
"Memangnya kebodohan apa yang sudah tuanku lakukan sehingga membuat nona pergi?" suara Aditya berhasil mengejutkan Aryan. Pria itu membalikkan tubuhnya lalu menatap pada Aditya"Tidak usah terlalu kepo!" balasnya serta langsung berlalu dari hadapan Aditya. Meninggalkannya yang masih begitu kepo sembari menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
Aditya menatap punggur Aryan sambil menggelengkan kepalanya"pantas saja di tinggal sama istrinya, Sifatnya buruk begitu" ujar Aditya pelan. Beruntung Aryan tidak mendengar perkataannya, karna kalau sampai Aryan mendengar apa yang baru saja Aditya katakan, sudah bisa di pastikan jika Aryan akan memberikan tatapan tajam seperti singa yang akan memakan mangsanya.
"Benar-benar menakutkan dia" lanjut Aditya lagi.
Karna apartemen itu hanya memiliki satu kamar, maka dengan sangat terpaksa Aryan harus berbagi kamar dengan Aditya. Bahkan bukan hanya kamar saja, karna setelah kembali dari balkon, Aditya main tidur di samping Aryan serta tidur dengan gayanya yang brutal.
Aryan menutup kedua telinga saat suara dengkuran Aditya semakin keras dan begitu mengganggu"Astaga, ada apa dengannya. Tidur berisik sekali" Aryan mulai merasa kesal karna dia tidak bisa tidur karna suara dengkuran Aditya yang begitu keras dan memekik di telinganya.
Hal itu tanpa sadar kembali membuat Aryan teringat akan malam dimana dia dan Mika tidur di dalam kamar serta ranjang yang sama.
****
Tanpa terasa malam sudah berlalu, Aryan membuka kedua matanya saat merasakan pegal di lehernya. Karna suara dengkuran Aditya yang begitu mengganggu, Akhirnya pria itu memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu.
"Selamat pagi, Tuanku. Kenapa tuanku tidur di sini?" tanya Aditya tanpa rasa bersalah.
"Masih tanya kenapa saya tidur di sini. Ini semua karna suara dengkuran kamu yang sangat tidak sopan. Berisik dan mengganggu!"
"Ya mana saya tau, orang saya tidur. Maaf ya tuanku yang paling baik sedunia."
Aryan tak menjawab, pria itu hanya bangun dari duduknya dan melirik malas pada Aditya. Kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Karna hari ini dia sudah memutuskan untuk pergi mencari Mika berangkat lebih awal dari pada hari kemarin. Namun sebelum itu Aryan masih meminta Aditya untuk membeli sarapan buat mereka berdua.
"Saya mau mandi dulu, kamu tolong beli makan di restoran kemarin" kata Aryan sambil memberikan uang untuk Aditya membeli sarapan buat mereka berdua.
"Siap, Tuanku." Aditya menerima uang pemberian Aryan. Dia segera keluar dari apartemen untuk membeli sarapan di restoran tempat mereka makan kemarin sore.
45 Menit sudah berlalu, Namun Aryan masih tidak melihat tanda-tanda kedatangan Aditya" Kenapa dia lama sekali, Perasaan restorannya tidak begitu jauh" gumamnya sambil menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Hingga tak berselang lama, Pintu apartemen pun terbuka, Aryan mengira jika yang datang adalah Aditya, Namun ternyata dia salah,
"Kenapa lama seka-" ucapannya terhenti saat Adrian sudah masuk ke dalam apartemen itu.
Entah sudah berapa lama mereka berdua tidak bertemu, Tapi yang pasti ini pertemuan pertama setelah perselisihan itu terjadi di antara mereka empat tahun yang lalu.
"Elo! Ngapain lo kesini?" Aryan menatap malas pada Adrian, Begitu juga sebaliknya. "Gue cuma mau ngasih ini. Tadi temen lo itu titip saat gue pulang dari restoran" Adrian meletakkan paper bag yang berisi makanan yang di titipkan oleh Aditya tadi.
Beberapa saat yang lalu, Saat Adrian keluar dari restoran tempatnya bekerja, Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Aditya yang terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.
"Oh.. Memangnya Aditya kemana? Kenapa dia tidak mengantarnya sendiri?" tanya Aryan pada Adrian. Karna memang Aditya tidak ada memberi kabar sedikitpun. entah kemana pria itu pergi.
"Tanya saja sendiri" balas Adrian tanpa menoleh ke arah Aryan. Membuat Aryan mengumpat menahan kesal akan saudara sepupu yang wajahnya begitu mirip dengannya.
"Dasar menyebalkan! ini lagi kenapa si Aditya tidak ada mengatakan apa-apa. Memangnya dia kemana?"
***
Aditya terus memperhatikan seorang gadis cantik yang sedang sibuk dengan pekerjaannya."Tidak salah lagi, Dia memang istrinya tuan Aryan" ucap Aditya sambil terus memperhatikan seorang gadis cantik yang ada di kasir.
Sudah lebih 30 menit Aditya masih terus duduk di restoran itu. Saat sudah melihat gadis itu sedikit santai, Aditya menghampirinya.
"Selamat pagi, Nona"
"Selamat pagi, Ada yang bisa saya bantu? Loh, Anda Ini kan masnya yang tadi pesan makanan khas indonesia bukan?" gadis itu tentu saja masih ingat jelas akan pria yang berdiri di hadapannya.
"Benar, Nona. Apa saya bisa berbicara berdua sebentar dengan anda. Soalnya dan hal penting yang harus saya pastikan?"
Mika mengerutkan keningnya, Memangnya ada hal apa yang ingin dia bicarakan. Pasalnya Mika tidak merasa mengenalnya, lalu kenapa pria itu tiba-tiba saja mengajaknya berbicara berdua?
__ADS_1
"Hal penting? Hal penting apa ya, Mas. Memangnya sebelumnya kita pernah kenal ya?" tanya Mika yang terlihat sedikit bingung.
Aditya menggeleng"Tidak, Kita tidak saling mengenal. Tapi saya yakin anda pasti mengenal tuan Aryan"
Deg!!
Mendengar Aditya menyebutkan nama Aryan membuat Mika terdiam sejenak"Kita bicara di sana" Mika berjalan ke salah satu meja kosong yang cukup jauh dari meja yang lain.
"Hal apa yang mau anda bicarakan? Cepat katakan"
Aditya masih menatap sendu pada sosok gadis yang ada di hadapannya. Saat tadi dia mengucapkan nama Aryan, Aditya bisa melihat jelas seperti ada rasa sakit yang terpancar dari kedua sorot mata gadis ini.
"Maaf, Nona. Mungkin ini terdengar lancang, Tapi sebagai orang suruhan tuan Aryan, saya ingin tau sedikit masalah yang terjadi di antara kalian berdua. Karna tuan Aryan hanya meminta saya buat mencari anda tanpa mengatakan alasan kenapa anda pergi dari hidupnya. Sebenarnya kenapa anda memutuskan untuk pergi dari kehidupan tuan Aryan?" Karna saya penasaran yang begitu besar akan alasan kepergian Mika, Akhirnya Aditya menanyakan langsung pada orang yang bersangkutan.
Namun Mika tak langsung menjawab. Kedua katanya berkaca-kaca sambil menoleh ke lain arah. Hal itu sudah membuat Aditya mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Tidak perlu menjawab. Melihat ekspresi anda saja sudah membuat saya paham"
Mika mengusap kedua matanya yang mulai sedikit basah"Jika anda mengerti, saya harap anda tidak akan pernah mengatakan jika hari ini and bertemu dengan saya. Karna saya sudah tidak ingin mengulang rasa sakit karna perlakuannya"
Setelah mengatakan hal itu, Mika langsung bangun dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Aditya. bersamaan dengan itu, Ponsel Aditya berdering, ada sebuah pesan masuk yang ternyata dari Aryan.
📱:Halo, Tuan
📱:Kamu dimana? Cepat kembali ke apartemen. Karna setelah ini kita harus segera mencari keberadaan Mika. Waktu kita hanya tinggal dua hari
Aditya menatap pada layar ponselnya lalu menoleh ke arah Mika yang terlihat sangat sendu.
"Apa yang harus aku lakukan" batin Aditya yang bingung dengan situasi ini. Di satu sisi dia sudah menemukan Mika. Namun di sisi lain ada rasa tidak tega saat melihat ekspresi wajah Mika seperti itu.
__ADS_1