
Mendengar semua yang diceritakan oleh anak-anak itu tanpa sadar membuat air mata Aryan meluruh begitu saja. Hatinya terasa seperti tertampar saat mendengar jika Mika begitu bersikeras menciptakan citra baik Aryan sebagai suaminya dan terdengar seperti sosok suami idaman.
Tanpa sadar air mata Aryan meluruh begitu saja saat tanpa sengaja apa yang sudah dia lakukan pada Mika melintas begitu saja. Sungguh Aryan sangat jahat sudah memperlakukan seorang istri yang begitu baik seperti Mika dengan begitu menyakitkan.
"Maafkan aku, Mika. Maafkan aku yang sudah begitu bodoh. Maafkan aku yang lebih membesarkan egoku dari pada rasa cintaku yang sedalam itu terhadapmu" batin Aryan yang terdengar sangat lirih.
Aryan memejamkan kedua matanya sejenak sembari mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Tidak pernah menyangka sebelumnya jika semua akan menjadi seperti ini.
Farel dan Genta yang melihat Aryan seperti itu hanya bisa saling lirik. Mereka tidak mengerti kenapa setelah mendengar cerita yang sudah mereka utarakan wajah Aryan terlihat sangat sendu.
"Kak, Kakak baik-baik saja kan? Atau kami ada salah bicara sampai membuat kakak sedih seperti itu?" tanya Genta sambil memperhatikan Aryan yang sudah menghapus jejak air matanya.
Pria itu menggeleng cepat. Karna memang bukan dari cerita mereka yang sudah membuat Aryan seperti itu, Namun dari setiap bayangan kejadian yang tiba-tiba saja melintas dalam benaknya. Membuat Aryan semakin merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan di masa kemarin.
"Tidak, Oh ya apa kak Mika ada datang kesini? Karna sebenarnya kedatangan kakak ke tempat ini untuk mencari keberadaan Mika" Aryan melai bertanya pada mereka berdua.
"Ada. Kemarin siang kak Mika datang kesini. Dia hanya berpesan agar kita tetap berusaha dengan bekerja, Bukan meminta-minta. Karna meminta-minta itu hal yang sangat rendah. Kata kak Mika selama jiwa kita sehat, Kita wajib berusaha sendiri dan jangan pernah mengandalkan orang lain." gumam Farel yang mengatakan pesan terakhir Mika sebelum dia pergi kemaren.
Ingat, Tama. Kamu harus bisa berdiri di atas kaki mu sendiri, Jangan pernah mengharapkan orang lain untuk selalu bisa menjamin kebahagiaanmu, Apalagi orang tua. Karna pada dasarnya orang tua bukanlah tempat untuk kita bermanja, Mereka adalah surga yang harus kita banggakan. Sosok yang harus bisa kita bahagiakan dengan hal yang bisa kita dapatkan dengan kerja keras kita sendiri.
__ADS_1
Kata-kata itu tiba-tiba saja melintas begitu saja. Membuat Aryan kembali teringat akan setiap momen kebersamaannya dengan Mika saat masih jaman smp. Karna memang setiap kali Aryan bersama dengan Mika, hanya pesan-pesan yang selalu Mika ucapkan. Dan hal itu yang membuat Aryan semakin mengagumi sosok Mika yang begitu positif, Selain cantik dan pintar, Mika terkenal siswa dengan etika yang sangat baik.
"Tapi untuk hari ini kak Mika tidak ada datang, Kak." suara itu kembali menyadarkan Aryan yang sudah terdiam karna teringat akan kaliman pesan yang Mika utarakan untuknya .
"Kalau boleh tau kenapa kakak cari kak Mika? Memangnya kak Mika tidak pulang kerumah ya?" tanya Genta yang mulai penasaran.
"Sebenarnya saya dan kak Mika sedang ada masalah. Dan mulai kemarin kak Mika tidak ada kabar" terang Aryan dengan wajah yang sudah menunduk.
Kedua bocah itu cukup terkejut saat mendengar jika Mika tidak ada kabar. Pantas saja hari ini Mika tidak ada datang ke tempat ini dan memberikan pesan-pesan singkat layaknya seorang kakak pada adiknya.
"Apa! Kak Mika tidak ada kabar" ujar mereka secara bersamaan. Aryan mengangguk dengan wajah sendunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejak tadi Erdin menatap tak suka pada gadis yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Membuat gadis itu merasa sedikit risih karna lirikannya yang menampakkan raut tidak bersahabat.
Hal itu membuat gadis tersebut meletakkan makanan yang ada di tangannya dan membalas tatapan Erdin"Ada apa denganmu? Kenapa liatin gue kayak gitu?" tanya nya sambil menoleh pada Erdin.
"Lo itu kelaparan apa kesurupan. Makannya biasa saja kali, Jangan bikin malu gue sama keluarga gue yang sudah bareng sama lo!" balas Erdin dan berhasil membuat gadis itu mengangkat kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Eleh, Kalo ngomong itu ya di kunyah dulu, Jangan asal begitu! Lo pikir gue setan pake bilang kesurupan. Dasar manusia menyebalkan! Suka-suka gue lah mau makan seperti apa, Seperti orang kelaparan lah, Seperti orang kesurupan lah. Itu bukan urusan lo, Ngerti! Masalah Lo malu atau apa, Silahkan pindah dari sini dan gak usah dekat-dekat sama gue. Repot amat hidup lu"
Setelah mengatakan hal itu Ana kembali menikmati makanannya yang sempat dia letakkan tadi tanpa memperdulikan Erdin yang terlihat sedikit kesal karna perbuatannya tadi.
"Dasar gadis aneh yang menyebalkan. bagaimana bisa mama sama papa membuatku harus duduk berdampingan dengan gadis sepertinya" umpat Erdin dalam batinnya.
Sedangkan Ana terlihat sangat menikmati makanan nya tanpa memperdulikan Erdin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pesawat yang di tumpangi Marvin dan Mika sudah landing dengan selamat di kota Milan. biarpun hatinya terasa sangat gelisah, namun takdir sudah membuatnya berada di kota ini dengan membawa cinta serta rasa luka dan juga kecewa dari dalam batinnya..
Di sepanjang perjalanan tidak ada hentinya Mika memikirkan tentang Aryan. Wajah pria itu terus saja mengganggu benaknya hingga membuat Mika tanpa sadar menyebutkan nama Aryan di depan Marvin.
"Kita sudah sampai ya ka?" tanya Mika sembari menoleh pada Marvin yang sudah bangun dari duduknya.
"Iya, Mika. kita sudah sampai di Milan. ayo kita turun sekarang" Mika tak menjawab, Gadis itu hanya bangun dari duduknya serta langsung keluar dari dalam pesawat dengan Marvin yang mengekor dibelakang.
Namun sebelum benar-benar keluar dari sana, Mika masih mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Tidak menyangka jika hari ini dia sudah benar-benar sampai di kota Milan dan jauh dari jakarta. Meninggalkan Aryan serta cintanya di sana.
__ADS_1
"Apa memang ini saatnya aku memulai hidup baru tanpa mas Aryan?" batin Mika sambil memperhatikan setiap sudut bandara di sana.