih, Kak. Kak Sean memang yang terbaik"
Ana yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut menatap pada Mika."Mika, gue tau ini berat buat lo. Tapi gue sangat yakin kalo lo bisa dan lo kuat."
"Iya, An. Terimakasih, kamu memang yang terbaik"
Pagi itu mereka menghabiskan waktu bersama. Selain untuk menghibur Mika yang sedang kalut, Erdin dan juga Ana ingin mengajak Mika melupakan sejenak rasa luka karna Aryan.
"Oh ya, Mika. apa kamu yakin kalau kamu ingin mengakhiri semuanya?" tanya Ana saat di tengah perjalanan mereka.
Pertanyaan Ana membuat Mika diam, gadis itu tak langsung menjawab. Karna jujur saja sebenarnya Mika sendiri belum terlalu yakin atas keputusannya. Namun saat teringat akan perkataan Adrian kemarin membuat Mika mantap akan keputusannya untuk pergi dari kehidupan Aryan.
"Kamu hanya perlu pergi agar bisa membuatnya rindu. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mika. bahagiakan dirimu sendiri, karna apa? Kamu pantas bahagia walaupun tanpa cinta sekalipun" kalimat itu tiba-tiba saja terngiang pada indra pendengarannya.
Bukan tanpa alasan Adrian mengatakan hal demikian. Karna sebenarnya hal yang membuatnya memutuskan untuk tetap di kota ini adalah rasa kecewa.
"Mungkin memang apa yang Adrian katakan itu benar. Aku harus bisa membahagiakan diriku sendiri. Ada atau tanpa cinta sekalipun. Karna pada dasarnya orang yang benar-benar mencintaiku tidak akan pernah mengecewakanku. Apalagi melukai perasaanku. Dan perlakuan mas Aryan selama ini sama sekali tidak menunjukkan rasa cintanya. apa memang secepat itu Tama melupakan ku" batin Mika yang teringat jika Aryan adalah Tama.
Ana yang melihat Mika hanya diam tak menjawab menepuk pundaknya"Mika, kenapa kamu hanya diam saja? Apa ini sudah keputusan Final yang kamu punya? Apa kamu sudah benar-benar yakin?" Ana kembali mengulang pertanyaannya.
"Aku yakin, Ana. Bahkan aku sangat yakin dengan keputusanku. Mulai hari ini aku harus bisa memikirkan diriku sendiri. sudah cukup aku berkorban untuknya. Aku sudah lelah, Benar-benar lelah" Mika mengusap kedua matanya yang terasa berkabut.
Biarpun meninggalkan Aryan rasanya lebih menyakitkan, Namun Mika sudah teguh akan pendiriannya. Mungkin memulai hidup baru dan lebih mencintai dirinya sendiri akan lebih baik.
__ADS_1
"Biarpun sulit, tapi aku akan berusaha melakukannya. Karna apa yang Adrian katakan memang benar, aku harus bisa lebih mencintai diriku sendiri" batin Mika sembari mencoba mengangkat kedua sudut bibirnya yang terasa sangat kaku.
****