
“Arafah. Ikut sebentar yah? Gue mau omongin sesuatu”
Suara yang sudah sangat lama tak didengar, kembali menyapa pendengaran Arafah. Membuat gadis yang tengah duduk diam di kelas, menatap tak percaya pada sosok di hadapannya
“Fa. Denger kan?” Alvin menggerakkan tangannya di depan wajah Arafah, merasa tak mendapat tanggapan “Arafah Eliza Putri Handoko. Gue lagi ngomong sama lo” lanjut Alvin lembut
Tangan Arafah terulur untuk pipinya sendiri “Aduhhh” jeritnya pelan. Langsung membuat Alvin melepaskan tangan Arafah dari pipi chubby itu
Alvin tanpa beban duduk di depan Arafah, tersenyum seperti dulu “Jangan sakitin diri sendiri”
Saat sadar bahwa sosok Alvin benar-benar nyata, Arafah mengulas senyum miris
“Ngapain juga nyakitin diri sendiri? Kan udah ada Kak Alvin yang bertugas untuk itu”
“Ikut gue yah ke samping kampus” pinta Alvin yang tak menghiraukan sindirian pedis dari gadis ini
Arafah tak ingin munafik. Ia sangat merindukan sosok yang sedang memandanginya dengan tulus. Ia merindukan Alvin yang seperti ini
Tanpa mau mengulur waktu lebih lama, Arafah berdiri “Ayo. Mau ngomong di mana?” tanyanya pelan
Tanpa sadar, Alvin mengulas senyum tipis. Berjalan sejajar dengan Arafah “Apa kabar? Lo sehat kan?”
“Alhamdulillah, seperti yang Kak Alvin lihat” ucap Arafah
Langkah keduanya diiringi dengan banyak tatapan tak percaya dari banyak mahasiswa. Bisik-bisik penuh tanda tanya terus terdengar
Tentunya sama sekali tak menjadi beban fikiran bagi Arafah dan Alvin. Mereka jalan dalam keheningan yang mengisi sunyi
Hampir 10 menit Arafah berjalan ke arah yang tak diketahui ke mana tujuannya. Sampai kaki Alvin berdiri kokoh di depan danau yang menghantar luas
“Mau ngapain di sini?” Arafah menatap heran ke sekelilingnya
Tak ada tanggapan dari Alvin. Ia menuntun Arafah untuk duduk di salah satu kursi yang terletak di sana. Seraya tersenyum tipis, ia berlutut tepat di depan gadis berhijab itu
__ADS_1
Membuat Arafah kelabakan di tempatnya. Ingin berdiri tapi kedua lengan kokoh Alvin berada di samping tubuhnya
Alvin menundukkan kepala sesaat, menghirup nafas sedalam mungkin. Kemudian menatap mantap netra hijau Arafah “Gue tahu, gue bukan laki-laki sempurna Fa. Gue tahu, gue belum bisa jadi yang terbaik buat lo”
Arafah terhenyak di tempatnya. Merasakan kerinduan yang teramat luas di dalam pandangan lembut yang kembali Alvin torehkan
Tanpa bisa ia cegah, sebulir kristal bening jatuh membasahi pipi Arafah “Aku gak ngerti sama semua sikap Kak Alvin. Kakak terlalu susah untuk ditebak, Kak Alvin gampang berubah. Aku sama sekali gak paham” ucap Arafah serak
“Maaf Fa. Maaf kalau cara gue udah buat lo bingung dan maaf juga kalau cara gue udah buat lo sakit hati” pinta Alvin yang kembali menundukkan kepalanya
Merasa tak sanggup ketika melihat gadis di hadapannya saat ini kembali menitihkan air mata “Gue tahu gue salah. Tapi ini yang terbaik buat kita berdua Arafah”
Sontak saja Arafah mengeluarkan tawa kecil. Memandang tak percaya pada sosok Alvin “Terbaik buat kita. Mana bisa dibilang terbaik kalau salah satunya selalu tertekan atas apa yang terjadi”
“Bukan cuma lo Fa yang tertekan, gue juga. Kita sama-sama tertekan untuk alasan yang berbeda” kata Alvin lembut
Tatapan keduanya saling beradu. Menyiratkan rasa terpendam dalam netra berwarna beda itu. Hembusan angin yang cukup kencang meniup hijab berwarna pastel yang Arafah kenakan
“Maaf”
Setelah mengatakan itu, Alvin kembali pada posisinya semula. Mengapit kedua sisi tubuh gadis itu “Gue emang penasaran buat lihat rambut lo. Tapi gue bukan laki-laki yang sebrengsek itu buat curi-curi kesempatan”
Jantung Arafah berdebar cukup kencang mendapati tatapan teduh dari Alvin. Tatapan yang sangat dirindukannya selama beberapa waktu ini
Bagai aksara yang kembali pada tempatnya. Potongan-potongan hati Arafah kembali terasa utuh kala melihat sosok Alvin yang benar-benar nyata di hadapannya
“Selama ini, gue benar-benar kosong Arafah. Saat lo udah gak hadir dihari-hari gue, rasanya terlalu hampa”
Arafah memandang penuh tanya. Mengapa lelaki ini seperti memiliki kepribadian ganda? Setelah membuat harapannya jatuh lebur tak berbentuk, semudah ini ia kembali seperti dulu?
Perasaannya tengah saling berperang di dalam sana. Membatin dan menerka-nerka tentang setelahnya. Tentang kisah yang bisa saja kembali terjalin
Membayangkan itu membuat Arafah tanpa sadar menarik sebuah senyum pilu “Hampa?” Arafah bergumam pelan
__ADS_1
“Itu adalah akibat dari sebab yang Kak Alvin ciptain sendiri. Sebab dari Kak Alvin yang dengan mudahnya nyuruh aku buat udahin hubungan kita”
Arafah mengungkapkan semua yang menjadi beban hatinya. Ada rasa senang berpadu pedih melihat Alvin yang sekarang. Senang karena mendapati Alvin yang nampak seperti menyesali semuanya namun juga pedih diwaktu bersamaan ketika menyadari bahwa usaha move-onnya yang sudah 98% harus jatuh ke titik 0 kala pandangan teduh Alvin tertuju padanya
“Maafin laki-laki brengsek ini Fa. Dia rindu lo”
Astaga. Jika saja ada angka yang lebih dari 0% untuk menggambarkan presentase kadar melupakan milik Arafah, akan ia sampirkan pada Alvin saat ini juga
Kata demi kata yang keluar dari mulut Alvin, bagai godam besar yang meluluh lantahkan semua usaha Arafah selama ini. Walau tentu waktu yang hanya beberapa bulan tak akan semudah itu untuk menghilangkan jejak setahun dua tahun
Terdengar Alvin menarik nafas panjang “Gue tau apa yang kemarin gue bilang gak bisa dibenarkan. Tapi hampir sama dengan yang lo bilang tadi, semua akibat pasti ada sebabnya” tutur Alvin
“Tapi gue kembali saat ini bukan untuk jelasin apa alasan gue”
Wajah Arafah menampakkan kebingungan yang mendalam “Maksud Kak Alvin?”
Dari jaket boomber hijau army yang Alvin kenakan, ia mengeluarkan kotak kecil berwarna putih. Menunduk sesaat sebelum menatap beningnya netra hijau Arafah dengan mantap
Membuat jantung si gadis mulai berdetak tak karuan. Ia bukan gadis yang sepolos itu untuk menebak tentang apa yang akan Alvin lakukan selanjutnya
“Mungkin lo mikir kalau ini semua terlalu cepat tapi gak dari sudut pandang gue sendiri. Alvino Bagaskara udah benar-benar jatuh dalam perangkap hati lo Arafah” ucap Alvin sungguh-sungguh
Dibukanya kotak kecil itu menghadap ke Arafah, membuat sesuatu berdesir hangat di dalam sana. Sekali lagi, Alvin memantapkan hatinya untuk yang terakhir kali
“Aku bukan laki-laki sempurna Arafah, tapi lelaki biasa ini mau kalau kamu yang akan mendampinginya saat rambut mulai memutih dan badannya sudah tak sekokoh saat ini”
Lelehan kristal bening jatuh membasahi pipi Arafah. Haru dan terkejut luar biasa sedang menghantam perasaan Arafah. Bagai berjuta kupu-kupu yang sedang berterbangan
“Will you be my wife Arafah?”
“Kak Al.....”
“Ajari aku Islam Fa”
__ADS_1