
"Maksud, Oppa?" tanya Mika yang memang belum mengetahui apa-apa soal Helena dan juga Jovan.
Tuan Atmaja menoleh pada asisten Jo. pria itu langsung paham maksud dari tatapan dari tuan Atmaja"Nanti biar asisten Jo yang menjelaskan maksud perkataan Oppa tadi. tapi sekarang kamu makan malam dulu. setelah itu kembali lagi kesini untuk mulai belajar dengan asisten Jo" lanjut tuan Atmaja lagi.
Mika hanya mengangguk. gadis itu keluar dari sana untuk makan malam terlebih dahulu. selain itu Mika juga ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket terlebih dulu.
"Sebenarnya apa maksud dari perkataan Oppa ya. ahh kenapa aku jadi penasaran maksud perkataannya tadi. lebih baik aku segera mandi lalu makan malam"
Mika mempercepat langkahnya naik ke lantai tiga. gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandinya dengan sangat cepat. bahkan hanya memerlukan waktu lima belas menit Mika sudah selesai dan siap untuk makan malam.
Di meja makan ternyata sudah ada tuan Atmaja dan juga asisten Jo yang sedang menunggu kedatangan Mika.
"Maaf ya sudah buat Oppa nunggu lama" ujar Mika serta langsung duduk di meja yang ada di depan tuan Atmaja.
"Tidak masalah, Cucuku. sekarang mari kita makan. semoga kamu menyukai makanannya" ucap tuan Atmaja yang terdengar begitu lembut pada Mika. bahkan bukan asisten Jo yang mendengar itu di buat melongo seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar dan dia lihat saat ini.
"Apa saya tidak salah dengar. ternyata tuan Atmaja yang begitu dingin dan kasar bisa selembut itu" batin asisten Jo sambil menatap pada Atmaja yang sudah menikmati makanannya.
selama ini memang Atmaja tidak pernah berbicara lembut pada siapapun. yang asisten Jo tau tuan Atmaja selalu berbicara dengan nada dingin. tapi semua itu tidak dia lihat saat tuan Atmaja memperlakukan cucunya. bahkan sebaliknya.
Asisten Jo tersenyum. setidaknya kehadiran cucunya sudah membawa banyak perubahan pada pria tua itu.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, seperti yang sudah di rencanakan sejak tadi. Mika akan mulai belajar soal perusahaan malam ini juga bersama dengan asisten Jo. karna kecerdasan yang Mika miliki membuat asisten Jo tidak kesulitan mengajari hadis itu. dia hanya perlu menjelaskan sekali dan langsung di mengerti oleh Mika.
Hingga tanpa sadar sudah dua jam berlalu. hari pertama sudah membuat asisten Jo terkesan akan calon pewaris tunggal AF group. sepertinya perusahaan itu akan semakin maju jika Mika yang menjadi pemimpinnya.
"Bagaimana, Jo. apa kamu kesulitan mengajarinya?" tuan Atmaja yang sudah penasaran langsung menanyakan hal itu setelah melihat Mika keluar dari ruangan kerjanya.
asisten Jo menggeleng"Tidak, tuan. justru nona muda calon pemimpin yang di tunggu oleh perusahaan. dia gadis yang sangat cerdas. saya bisa pastikan AF Group akan semakin maju jika dia yang menjadi pemimpinnya. tidak terlalu sulit mengajarinya"
tuan Atmaja yang mendengar hal itu tentu saja merasa sangat senang. setidaknya dia bisa menaruh harapan besar akan Mika."Good. Itu yang saya inginkan" gumamnya seraya tersenyum.
Senyuman pertama yang asisten Jo lihat dari sosok yang ada di hadapannya. Karna memang selama ini tuan Atmaja sangat jarang tersenyum apalagi terlihat bahagia seperti itu.
Karna urusan di mansion utama sudah selesai, asisten Jo pun pamit untuk kembali ke paviliun.
"Anda belum tidur, Tuan?" Aditya menghampiri Aryan yang sedang merenung di atas balkon. Pria itu membawa dua cangkir kopi susu dan dia letakkan di meja yang ada di sana.
"Seperti yang kamu lihat. Kalau saya sudah tidur bagaimana bisa saya berdiri disini. Ada-ada saja kamu ini" balas Aryan tanpa menoleh pada Aditya. Tatapannya masih fokus pada mansion yang ada di sebrang jalan apartemennya. Aryan masih penasaran dengan gadis yang dia lihat kemarin malam.
"Kopinya, Tuan" Aditya menikmati kopinya sendiri. Pria iru mengerutkan keningnya saat melihat Aryan terus menatap pada mansion itu dan tidak memperdulikannya.
Hal itu membuat Aditya meletakkan cangkir yang ada di tangannya lalu ikut berdiri di samping Aryan. Mengikuti arah pandang Aryan yang menuju ke salah satu kamar mansion itu"Apa yang anda lihat, Tuan? Kenapa sejak tadi saya perhatikan sepertinya anda mengawasi kamar itu" Aditya menatap pada Aryan.
__ADS_1
"Tidak ada. hanya saja saya penasaran dengan sosok gadis yang saya lihat kemarin malam. Dari postur tubuhnya mengingatkan saya pada Mika." balas Aryan yang masih fokus dengan apa yang sejak tadi dia perhatikan.
"Sepertinya tidak mungkin jika nona Mika tinggal di mansion itu. Bukannya anda pernah mengatakan jika nona Mika sudah yatim. Kedua orang tuanya meninggal karna di tabrak oleh mama anda sendiri?"
Aryan diam tak menjawab. Sebelumnya Aryan menang sempat mengatakan jika yang sudah membuat Mika menjadi anak yatim adalah orang tuanya sendiri. Karna Aryan sendiri belum tau jika pelaku sebenarnya adalah Diki. Saingan bisnis keluarga Alberto yang kini sudah pailit karna ulahnya sendiri.
"Kamu benar, bagaimana mungkin dia Mika. Dia saja tidak punya keluarga di kota ini." Aryan mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Pria itu meminum kopi susu buatan Aditya dan langsung masuk ke dalam kamar setelah meneguk habis kopi itu.
Tepat saat Aryan sudah masuk ke dalam kamarnya, Aditya kembali menoleh pada kamar yang ada di mansion itu, Cukup terkejut saat melihat sosok Mika yang baru saja menutup gorden jendela kamarnya. "Apa aku tidak salah lihat. Dia kan memang nona istrinya tuanku" Aditya menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
"Jadi tuan Aryan memang benar jika gadis yang dia lihat kemarin memang istrinya. Tapi bagaimana bisa nona itu tinggal di mansion mewah seperti itu. Bukannya tuan Aryan mengatakan jika istrinya yatim piatu. Lalu kenapa dia kerja di restoran itu. Ahhh kenapa aku jadi bingung. Sebenarnya siapa istrinya tuan Aryan ini" Aditya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Kemudian masuk kedalam kamar dan melihat Aryan yang sudah memejamkan kedua matanya.
"Aku bingung, sebenarnya bagaimana perasaannya pada istrinya." batin Aditya sambil berlalu
...----------------...
Setelah cukup lama menatap Aryan dari dalam kamarnya, Mika menutup gorden jendela kamarnya saat melihat Aryan sudah masuk ke dalam kamarnya. Ada rasa rindu yang ingin Mika utarakan. Namun gadis itu sadar jika dia tidak boleh lagi kembali dan berlarut dengan perasaannya untuk Aryan.
"Stop, Mika. Berhenti merindukan pria itu.kamu harus bisa buktikan jika kamu bisa tanpa dia. Kamu harus bisa menghapus semua sisa rasa yang kamu miliki untuknya. Fokus pada masa depanmu." ucap Mika pada dirinya sendiri."Mulai hidup barumu tanpa perasaan pada Aryan. Bukankah dia sudah membuatmu lelah? Jadi berhenti mengorbankan dirimu untuknya" lanjut Mika lagi sambil mengusap kedua matanya yang sudah terasa basah oleh air mata.
Tok ...tok....tok.
__ADS_1
Di saat Mika masih menangis, Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.