
Aryan terus terdiam sambil menatap ke bawah balkon di mana ada banyak mobil yang sedang berlalu lalang di sana.
"Aryan, kenapa kamu hanya diam saja disana? Apa hari ini kamu tidak akan datang ke kantor?" tanya Liana seraya berjalan mendekati Aryan
Suara itu berhasil membuat harian membalikkan tubuh serta menyadarkan Aryan dari lamunan kejadian saat di jogja beberapa hari yang lalu.
Aryan menatap sendu pada sang mama. Lihat itu tentu saja membuat liana mengerti apa yang saat ini sedang aryan pikirkan.
"Mama," lirihnya
Liana yang melihat Aryan seperti itu hanya bisa mengambil nafas dalam lalu membuangnya kasar. Wanita paruh baya itu menepuk pundak Aryan"Bagaimana Aryan, Apa sekarang kamu sudah menyesal dengan apa yang sudah kamu lakukan dimasa lalu? Mama tidak pernah habis pikir dengan jalan pikiran kamu itu loh, Kok bisa punya pikiran sebodoh itu. Kalau sudah begini bagaimana? Kita tidak bisa menemukan dimana keberadaan Mika," Liana menghembuskan nafasnya.
"Seandainya saja kamu tidak punya pikiran sebodoh itu, Pasti saat ini Mika masih ada di tengah-tengah keluarga kita. Mama masih punya kesempatan untuk bersama dengannya" Aryan yang mendengar perkataan sang mama hanya bisa diam tanpa menjawab sepatah katapun. Karna memang dia sadar jika semua ini terjadi karna ulahnya sendiri. Karna kebodohannya sendiri dia harus menanggung semuanya.
"Maafkan Aryan, Ma. Mungkin apa yang mama dan papa katakan soal Aryan itu semua benar. Aryan itu bodoh, Bahkan Aryan juga tidak pernah memikirkan soal kebodohan ini sebelumnya. Dan setelah semuanya terjadi, Hanya penyesalan yang bisa Aryan renungi. Sungguh Aryan benar-benar menyesal sudah melakukan semua itu terhadap Mika" balas Aryan sambil menoleh pada sang mama. Karna memang hanya kata maaf serta penyesalan yang saat ini bisa dia katakan..
Sudah satu minggu Aryan meminta Aditya untuk mencari keberadaan Mika. Namun hingga hari ini Aditya masih belum mengatakan apa-apa. Pria itu sama sekali belum menemukan sedikit petunjuk apapun mengenai keberadaan Mika saat ini.
"Sekarang mama mau kamu ke kantor, Sudah satu minggu perusahaan itu tidak kamu urus. Jangan lupa ya, Aryan. Mama dan papa sudah menyerahkan semuanya sama kamu. Papa dan mama sudah mempercayakan semuanya padamu. Jangan sampau hal ini membuat semuanya hancur. Kamu tentu tidak mau bukan jika sampai kita kehilangan semua harta karna tidak terurus. Karna mencari Mika juga butuh biaya."
Setelah mengatakan hal itu, Liana langsung keluar dari sana. Meninggalkan Aryan yang masih terdiam karna ucapannya. Mungkin apa yang dikatakan oleh sang mama memang benar, jika Aryan terus-terusan seperti ini, Yang ada dia akan kehilangan semuanya. bukan hanya Mika, Tapi juga masa depannya.
__ADS_1
"Mama benar, aku tidak boleh seperti ini terus. Aku harus bisa fokus pada hidupku sendiri. Karna mau bagaimanapun ini jalan yang sudah aku pilih. aku harus fokus kuliah serta mengurus kantor. Masalah Mika biar aku percayakan pada Aditya saja.
Aryan pun sudah mulai masuk ke dalam kamarnya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandinya dengan sangat cepat.
"Ma, Pa. Aryan berangkat dulu" kata Aryan setelah sampai di bawah. Menghampiri kedua orang tuanya yang sedang mengobrol sambil menikmati secangkir kopi panas.
"Sarapan dulu, Aryan."
"tidak, Ma. Nanti biar Ayan sarapan di kantor"
Setelah pamit pada kedua orang tuanya. Aryan langsung kembali melangkahkan kakinya keluar dari mansion Alberto. Selama satu minggu ini mansion itu terlihat sedikit berbeda. Setelah kepergian Mika serta beberapa masalah yang Diki perbuat membuat keluarga itu tidak seperti dulu lagi. Ada yang berbeda di antara mereka.
Di rumah sakit.
"Mika. Sebenarnya kamu pergi kemana, Nak?Dokter Andre menatap pada sebuah foto yang tak lain adalah foto Mika.
Entah kenapa tiba-tiba saja dokter Andre teringat akan cerita Mika hari itu, hari pada saat Mika baru saja terbangun dari koma.
"Apa memang ini keputusan akhir kamu, Mika? Apa segampang itu kamu menyerah akan pernikahanmu, Nak. apa kamu juga sudah menyerah mencintai suamimu, Laki-laki yang sudah menikah kamu hampir tiga tahun" ujarnya pelan sambil terus menatap foto Mika.
Dokter Andre memejamkan kedua matanya sejenak. Memijat ruang di antara alisnya. sungguh dokter Andre merasa sangat gelisah saat teringat akan Mika.
__ADS_1
"Semoga kamu selalu baik-baik saja, Mika. Ayah berdoa semoga saja masih ada kesempatan buat ayah untuk menebus semua kesalahan ayah dimasa lalu"
...****************...
Tanpa terasa jam sudah berlalu, saat ini di kota Milan sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seperti yang sudah diketahui. malam ini keluarga Marvin akan kedatangan tamu yang tak lain sahabat dari kedua orang tua Marvin.
"Akhirnya selesai juga" kata Mika sambil merenggangkan kedua tangannya setelah selesai meletakkan semua menu makanan hasil dari sulapan mereka berdua selama di dapur.
"iya, Mika. akhirnya selesai juga memasak lima menu ini. semoga nanti tamunya suka ya" jawab Adrian sambil tersenyum. .
"Amiinnn... Oh iya kak, bagaimana keadaan mamanya?" Mika kembali menoleh pada Adrian saat menanyakan bagaimana kabar dari orang tua Adrian. Karna tadi siang Adrian memang sempat mengatakan jika dia akan ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan sang mama.
"Alhamdulillah mama baik-baik saja. sesuai dengan dugaanku, Mika. Karna mama bukan hanya sekali dua kali melakukan hal ini. Sudah sangat sering bahkan aku hafal dengan semua akal-akalan mama" Adrian tersenyum getir saat mengatakan hal itu.
Selama ini memang mama dari Adrian sering berpura-pura sakit hanya untuk mengelabuhi Adrian.
"benarkah? Tapi Alhamdulillah kalau memang mamanya baik-baik saja. Kak Adrian harus bersyukur karna masih bisa punya mama. Berbeda dengan aku yang hanya anak yatim piatu"
Mika menundukkan sedih wajahnya saat mengatakan hal tersebut. Tidak bisa dipungkiri jika memang saat menyebutkan kata mama Mika selalu merasa sedih.
Adrian yang melihat raut wajah Mika sedih seperti itu mendekat lalu menepuk pundaknya"jika kamu merindukan mereka, kamu harus berdoa buat mereka. Karna aku tau yang mereka harapkan bukan kesedihan kamu, tapi kebahagiaan kamu" ucap Adrian sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
Ting...ting....
Suara bell pintu membuat Mika dan Adrian mengalihkan perhatian mereka. Mika melihat kedua paruh baya masuk ke dalam rumah itu dan di sambut hangat oleh kedua orang tua Marvin. saat kedua orang ikut masuk dan mengekor dibelakang kedua orang tuanya, Tiba-tiba saja perut Mika sakit dan membuatnya harus segera ke rumah sakit. padahal disana ada Erdin dan juga Ana. Namun sayangnya belum sempat Mika melihat kedua orang itu dia lebih dulu masuk kedalam kamar mandi.