
Mika pergi dari rumah yang sudah hampir enam bulan dia tempati bersama Aryan. Nafasnya masih naik turun menahan amarah yang menggebu. Bahkan Mika membiarkan air mata yang sejak tadi menumpuk di kedua pelupuk matanya tumpah begitu saja.
Sebenarnya dari sekian rasa sakit yang pernah dia rasakan, hanya ini hal yang sangat menyakitkan. Entah ini adalah keputusan terbaiknya atau tidak, Mika tidak tau itu. Tapi yang pasti saat ini dada Mika terasa sangat sesak dengan apa yang sedang terjadi.
"Apa mungkin memang ini yang terbaik? Tapi kenapa rasanya hatiku lebih sakit dari pada perlakuan Aryan" gumam Mika yang terdengar sangat lirih.
Mika melangkah tanpa tujuan yang pasti. Entah kemana dia akan pergi setelah ini.
Tiba-tiba saja cuaca yang tadi sangat cerah perlahan mulai meredup. Awan hitam mulai terlihat di bagian langit yang sejak tadi menampakkan indahnya. Angin sepoy dengan suara petir mulai mengisi dan melengkapi siang itu. Namun Mika sama sekali tak menghiraukan perubahan cuaca yang sedang terjadi. kakinya masih terus melangkah dengan air mata yang semakin deras membasahi kedua pipi putihnya.
Hingga tak berselang lama, perlahan gerimis itu pun mulai datang menyiram jalanan dan juga tubuh Mika sekaligus. Gadis itu membiarkan gerimis yang mulai menjadi hujan deras membasahi tubuhnya.
__ADS_1
"Aaaaaaaa. Kenapa hidupku harus seperti ini! Kenapa takdir begitu tidak adil pada jalan hidupku" Mika semakin meraung di tengah jalan itu. Semua hal mulai dia ingat hingga membuat tangisnya semakin pecah. Semua kejadian melintas begitu saja..
"Mama...Papa...nenek... Kenapa kalian harus tinggalin aku sendiri. Hiks....hiks"
Di saat Mika masih meraung, Tiba-tiba saja ada sosok yang berdiri di hadapannya. Mika yang sejak tadi menunduk akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap pada sosok itu.
Melihatnya ada di hadapannya, Mika langsung memeluk erat sosok itu. Menumpahkan semua rasa luka yang sedang dia rasakan saat ini.
"Kak" lirih Mika sambil memeluk erat Marvin. Ya, pria yang berdiri di hadapan Mika adalah Marvin. Sosok yang selalu diam-diam memperhatikan Mika.
Setelah mengetahui jika Mika mencintai sosok Aryan, Marvin memutuskan untuk memendam semuanya. "Kamu kenapa, Mika. Are you oke?" Marvin membalas pelukan Mika sambil menatap wajahnya yang terlihat sangat sendu.
__ADS_1
Saat melihat Mika keluar dari rumah Aryan dengan membawa koper, Marvin kembali mengikuti gadis itu.
"Bawa aku pergi kak.. Bawa aku pergi sejauh mungkin"
Marvin mengerutkan keningnya, dia semakin merasa penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara Mika dan juga Aryan.
"Hikss....hiks ..Tolong bawa aku pergi, Kak. Aku lelah, aku capek dengan hidupku sendiri" Mika kembali bersuara lirih di sela tangisnya. Marvin tidak pernah tau dengan apa yang terjadi pada rumah tangga Mika dengan Aryan.
Tanpa terasa malam sudah berlalu begitu saja. Mika menatap layar ponselnya lalu mengirim sebuah pesan untuk sang mama mertua. Karna mau bagaimanapun selama ini Liana sudah sangat baik terhadapnya. Mika merasa tidak enak hati jika harus pergi tanpa pamit.
Selamat pagi, Ma. Sebelumnya Mika minta maaf sama mama, maafkan Mika jika pada akhirnya hal ini yang menjadi pilihan Mika. Tapi jujur saja setelah melihat foto mas Aryan dengan bianca di dalam hotel, Rasanya hati Miia begitu sakit. Sangat sakit. Mika sudah tidak kuat lagi jika harus pura-pura kuat. Mika menyerah, Ma. Mika pamit sama mama dan juga papa, Maafkan Mika jika pada akhirnya Mika memutuskan untuk menyerah dari pernikahan ini. Jaga diri mama dan papa baik-baik ya. Mika sayang sama kalian berdua. Maafkan Mika jika selama ini Mika belum bisa memberikan yang terbaik.
__ADS_1
Saat menulis pesan itu Mika berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya. Biarpun meninggalkan Aryan adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya, Namun Mika sudah memutuskan untuk berusaha ikhlas akan semua ini. Setelah hampir tiga tahun, Akhirnya Mika sudah tiba di titik puncak lelahnya.
"Mika, Bersiaplah. Sepuluh menit lagi pesawat akan segera take off" suara itu membuat dada Mika kembali terasa sesak. Apa mungkin ini adalah keputusan terbaik? Pergi dari kehidupan Aryan dan ikut bersama dengan Marvin ke Milan. Mika sampai lupa akan Erdin kakaknya.