Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 1 (First Incident)


__ADS_3

Suasana kantin Permata Indah University hari ini cukup berbeda dengan hari-hari sebelumnya


Isi kantin didominasi oleh mahasiswa baru yang memakai pakaian hitam putih menyerupai warna kotoran cicak


Riuh-riuh suara dan canda tawa saling terpaut dalam kantin yang terkesan minimalis dan bersih itu. Sampai satu suara berhasil membuat seisi kantin diselimuti dengan keheningan yang mencekam seketika


“Lo buta atau apa? Kalau lo jalan makanya jangan nunduk, gini kan jadinya” suara bentakan itu menggelegar hingga menciptakan suasana mencekam dalam kantin


Dapat mereka semua saksikan, seorang wanita cantik dengan rambut panjang yang diikat menggunakan pita merah tengah melakukan kesalahan teramat fatal,


menumpahkan jus pada baju seorang senior


“Maaf kak, saya gak sengaja” perempuan dengan seragam kotoran cicaknya itu, menunduk tak berani menatap sang lawan bicara


“Lo fikir dengan maaf bisa buat baju gue kering, nggak ******. Asal lo tau yah, baju gue ini lebih mahal daripada harga diri lo” cercaaan tanpa perasaan seraya menyapu baju basahnya menggunakan tisu yang disodorkan oleh temannya


Wanita itu mulai gemetar, masih tak berani menatap sang lawan bicara. Tentu bisa ditebak bagaimana perasaanya saat dikatai seperti itu di tempat umum


Namun tidak jauh dari tempat insiden terjadi, seorang wanita berhijab menghela nafas lelah. Ia membanting cukup keras gelas saat isinya sudah tandas masuk ke tenggorokan, berdiri dengan gagah berani, merapikan rok sebentar dan sadar bahwa semua mata kini sedang memandang ke arahnya


Yah, termasuk kedua orang itu, penyebab insiden pagi ini


“Maaf-maaf nih yah kak, omongan kakak udah gak pantas diucapkan oleh orang berpendidikan seperti kakak. Kakak jangan merusak martabat sendiri dengan berperingai layaknya orang yang gak pernah ngenyam pendidikan” ucapnya teramat berani yang membuat semua mata memandangnya tak percaya terkecuali lelaki dengan mulut bom atom level tertinggi


Lelaki itu terbungkam, tak mengeluarkan sepatah katapun. Bukan karena tak bisa membalas perkataannya, ia fokus memandang gadis cantik berhijab itu


“Fa istighfar, jangan cari masalah pliss” seseorang yang duduk di sampinya menarik pelan baju si gadis berani itu namun sama sekali tak digubris


“Ehh lo tuh masih maba di sini dede gemeshh. Gak usah cari masalah, lo mau dimakan sama Alvin?” itu suara senior yang berdiri di samping lelaki mulut bom atom bernama Alvin

__ADS_1


“Adit pegangin bentar” Alvin menyerahkan almamater yang tadi ia pegang ke tangan Adit


“Jangan lo apa-apain anak orang. Kasihan, cantik” pesan Adit diabaikan oleh Alvin


Alvin berjalan ke arah gadis berhijab itu, ia berdiri di depannya. Memandang wajah dengan kulit putih di depan sana, tatapannya sulit di artikan


Mata tajam yang senantiasa ia perlihatkan kini sudah tidak terlihat lagi, pandangannya sendu dan sangat menenangkan untuk dilihat


“Liatin apa kak? Saya tau kok saya cantik, gak usah se-terpana itu. Entar jatuh cinta, saya gak mau tanggung jawab loh” ucapnya dengan begitu percaya diri


Alvin terkekeh pelan “Iya, lo cantik dan lo harus tanggung jawab kalo gue udah jatuh cinta” tegas Alvin dengan nada pelan tak ingin dibantah


Semua orang yang mendengar percakapan singkat itu dibuat melongo tidak percaya atas apa yang baru saja mereka saksikan


“Hahhh? Kakak sehat?” si gadis memasang wajah sangat heran, tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu


“Nama lo siapa?” tak mempedulikan pertanyaan itu, ia masih menatap lekat netra hijau yang sangat indah di depannya


“Nama lo cantik, kaya lo” pujinya yang membuat kaum hawa di sana, kesemsem tidak jelas. The real of lain yang dikipas lain yang terputar


Arafah hanya tersenyum singkat, sudah biasa mendengar gombalan-gombalan receh dari para buaya yang hidup di darat


Alvin mengayunkan tangan kananya ke arah Arafah “Gue Alvino Bagaskara. Panggil aja Alvin”


Sadar bahwa seniornya yang bernama Alvin itu ingin berjabat tangan dengannya, Arafah menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada “Panggil Rafah aja kak”


Alvin tersenyum sedikit malu dan menurunkan tangannya “Ohh, ukhtii tohh”


“Ya udah, gue balik. Soalnya udah kenyang liat anaknya pa Handoko” canda Alvi dan berlalu dari hadapan Rafah

__ADS_1


Seisi kantin dibuat tak percaya atas apa yang terjadi barusan. Padahal fikiran-fikiran bahwa perdebatan panjang dan perkelahian akan terjadi, namun realita yang terlihati sangatlah jauh berbeda


“Duhh gercep banget abang Alvin kalo liat dede gemesh” ledek Adit saat Alvin mengajaknya keluar dari kantin dan melewati gadis yang sudah membuat bajunya agak basah


Alvin tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya hingga terlihatlah lesung dipipi kananya yang membuat kesan manis semakin melekat padanya


“Iya lah, emang lo yang kalo lihat cogan langsung gercep” ucap Alvin dengan tak berdosanya


“Sialan gua masih normal yah bangke” Adit mengumpat seraya memukul kepala Alvin menggunakan almamater yang tadi dititipkan padanya


“Gue pulang dulu yah, kalo anak-anak yang lain cariin bilang aja gue pulang ganti baju. Ga bakal lengket kaya gini pasti kalo dia numpahin jusnya ke mulut gue”


“Eh bangke, kalo lo mau pulang ngapaian nyeret gue keluar kantin?” Adit berkacak pinggang menatap tajam Alvin, mencium aroma-aroma ada yang tidak beres


“Oh iya, ngapain yah?” Alvin tampak sedang berfikir dengan wajah serius hingga ia menjentikkan jarinya seakan baru saja menemukan jawaban dari pertanyaanya


“Oh iya, gua baru ingat. Biar lo repot aja”


Alvin tertawa singkat dan berlalu meninggalkan Adit ke parkiran untuk mengambil mobilnya dan segera pulang ke rumah


Sementara itu, Arafah yang masih berada di kantin kembali duduk di meja yang diisi oleh kedua temannya. Gita dan Tiara


“Wahhh, gila lo Fah. Itu kak Alvin bangke yang barusan lo lawan. Untung cantik lo” Gita berkoar dengan semangat 45


“Ia Ra, gue tahu lo orangnya berani tapi gak usah kak Alvin juga yang lo tantang. Tapi untung lo punya tameng tampang, kalo enggak beuhhhh” tambah Tiara dengan suara cemprengnya


Arafah memasang tampang malas melihat reaksi berlebihan kedua makhluk di hadapannya “Udah, gak usah pada ribut kalian. Habisin makannya terus balik lagi ke lapangan. Kalo kalian gak mau habisin gua siap jadi penampung”


“Eh tapi serius deh Fah, gua yakin deh kalo si Tiara yang ngomong pasti udah habis dia sama kak Alvin” Gita masih tak bosan membahasnya

__ADS_1


Tiara yang tadinya sudah kembali mengunyah makanan, berhenti. Menatap manusia yang baru saja mengeluarkan suara tadi “Hemmm, saya mencium aroma-aroma penghinaan secara halus dan lembut tanpa noda dalam ucapan anda barusan wahai anak pa Bambang”


“Saya memang sengaja wahai anak Pa Razak”


__ADS_2