
"Mau kemana kamu, Mika?" tanya Adrian saat melihat Mika bangun dari duduknya dan berlalu dari saja. "kamar mandi kak, Kebelet" balasnya dan semakin mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.
Di RUANG TAMU
"Akhirnya kalian datang juga" gumam papanya Marvin pada kedua orang tua Erdin yang sudah duduk di ruang tamu.
"Iya, Di. Maaf ya kami baru bisa malam ini datang kesini, Soalnya dari kemaren ini masih sibuk sama hotelku yang baru buka dua hari lalu" Bagaskara mengangkat kedua sudut bibirnya sambil menatap pada Dirgantara.
Sedangkan para istri saat ini hanya sibuk membicarakan perihal tas dan juga baju branded. namun tiba-tiba saja mereka dikagetkan dengan tingkah Erdin dan juga Anak yang masih belum selesai berdebat. mulai dari rumah hingga di perjalanan mereka berdua masih memperdebatkan hal yang sama.
"Eh, Erdin. Loe itu ngeselin banget sih. Kenapa coba mama sama papa itu harus nyuruh gue buat ikut dan bareng sama loe yang nyebelin" cicit Ana dengan wajah masamnya.
"Lah kok loe malah bilang gue yang yang nyebelin, Dasar gak sadar diri. Yang nyebelin itu siapa? Lagian siapa juga yang nyuruh loe mau ngikut sama kita. gue malah lebih nyaman gak ada Lo" balas Erdin yang tak mau kalah. sehingga mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
Bagaskara serta istrinya yang melihat Erdin serta Ana yang masih saja berdebat saling lirik. Pasalnya mereka berdua berdebat mulai dari apartemen. Hingga sampai di tempat ini mereka belum juga kelar.
"Erdin, Ana. Ini serius kalian masih berdebat soal hal yang tadi? astaga" Bagaskara menggeleng tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
Erdin dan juga Anak yang mendengar suara sang papa seketika langsung senyap. Mereka berdua cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Heheh, Nggak kok om. Kami berdua gak debat, Ini tadi kak Erdin minta di ambilkan kue sama Ana. Soalnya dia yang mau ngambil sendiri kejauhan. Iya kan kak" Ana mengedipkan sebelah matanya pada Erdin. dan anehnya si Erdin hanya mengangguk mengiyakan perkataan Ana..
"I..Iya, Pa. tadi Erdin minta tolong si Ana buat ambilkan kue itu. soalnya kan papa tau sendiri kalau kue brownies ini kue kesukaan Erdin"
__ADS_1
Beruntung karna kue yang tersaji di depan mereka adalah kue Brownis kesukaan Erdin..
"Oowww. Papa pikir kalian berdua masih berdebat soal yang di apartemen. akur-akur, Karna kalian itu sudah kami jodohkan" Bagaskara tanpa sadar mengatakan perihal rencana perjodohan antara Erdin dan juga Ana.
Erdin dan Ana yang mendengar itu tentu saja terkejut"Apa!!" Ana menatap pada Erdin serta Bagaskara secara bergantian. masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar
"Om mah kalo bercanda suka ngawur. Pasti om hanya bercanda kan? Yang om katakan tadi gak sirius kan om. Iya kan Tante" Ana memastikan apa yang dia dengar tadi pada Yola.
Sebelum menjawab Yola masih menoleh ke arah suaminya. Bagaskara yang paham akan maksud sang istri langsung menganggukkan wajahnya. Mungkin memang ini saatnya mereka mengatakan jika memang Erdin dan Ana sudah di jodohkan sejak beberapa bulan yang lalu. hanya saja Bagaskara serta kedua orang tua Ana masih menunggu waktu yang tepat.
"Iya, Memang kalian berdua sudah sepakat akan kami jodohkan. Dan mama juga papa tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun.
Di Indonesia
"Ini meetingnya sudah selesai kan? saya permisi dulu" kata Aryan pada Dita, Klien yang ada di depannya yang sedang merapikan berkas-berkasnya.
"Sudah, Pak. terimakasih atas waktunya. semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"
Setelah itu Aryan langsung berlalu keluar dari restoran itu. Meninggalkan Dita yang masih sibuk dengan berkas-berkas miliknya.
Dita menatap punggung Aryan yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Sejak tadi gadis itu sama sekali tidak bisa fokus meeting karna dia sempat mengira jika Aryan adalah Adrian, Calon tunangannya yang kabur dua bulan yang lalu.
"Kenapa pak Aryan wajahnya begitu mirip dengan mas Adrian. bukan hanya wajahnya, Sikap mereka sedikit ada kesamaan, sama-sama jarang bicara. Hanya saja mas Adrian tidak sedingin dia" ujar Dita sambil terus menatap mobil Aryan yang sudah keluar .
__ADS_1
Dita mengambil nafas panjang lalu membuangnya kasar. masih tidak tau pasti apa alasan yang jelas kenapa Adrian pergi tepat dihari pertunangan mereka dua bulan lalu. padahal sebelumnya Adrian sempat menerima Dita dan mau bertunangan dengannya. entah ada hal apa yang membuat pria itu harus memutuskan untuk pergi.
"Sebenarnya apa alasan kamu memilih pergi di hari pertunangan kita, Adrian" gumam Dita
Sedangkan Aryan, setelah keluar daro restoran dia langsung melajukan mobilnya menuju tempat janjiannya dengan Aditya.
"Arrrrggg, Kenapa harus macet segala sih. apa gak tau kalau aku lagi buru-buru" umpat Aryan kesal saat di tengah perjalannya macet. karna memang ini sudah masuk jam makan siang.
Aryan menoleh ke arah halte, Di sana dia melihat keberadaan dokter Andre yang terlihat gelisah. melihat itu membuat Aryan memutuskan untuk menepikan mobilnya lalu menghampiri dokter Andre.
"Dokter Andre"panggil Aryan
suara itu membuat dokter Andre mengangkat wajahnya. menoleh ke arah sumber suara dimana sudah ada Aryan yang berdiri tepat di sampingnya.
Saat melihat wajah Aryan ada rasa marah yabg tak bisa dokter Andre tunjukkan. pasalnya karna sosok yang ada di hadapannya saat ini membuat Mika hilang dan entah kemana. Tanpa jejak yang pasti apalagi kabar.
"Aryan. Kenapa kamu bisa ada di sini?" balas dokter Andre sambil menatap Aryan dengan tatapan tak menentu. Bahkan tatapan itu membuat Aryan mengerutkan keningnya.
"Kenapa om Andre ngeliatin Aryan seperti itu?" tanya Aryan yang langsung peka dengan raut wajah dokter Andre. Namun, Dokter Andre tak langsung menjawab. pria paruh baya itu masih terus menatap Aryan tanpa ekspresi.
"Karna gara-gara kamu saya tidak bisa menemukan dimana keberadaannya saat ini, Aryan. akan saya pastikan, Jika seandainya saya bisa menemukan Mika, Saya tidak akan pernah lagi membiarkan dia mencintai pria tak tau diri sepertimu" batin dokter Andre sambil terus menatap Aryan tanpa ekspresi
"Maaf saya permisi dulu. sudah saatnya kembali kerumah sakit" balasnya serta langsung pergi dari sana meninggalkan Aryan yang masih terdiam dan menatap tak paham pada dokter itu.
__ADS_1
"Ada apa dengan dokter Andre. kenapa aku merasa ada yang beda dengan sikapnya" gumam Aryan sambil menatap dokter Andre