
Aryan terus menatap dokter Andre yang sudah menjauh. Entah kenapa sikap dokter itu hari ini sangat berbeda padanya. Padahal biasnya dokter Andre akan selalu bersikap ramah pada Aryan karna dia anak dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun hari ini Aryan sama sekali tidak melihat keramahan dari wajah dokter itu. Justru Aryan merasakan hal yang sebaliknya. sikap dingin serta wajah datarnya.
"Ada apa dengan dokter Andre. Kenapa dia tidak ramah seperti biasanya."ujarnya sambil terus menatap dokter itu. tentu saja Aryan merasa penasaran
Setelah itu Aryan yang tidak mau terlalu memikirkan tentang perubahan sikap dokter itu akhirnya kembali masuk ke dalam mobilnya serta kembali melajukan mobil itu, Beruntung karna jalanan sudah tidak sepadat tadi lagi.
1 jak kemudian, Mobil Aryan sudah sampai di tempat pertemuannya dengan Aditya. Karna sudah begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Aditya, akhirnya Aryan segera turun dari dalam mobil lalu berjalan cepat ke tempat duduk Aditya.
"Apa kamu sudah lama menunggu?"
"Tidak, tuan. Saya juga baru saja sampai satu jam yang lalu" Adrian menatap lelah pada Aryan. Karna memang dia sudah sampai di tempat ini satu jam yang lalu. pasalnya Aryan mengatakan jika dia dekat dengan tempat pertemuan yang dikatakan oleh Aditya tadi.
"Maaf tadi saya jalannya macet"
"tidak masalah, Tuan. Saya hanya bercanda. karna saya lihat anda begitu lelah"
Aryan duduk dan kembali menatap pada Aditya"cepat katakan apa yang mau kamu katakan, Dit? apa kamu sudah menemukan dimana keberadaan Mika saat ini?" tanya Aryan dengan penuh harap. sungguh Aryan sangat mengharapkan berita itu yang akan dia dengar dari Aditya saat ini.
Dan ternyata memang benar, Aditya memang mengatakan jika tujuannya meminta Aryan untuk menemuinya hanya ingin mengatakan jika dia sudah mendapatkan informasi akan keberadaan Mika saat ini.
"Sudah, Tuan. Ternyata istri anda saat ini sedang ada di kota Milan. Menurut salah satu teman saya, dia sempat melihat Mika naik ke pesawat dengan tujuan negara Italia" terang Aditya pada Aryan.
Setelah satu minggu mencoba mencari informasi keberadaan Mika dengan bermodal foto, akhirnya tadi siang Aditya mendapatkan informasi yang cukup valid tentang kemana Mika pergi.
"Apa! Italia?" tanya Aryan yang begitu terkejut.
"Benar, Tuan. Setelah satu minggu saya terus mencari informasi di bandara, akhirnya saya mendapatkan petunjuk."
Aryan tak lagi menjawab. Pria itu hanya mengambil ponselnya lalu meminta pak Wanto untuk menyiapkan jet pribadi milik keluarganya. Setelah mendengar penuturan dari Aditya, Aryan tidak lagi mau membuang-buang waktu. dia memutuskan untuk langsung datang ke negara Italia biarpun tidak tau dimana alamat pasti Mika di sana.
__ADS_1
Tapi yang pasti Aryan baru teringat jika om dan juga tante, adik dari sang papa yang bernama Angga sedang ada di negara itu. Aryan langsung memutuskan untuk datang ke alamat apartemen mereka yang ada di kota Milan.
📱:Halo, Pak. Saya mau pak Wawan menyiapkan jet. Karna malam nanti saya harus melakukan penerbangan ke italia.
📱:Baik, tuan muda. Saya akan persiapkan semuanya
Tut.. Tut...Tut
Aryan langsung memutuskan sambungan telponnya setelah mengatakan pada pak wanto. Kemudian dia menoleh pada Aditya yang hanya diam memperhatikan Aryan.
"Sekarang kita pulang. Kamu bersiap, Karna nanti malam jam setengah tuju kita akan melakukan penerbangan ke italia"
Aditya menatap tak percaya pada Aryan. "Tapi, Tuan. Sa-" ucapannya terhenti saat Aryan dengan cepat menimpalinya.
"Saya akan membayar tiga kali lipat. asal kamu mau ikut bersama saya ke itali dan membantu saya mencari Mika"
"Ck!! Dasar mata duitan" Aryan mengangkat sebelah sudut bibirnya sambil menatap pada Aditya
"Jaman sekarang uang itu segalanya, Tuanku. Tanpa uang kita bukan siapa-siapa" balas Aditya sambil terkekeh.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Aditya. Jama sekarang uang itu segalanya. Biarpun banyak yang mengatakan jika uang bukan segalanya, uang tidak akan dibawa mati. Namun nyatanya segalanya butuh uang. bahkan banyak yang bisa terasa mati tanpa adanya uang.
"Kalau bicara suka bener. Sudah sekarang kamu pulang lalu bersiap. Nanti jam enam sore datang ke rumah saya"
"Baik tuanku. urat nadi saya rasanya lebih semangat saat mendengar bayaran yang akan tuanku berikan. Hihi... Senang bekerja sama dengan anda"
Setelah mengatakan hal itu Aditya langsung berlalu dari hadapan Aryan sebelum mendapatkan umpatan dari pria itu. "Saya duluan tuanku" ucapnya lagi
"Dasar bedebah mata duitan. Giliran ada bunyi yang lipat saja matanya langsung ijo"
__ADS_1
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 18:00. Seperti yang sudah dikatakan jika Aryan akan menunggu Aditya dirumahnya. dan benar saja pria itu datang tepat waktu.
saat ini Aryan masih duduk bersama dengan kedua orang tuanya di ruang tengah"Apa kamu yakin bisa menemukan Mika di milan? Italia itu luas, Aryan. kamu tidak tau pasti dimana tempat Mika disana" ujar Alberto pada Aryan.
"Aryan tau, pa. Tapi entah kenapa saat mendengat kata Italia membuat Aryan langsung tertuju pada kota Milan. bukankah saat ini om Angga sama tante Hesti ada disana. Nanti biar Aryan langsung ke apartemen mereka saja" balas Aryan sambil menoleh pada sang papa.
Liana yang sempat mendengar jika Mika saat ini sedang ada dikota italia sedikit mengangkat kedua sudut bibirnya. Setidaknya ada secercah harapan untuk bisa bertemu dengan Mika kembali.
"semoga kamu bisa segera menemukan Mika ya, Aryan. Mama akan selalu berdoa semoga allah memudahkan jalan kamu untuk menemukan Mika. Karna mama masih sangat berharap dia kembali" kata Liana penuh harapan.
"Insyaallah, ma. Semoga saja Mika bisa segera Aryan temukan"
"Oh ya, ma, pa. Kalau begitu Aryan pamit dulu ya,"
Setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya Aryan langsung keluar dari dalam rumahnya. Di luar sudah ada Aditya yang menunggu.
mobil itu melaju mengantarkan Aryan dan juga Aditya menuju bandara. Aryan melirik pada Aditya yang sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya"ada apa dengannya. Kenapa dia senyum-senyum sendiri seperti itu. Seperti orang yang sedang jatuh cinta saja" batin Aryan dalam batinnya sambil menatap pada Aditya.
Mobil itu mereka lalui dengan keheningan. Karna Aryan dan Aditya sama-sama sibuk dengan ponselnya masing-masing. "Yes" kata Aditya yang seketika memecahkan keheningan.
"Ada apa denganmu? Kenapa heboh seperti orang yang baru saja mendapatkan harta karun" Setelah cukup lama terdiam dan hanya memperhatikan Aditya, akhirnya Aryan mengajukan pertanyaan yang sejak tadi membuatnya penasaran.
"Ini bahkan lebih dari harta karun, Tuanku. Pasalnya saya mendapatkan gadis yang saya suka sejak lima tahun yang lalu. Sungguh hal ini membuat saya bahagia melebihi mendapatkan harta karun"
Aditya kembali menatap layar ponselnya dengan kedua sudut bibir terangkat. namun berbeda dengan Aryan, Karna saat melihat Aditya seperti itu dia kembali teringat akan perlakuannya pada Mika.
"Maafkan atas kebodohan yang pernah aku lakukan, Mika" batinnya lirih
__ADS_1