
“Mah, Alvin berangkat yah” Alvin dengan tergesa memakai sneakersnya di ruang tamu
Seorang wanita paruh baya, datang dari arah dapur. Memakai daster selutut dengan membawa nampan berisi segelas susu dan sepotong sandwich
“Habisin dulu ini. Kamu jangan coba-coba keluar dari rumah kalo sarapannya gak dihabisin”
Alvin berdiri, mematut penampilannya dari lemari yang memiliki cermin cukup besar “Gak bisa Mah, Alvin keburu telat”
Wanita yang ia panggil dengan sebutan mama, melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap sang sulung dengan tatapan mengancam “Mau nama kamu mama coret dari KK?”
Tanpa berani membantah mamanya, dengan pasrah ia duduk di samping Gisel, mamanya. Mengunyah dengan terburu-buru , tak ingin membuat seseorang menunggu kehadirannya
“Habis” lapor Alvin mendorong pelan nampan berisi sarapannya yang sudah tandas masuk ke dalam perut
“Nah gitu dong. Disuruh makan aja kaya disuruh panjat gunung sambil jawab soal logaritma” Gisel tersenyum melihat Alvin yang makan dengan sahat lahap
“Alvin pamit Ma” ia mengambil tangan kanan Gisel dan menciumnya sayang sebelum beranjak keluar dari rumah mewah itu
“Hati-hati sayang. Hatinya juga harap dijaga”
Alvin yang mendengar pesan mamanya, tersenyum lebar. Mengacungkan kedua jempolnya tanpa membalikkan badan
Ia masuk ke dalam garasi besar rumahnya dan mengeluarkan mobil kesayangan hadiah mamanya dari dalam sana
TINN
Dengan penuh semangat, ia memencet klakson mobilnya dan langsung dibukakan pagar oleh satpam rumahnya
“Dadah mang” melambaikan tangan bahagia sebelum ia benar-benar meninggalkan bangunan mewah bak istana itu
Alvin sejak semalam memang sangat semangat, mengingat bahwa hari ini ia akan menjemput seseorang yang sudah berhasil mengacaukan pikirannya selama beberapa hari
Jalanan belum terlalu macet saat ini, meski kendaraan sudah banyak yang beroperasi di jalanan utama namun kendaraan masih bisa berjalan dengan kecepatan normal
Senyuman itu semakin lebar terhias diwajah tampannya, saat netra coklatnya menangkap tiga orang gadis yang tengah duduk di kursi halte
“Cibodas neng?” Alvin menurunkan kaca mobilnya, menawarkan angkutan umum seperti om-om angkots
“Enggak pa, kita mau ciamis” jawab Tiara asal yang dibalas tawa receh dari Alvin
__ADS_1
Arafah tersenyum tipis melihat kedatangan Alvin, kembali mengagumi dalam diam paras Alvin yang bisa dikata sempurna
Rahangnya yang kokoh, hidup mancung, alis tebal, bibir yang agak berisi dan rambut hitamnya yang tebal. Arafah tak bisa munafik, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia telah tersihir oleh paras Alvin
“Kuyy lah, entar telat lagi” kata Alvin memecah lamunan sejenak Arafah
Gita, Tiara dan Arfah segera berdiri. Membuka pintu belakang dan segera duduk di dalam mobil mewah itu
“Duduk di depan Arafah. Kita kan harus berdampingan dan beriringan, bukan saling membelakangi” Alvin berbalik badan, menatap intens Arafah yang duduk anteng di samping Tiara
“Pindah gih Fa. Lo gak kasian liat muka jonesnya kak Alvin, kaya muka-muka kurang belaian loh dianya” Tiara menyikut pelan pinggang Arafah
Dengan pasrah dan tanpa perlu mengeluarkan kalimat, ia berpindah tempat duduk dikursi samping Alvin
“Nah gini dong, kan kalo kaya gini guenya tambah sayang”
“Apaan sih kak Alvin” Arafah menunduk, memainkan jemarinya di atas rok
Tanpa Alvin sadari, kalimat asal yang baru saja ia lontarkan kembali menghadirkan sembrutan merah di pipi putih Arafah
“Kak Alvin harus tanggung jawab loh ya, kalo teman saya baper” ancam Gita dari belakang sana yang sedang memainkan handphonenya
“Lo baper Fa sama gue?” tanya Alvin tiba-tiba tanpa diiringi basa-basi sebelumnya
“Ah? Apa kak?” respon Arafah gelagapan, merasa tak siap menerima kuis dadakan dari lelaki di sampingnya yang pandangannya tengah terfokus pada jalanan
Alvin menolehkan kepalanya sejenak pada Arafah, tersenyum tipis. Tangannya kirinya ia daratkan di atas jilbab hitam yang Arafah kenakan, ia mengelus pelan kain itu
“Jangan baper dulu ke gue untuk saat ini yah. Gua masih ragu, gua takut bakalan nyakitin lo nantinya” kata Alvin pelan, sangat pelan hingga hanya Arafah yang dapat menagkap kalimat menyakitkan itu dari bibir Alvin
“I..iya kak” Arafah menjawab ragu
Belum memulai saja sudah harus sesakit ini. Lantas bagaimana jika hubungan itu sudah terjalin? Entahlah, Arafah takut berfikir terlalu jauh ke depan. Ia sadar bahwa saat ini dan entah sampai kapan, ia harus menahan rasa yang sudah tercantum nama Alvin di dalamnya
Arafah memikirkan itu dalam diamnya. Dia sendiri juga merasa aneh, untuk pertama kalinya ia tidak merasa risih ketika mendapat perhatian dari lawan jenisnya walau masih dalam batas normal
“Kak Alvin, musiknya kecilin dong. Mau pecah nih gendang telinga dengar musik segede itu” Tiara memecah keheningan yang sempat tercipta dalam mobil itu
Merasa tak mendapat respon dari Alvin, Tiara berteriak tepat di samping telinga Alvin “Kak Alvin bolot kah?”
__ADS_1
“Astaga nih bocah, santai keleus. Gak usah ngegas” Alvin terlonjak kaget
Dengan pasrah ia mengecilkan volume radio mobilnya yang ia setel cukup keras saat percakapan terakhirnya dengan Arafah, yang berakhir keheningan
Ia melirik sekilas pada sosok di sampingnya. Jari jemari mungilnya tak berhenti memainkan roknya, wajah Arafah datar tak seperti biasa
“Apa mungkin karena ucapan gue tadi yah?” tanya Alvin dalam hati
Merasa tak ingin membesar-besarkan sesuatu yang ia anggap tak penting. Alvin membiarkan keheningan kembali menghiasi mobilnya, tak berniat membuka suara saat ini
Hingga tak terasa mobil mewahnyanya terparkir dengan rapi di parkiran fakultas ekonomi dan bisnis
“Makasih kak Alvin” ucap Tiara dan Gita berbarengan sebelum turun dari mobil nyaman itu
“Iya sama-sama”
“Makasih kak” baru saja Arafah berniat untuk membuka pintu mobil, suara Alvin menghentikan pergerakannya
“Siniin handphone lo” Alvin menyodorkan tangannya di hadapan Arafah yang menatpnya bingung
Arafah menaikkan sebelah alisnya dengan wajah heran “Buat apa?”
“Siniin aja, gak bakalan gue jual. Paling-paling gue gadai kalo lagi butuh duit” Alvin menggoyang-goyangkan tangannya tak sabaran
“Kak Alvin lagi butuh duit kah?” Arafah memandangi Alvin, menatap manik lelaki itu sangat polos
“Ya Tuhan. Nih anak cantik-cantik kok polosnya maksimal banget sih. Ga bakalan gue gadai Fa, gua cuma mau liat entar” ucap Alvin semakin tak sabar
Tanpa bertanya lagi, Arafah mengeluarkan handphonenya dari dalam kantong baju dan menyodorkannya ke Alvin
“Passwordnya apa?”
“010202”
Alvin mengetikkan sesuatu di handphone Arafah dengan cepat, dan menyerahkan kembali handphone tersebut kepada si pemilik saat mendengar notifikasi panggilan dari handphonenya sendiri
Dengan wajah terheran-heran, Arafah mengambil handphonenya “Kakak ngapain?”
“Itu nomor gue, wajib di save. Simpen baik-baik, nomor gue limited edition”
__ADS_1