
"Mika adalah anak Zoya dan Bisma. Anak dari pasangan suami istri yang menjadi korban tabrak lari mama dua tahun yang lalu" kata Alberto yang berhasil membuat Liana sangat terkejut.
"Apa! Mika adalah anak korban yang mama tabrak dua tahun yang lalu?" Liana kembali memastikan apa yang dia dengar tadi. Bagaimana bisa kebetulan seperti ini.
"Iya, Ma. Tadi David mengatakan jika Mika adalah anak Zoya dan Bisma. Dan masih ada lagi anak laki-laki mereka yang belum David temukan keberadaannya" terang Alberto.
Liana benar-benar terkejut dengan ini. Lututnya kembali terasa lemas dengan dada yang mulai terasa sesak. Entah kenapa tiba-tiba saja Liana merasa takut akan semakin kehilangan Mika saat tau jika gadis itu adalah anak dari korban yang sudah dia sebabkan kehilangan nyawa dua tahun yang lalu. Wajah Liana terlihat pucat pasi sambil duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Alberto yang melihat raut wajah sang istri pucat pasi seperti itu membuatnya langsung berjalan mendekati Liana.
"Ma, mama baik-baik saja kan?" kata Alberto pada Liana. Namun Liana tak menjawab. Dia masih terlalu shock dengan apa yang baru saja dia dengar. Wanita paruh baya itu mendadak terdiam terpaku dengan tatapan yang terlihat kosong.
Beberapa rasa takut mulai mengusik pikirannya. Selain takut akan kata penjara, Liana juga takut jika harus benar-benar kehilangan Mika untuk selamanya.
"Pa, Apa ini artinya mama bakalan benar-benar kehilangan Mika selamanya? Jika sampai Mika tau kalau mama yang sudah menyebabkan kedua orang tua ha meninggal, Bagaimana jika dia tidak mau memaafkan mama? Bagaimana jika Mika sampai membenci mama? Mama benar-benar tidak mau hal itu terjadi pa. Karna mau bagaimanapun mama sudah sangat menyayangi Mika layaknya anak sendiri" kata Liana yang terdengar sangat lirih.
__ADS_1
Sejak dulu keluarga Alberto tidak pernah mendapat berita miring sedikitpun. Bahkan di mata masyarakat keluarga itu adalah keluarga terpandang yang penuh dengan kebaikan serta keharmonisan.
"Apa yang dikatakan mama itu benar. bagaimana jika sampai Mika membenci kita karna masalah ini. Astaga kenapa semuanya malah jadi seperti ini" batin Alberto sambil menatap pada Liana.
Erdin baru saja selesai mandi. Pria itu sudah bersiap dengan baju ternyaman kesukaannya. Seperti yang sudah dia katakan pada Aryan kemarin, Jika beberapa hari ini Erdin tidak bisa masuk bekerja karna harus ikut dengan kedua orang tua angkatnya ke Milan. Biarpun awalnya Erdin menolak, Akhirnya dia terpaksa ikut karna bujukan dari sang mama..
"Sayang, Kamu sudah siapkan semua barang-barang mu kan?" tanya Sofi, mama angkat Erdin.
__ADS_1
"Iya, Ma. Erdin sudah menyiapkan semuanya. Kita di sana hanya satu minggu kan." Erdin duduk dan meminum susu putih hangat yang sudah di siapkan di atas meja makan. Entah kenapa perasaannya sama sekali tidak tenang karna kepikiran akan Mika. Karna setelah kejadian kemarin di rumah Aryan, Erdin tidak bertemu lagi dengan Mika. bahkan dia tidak bisa menghubungi nomor Mika yang di berikan oleh Aryan kemarin.
"Kamu kemana, Mika. Kenapa kemarin aku membiarkannya pergi begitu saja" batin Erdin yang tak menggubris omongan Bagaskara dan juga Sofi istrinya.