
Aryan terus melajukan mobilnya membelah jalanan siang yang tidak terlalu padat. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan ekspresi apapun, membuat Mika jadi ingat Bagaimana Aryan jika sudah marah.
Gadis itu sesekali melirik pada Aryan. "Sebenarnya dia mau membawaku ke mana?" hal itu selalu menjadi pertanyaan Mika di sepanjang jalan.
Mobil itu terus melaju cepat. Memasuki tol yang akan membawa mereka menuju ke arah luar kota. Sebenarnya kemana Aryan akan membawanya.
Delapan jam sudah berlalu. Saat ini mobil Aryan sudah ada di alamat yang sejak tadi menjadi tujuannya.
Sehingga tak berselang lama mobil itu berhenti di depan sebuah tempat rumah makan. Membuat Mika mengerutkan kecil keningnya. Untuk apa Aryan membawanya ke tempat itu.
Setelah Aryan memarkirkan mobilnya, Pria itu membukakan pintu mobil Mika dan mengajaknya untuk turun dari mobil itu. Mika hanya menurut tanpa mau bertanya lagi walaupun Sebenarnya ada begitu pertanyaan yang terbesit dalam benaknya.
"Duduk" Gumam Aryan sembari menarik satu kursi untuk Mika.
Mika masih memutuskan untuk diam. Dia hanya ingin tau sebenarnya apa tujuan Aryan membawanya ke tempat ini. Bahkan mereka harus melewati sekitar delapan jam perjalanan hanya untuk singgah di rumah makan yang dulu sering menjadi tempat Mika makan sepulang sekolah saat masih smp.
Aryan memanggil salah satu karyawan lalu memesan gudeg khas kota itu. Karna merasa penasaran dengan tujuan Aryan yang membawanya ke tempat ini, Akhirnya Mika pun memutuskan untuk membuka suara.
"Untuk apa kamu membawaku kesini?" tanya Mika sambil menatap pada Aryan yang masih tak menampakkan ekspresi apapun.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Mika membuat Aryan menoleh ke arahnya. "Kamu tau ini tempat apa?" bukannya menjawab justru Aryan malah balik bertanya. Membuat Mika merasa mulai kesal dengar tingkah suaminya.
"Tempat makan" balasnya
"Kalau sudah tau tempat makan kenapa masih tanya"
__ADS_1
"Ya Maksud aku bukan seperti itu. Maksudnya kalau hanya untuk makan kenapa kita harus jauh-jauh datang kesini. Ini kan sangat jauh dari jakarta. Makan di restoran tadi pagi kan bisa"
Aryan diam tak langsung menjawab. Pria itu tiba-tiba saja menatap kedua bola mata milik Mika dan membuat jantung gadis itu berdetak sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari pada batas normal pada umumnya.
"Kenapa kamu liatin aku seperti itu? Memangnya ada yang salah dari penampilanku?, Bukannya menjawab pertanyaanku malah ngeliatin aku seperti itu" gerutu Mika sembari menoleh ke lain arah.
Namun, Tiba-tiba saja Aryan kembali melakukan hal yang membuat jantungnya semakin bertalu-talu. Bagaimana tidak, Saat ini Aryan sedang menggenggam tangan Mika dan menatapnya begitu dalam. Kedua tatapan matanya seakan ingin menjelaskan hal yang masih belum Mika mengerti.
"Karna hanya tempat ini yang akan membuatmu mengingat sebagian dari memori masalalu yang sudah kamu lupakan" jawab Aryan pada akhirnya.
Pria itu terus menatap kedua bola mata Mika. Membuat Mika semakin tidak mengerti dengan perasaan yang Aryan miliki.
Mika menelan salivanya sembari berusaha bersikap biasa saja di saat jantungnya hampir lompat dari tempatnya. "Astaga. Kenapa aku baru sadar jika tempat ini adalah tempat favorite ku saat masih jaman smp"batin Mika sambil mengatur nafasnya.
"Saya berharap semoga kamu bisa mengingat sedikit tentang tempat ini"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Marvin duduk di salah satu kursi panjang yang ada di salah satu taman kota. Tatapannya terlihat sangat sendu. Biarpun tempat itu masih terlihat ada beberapa orang yang berlalu lalang, Namun Marvin merasa sangat kesepian. Apalagi setelah mendengar apa yang di utarakan oleh Aryan saat di restoran tadi pagi.
Sudah dua jam berlalu. Namun, Marvin masih enggan untuk pergi dari tempat itu. Sesekali Marvin memperhatikan sekeliling taman yang membuatnya teringat akan setiap kejadian masalalu yang dia lewati bersama dengan Mika saat masih duduk di bangku SMA.
Dulu memang Marvin dan Mika sering menghabiskan waktu berdua di tempat ini setiap pulang dari sekolah. Tapi hal itu hanya berlangsung saat mereka masih duduk di bangku kelas X. Karna setelah naik kelas Xl, Mika tak pernah lagi mau menghabiskan waktu berdua dengannya seperti biasa. Selalu saja ada alasan yang Mika berikan setiap kali Marvin mengajaknya.
"Mika, Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku harus mendengar jika kamu dan Aryan adalah pasangan suami istri. Kenapa kamu tidak pernah mengatakan hal ini sebelumnya" gumam Marvin yang terdengar sangat lirih.
__ADS_1
Jantungnya berdetak sangar nyeri saat mengingat untaian kalimat yang Aryan lontarkan. Biarpun hanya beberapa kata, Namun, Sakitnya sangat luar biasa. Karna memang perasaan Marvin terhadap Mika sebesar dan sedalam itu.
...****************...
Hari sudah semakin sore. Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Mika hanya terdiam. Gadis itu menoleh ke luar arah jendela. Masih teringat kejadian beberapa saat yang lalu.
Setelah selesai makan di rumah makan masalalu Mika, Entah kenapa Aryan kembali membawa Mika ke sesuatu tempat yang membuat Mika semakin mengerutkan keningnya.
Bagaimana tidak, Pasalnya selama ini Mika tidak pernah mengatakan dimana letak makam kedua orang tuanya. Tapi kenapa Aryan bisa membawanya Mika ke tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.
Hal itu semakin membuat sejuta pertanyaan terbesit dalam benaknya. Bagaimana bisa Aryan mengetahui makam mama serta papanya.
Tepat setelah mereka sampai di makam mama Zoya serta papa Bisma, Aryan mengatakan jika itu adalah makam dari kedua orang tuanya.
"Mika. Mungkin kamu memang tidak bisa mengingat kenangan yang ada di rumah makan itu. Ini adalah makam kedua prang tuamu, Mika. Semoga saja kamu bisa mengingat mereka" gumam Aryan sambil melirik pada Mika yang sudah terdiam.
Ingin rasanya Mika menangis. Karna jujur saja dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Setelah hampir empat tahun meninggalkan kota Jogja, Akhirnya hari ini Mika bisa kembali menginjakkan kakinya di pemakanan kedua orang tuanya. Tempat yang dulu selalu menjadi tempatnya mengadu.
Mika menoleh pada Aryan. Ingin sekali rasanya dia bertanya bagaimana bisa Aryan tau tentang tempat ini? Namun hal itu Mika urungkan karna masih teringat akan misi pura-pura lupa ingatan yang sedang dia lakukan.
"Mika turunlah, Kita sudah sampai" suara itu menyadarkan Mika dari kejadian beberapa saat yang lalu setelah keluar dari rumah makan.
"Kita dimana?"
"Di hotel milikku. Tidak perlu banyak bertanya, Turunlah. Sepertinya kamu harus segera mandi"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Sepertinya aku tidak mau mandi, Udaranya begitu dingin" balas Mika sembari keluar dari dalam mobil Aryan.
"Karna saya tidak mau tidur dengan orang yang tidak mandi dan bau kecut sepertimu" Aryan melangkahkan kakinya meninggalkan Mika yang kembali terdiam. Sepertinya gadis itu masih berusaha mencerna kalimat yang terlontar dari mulut suaminya.