
"Jangan-jangan" Bianca mulai terdiam saat bayangan istri dari om Diki melintas begitu saja. sungguh saat membayangkan wajah marah wanita paruh baya itu saja sudah membuatnya sedikit merinding. bagaimana jika sampai apa yang dia takutkan memang benar. Bahwa yang mengirimkan pesan itu adalah istri dari om Diki.
Hal itu semakin membuat Bianca merasa sangat takut. kenapa sebelum melakukan semuanya Bianca tidak berpikir dua kali. bahkan dia gelap mata hanya Karna uang yang sudah di janjikan oleh pria tua itu.
"Astaga, Bagaimana ini. Gimana kalau memang yang sudah mengirim pesani itu adalah tante Yola, Duuh bisa abis aku dibejek-bejek sama dia" ujar Bianca yang terlihat mulai panik.
Setelah itu Bianca memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Bianca hanya bersiap sebentar dan langsung jalan menuju tempat dimana sudah ada Aryan yang menunggu kedatangannya. entah apa yang akan Aryan lakukan padanya hari ini. Tapi yang pasti mendengar suara dingin Aryan saja sudah mampu membuat Bianca sedikit merinding.
Saat Bianca sudah keluar dari dalam kamarnya, Tiba-tiba saja langkahnya terhenti oleh suara sang ibu yang baru saja keluar dari dapur.
"Bi, Kamu mau kemana kok sudah rapi? bukannya semalam kamu bilang kalau hari ini libur kerja? ujar sang ibu sambil berjalan mendekat pada Bianca.
Bianca diam sesaat, Dia tidak tau harus menjawab apa. Karna memang semalam Bianca sempat mengatakan jika hari ini dia libur kerja.
"Bi, Kenapa diam?" lanjut Yola lagi
"Eemm iya, Bu. ternyata hari ini Bianca gak jadi libur, Soalnya ada meeting yang bos percayakan pada Bianca. oleh karena itu mau tidak mau Bianca harus kesana" Bianca masih berusaha menunjukkan citra baik di hadapan sang ibu. memang selama ini Yola tidak pernah tau apa yang sudah dilakukan oleh anaknya di luar sana. yang Yola tau adalah Bianca anak yang berbakti kepada orang tua.
"Begitu ya. Yasudah kamu hati-hati di jalan ya Bi, Uhukk...Uhukkk" Bianca menatap wajah pucat sang ibu dengan penuh rasa bersalah. .
"Maafkan Bianca Bu. maafkan Bianca yang selalu membohongi ibu, Tapi semua yang Bianca lakukan hanyalah semata-mata demi kesembuhan ibu" batin Bianca dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, Bu. Bianca pasti hati-hati dijalan kok. Ibu baik-baik dirumah ya. Maafkan Bianca yang hari ini tidak bisa menemani ibu dirumah" balas Bianca sambil memeluk sang ibu.
"Iya, Bi..Ukuhhh...uhukkk"
__ADS_1
Sungguh Bianca rasanya ingin sekali menangis saat melihat kondisi sang ibu yang begitu menghawatirkan. semenjak di tinggal selingkuh oleh ayahnya membuat Bianca menjadi sosok yang liar dan keluar masuk club.
"Bianca pamit ya, Bu. jangan lupa kalau ada apa-apa ibu telfon Bianca ya"
Setelah itu Bianca keluar dari dalam rumahnya dengan membawa rasa sesak di dada. Sungguh sakit saat melihat keadaan sang ibu seperti itu, Dan itu semua karna ulah sang ayah.
"Seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkan laki-laki itu" ujar Bianca di sela langkahnya.
Bianca mengusap kedua matanya sebelum ojek online yang dia pesan datang.
Dtttt.....Dttttt
( Kita lihat Karma apa yang akan segera kamu dapatkan, Pelakor!! )
Lagi-lagi pesan yang dia dapatkan semakin membuatnya panik. Apalagi saat membaca kata karma. Bianca menjadi takut dengan kemungkinan karma buruk yang akan dia dapatkan dari apa yang sudah dia lakukan selama ini.
Di tempat yang tak terlalu jauh, Ada seseorang yang sedang mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat orang yang baru saja membaca pesan yang sudah dia kirimkan.
Regan tersenyum puas saat melihat Bianca keluar dari dalam rumahnya dengan wajah yang terlihat panik. Saat mengetahui jika wanita yang sudah membuat Mika terluka adalah tetangganya sendiri, Membuat Regan ingin memberikan wanita itu pelajaran.
"Ini masih permulaan, Bianca. lihat saja apa yang bisa gue lakukan atas apa yang sudah Lo lakuin pada Mika." ujar Regan yang merasa tidak terima dengan apa yang sudah Bianca perbuat. Karna Bianca gadis yang berhasil mengambil hatinya harus merasakan sakit hati dan sering menangis.
Regan menatap layar ponselnya. Dimana tersimpay foto Mika yang dia ambil beberapa waktu lalu saat pertemuan pertama mereka.
"Kamu cantik sekali, Mika. betapa bodohnya suamimu yang sudah menyia-nyiakan istri sepertimu. kenapa bukan aku yang menjadi suamimu, Kenapa harus pria tak tau diri sepertinya" kata Regan sambil menatap foto Mika yang ada di galeri fotonya.
__ADS_1
*
*
*
Mika dan Marvin sudah take off dari jakarta ke kota Milan. Sungguh Mika merasa sangat gelisah. Apakah keputusannya sudah tepat atau justru salah besar.
Sejak tadi Mika hanya diam sembari menatap ke luar arah jendela. menikmati kabut awan di sana. cuaca yang begitu terang menampakkan keindahan langit biru di siang hari ini.
"Ya Allah, aku tidak tau apakah ini adalah keputusan terbaik yang pernah aku pilih. tapi aku mohon, Tunjukkan jalan terbaikmu ya, Allah. karna aku yakin, Sebaik-baiknya skenario, lebih baik skenario yang sudah engkau tetapkan untukku" ujar Mika dal batinnya sambil terus fokus menatap ke luar jendela. bahkan Mika sampai tidak menggubris perkataan Marvin yang sejak tadi mengajaknya bicara. .
"Mika, Are you oke?" tanya Marvin karna Mika hanya diam tak menjawab sepatah katapun.. Namun lagi-lagi Mika tak menjawab. tatapannya kosong dengan kedua mata yang sudah terlihat berkaca-kaca.
"Mika. Apa kamu baik-baik saja?" Marvin kembali melontarkan pertanyaan yang sama sembari menepuk pundak Mika. membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Iya, Kak. kenapa?" tanya Mika sambil menoleh pada Marvin.
"Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? kenapa sejak tadi kamu hanya diam saja?" tanya Erdin pada Mika.
Mika mengangguk"Aku baik, kak. maaf ya kalau tadi aku gak dengerin kak Marvin ngomong"
"Tidak masalah. Tapi kamu benaran baik-baik saja kan?" Marvin masih ingin memastikan jika memang Mika baik-baik saja. Biarpun sebenarnya dia sangat paham kenapa Mika seperti itu.
"Iya, Kak. aku baik-baik saja kok. Kak Marvin gak usah khawatir ya" Mika sedikit mengangkat kedua sudut bibirnya yang terasa kaku. entah kenapa sejak tadi wajah Aryan terus saja mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Marvin tak lagi menjawab. Pria itu hanya menatap pada Mika yang sudah kembali menoleh ke luar jendela"Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini, Mika. apa memang sebesar itu perasaan kamu terhadap Aryan" batin Marvin sambil menatap Mika.