
“Tadaaa”
Gadis berhijab itu dibuat melongo tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Ia menatap bergantian lelaki dengan senyum lebar dan meja di depan. Salah satu meja cafetaria kampus telah berubah menjadi tempat lunch romantis
Taplak meja berwarna putih bersih, lilin-lilin panjang yang harum, bunga mawar merah ditengah-tengah dan jangan lupakan alunan musik yang mengalun merdu dari speker cafetaria
Entah darimana si lelaki yang tak lain adalah Alvin mendapatkan semua itu dilingkungan kampus. Cengiran lebarnya masih setia ia berikan pada Arafah yang masih speechles
“Kak Alvin dapat semua ini darimana?” bisik Arafah pelan, terlalu takjub atas apa yang dilihatnya
“Taplak gue ambil di kelas tataboga, bunga gua nyolong dimeja Bu Rahma, lilin gue pinjem punya Zafa yang baru diantar sama abang-abang kurir. Romantis kan gue” terang Alvin seraya mendudukkan Arafah
Arafah berdecak kesal “Ya elah Kak Alvin, bukan romantis itu namanya tapi gila”
Alvin tertawa lantas ikut duduk di depan Arafah. Matanya masih terus memandang gadis itu yang baru saja ia seret dari kelas sampai ke tempat mereka duduk sekarang
Saat mata kuliah pertama Arafah selesai, ia berniat untuk menunggu kedua sahabat gilanya di taman, seperti perjanjian tadi pagi. Namun ternyata Alvin lebih gila dari kedua orang itu
Kala Arafah baru saja turun tanga tanpa ancang-ancang dan entah datang dari mana, lelaki berparas tampan itu menggenggam pergelangan tangannya yang dibalut oleh cardigan
Dan di sinilah ia sekarang, cafetaria yang hanya diisi oleh mereka berdua. Entah Alvin apakan semua orang hingga tak ada penghuni lain terkecuali Bu Saras yang sekarang membawa nampan berisi dua mangkok bakso serta dua gelas es teh
Bu Saras meletakkan makanan itu di atas meja “Silahkan dinikmati nak Alvin. Entar kalo kalian nikah, kedai ibu siap jadi cateringnya kok”
Alvin tersenyum kemudian memberikan acungan jempol dan Bu Saraspun segera berbalik hendak kembali ke kedainya. Tapi satu suara menghentikan langkahnya
“Bu, kok di sini sepi yah? Biasanya juga ramai banget”
Bu Saras menatap Arafah seraya tersenyum menggoda “Ya jelas sepi lah, la wong nak Alvin udah pesan semua makanan dari kedai ini sampe kedai ujung sana biar gak ada yang ganggu kencannya”
__ADS_1
Mata Arafah sontak saja langsung memandang Alvin yang cengengesan tidak jelas dengan tajam. Tidak mengira bahwa lelaki ini akan teramat niat
“Saya balik yah, lagi malas saya liat anak muda kencan. Bawaannya jadi kepengen juga” Bu Saras tertawa geli kemudian kembali ke tempatnya
“Kak Alvin mikir apaan sih sampe punya ide kaya gini? Mubadzir tau” tanya Arafah kesal yang mulai menyendok masuk bakso ke dalam mulutnya
Alvin tersenyum geli melihat tingkah gadis di depannya “Marah marah taunya baksonya dimakan juga”
Mata Arafah yang tadinya fokus pada mangkok di depan, kini beralih pada Alvin. Senyum lebar tercetak jelas diwajahnya “Hehe, enak banget soalnya”
Hati Alvin berdesir melihat senyum gadis itu, ada rasa nyaman yang tak ingin ia lupakan kala bersamanya. Bahagia Arafah sangat sederhana, dan Alvin menyukainya
“Silahkan Kak dimakan, anggap aja Kak Alvin yang traktir”
Sebelah alis Alvin naik dengan wajah jahil “Siapa bilang gue yang traktir? Entar kalo udah makan, bayar sendiri sana. Tadi gue ngutang khusus buat porsi lo”
“HAH?” Arafah melongo dibuat oleh pernyataan Alvin barusan, hingga memperlihatkan bakso utuh yang baru saja ia pindahkan ke dalam mulut
Tanpa banyak bicara, Arafah mengunyah baksonya. Hingga membuat Alvin mati-matian menahan diri untuk tidak mencubit pipi gadis di depannya yang mengembang. Terlebih dengan mata Arafah yang sedang memandang lurus pada Alvin
“Udah ngunyahnya?” tanya Alvin lembut yang dibalas anggukan oleh Arafah
“Ya udah, lanjutin gih kagetnya”
Arafah menarik nafas “Kak Alvin beneran nyuruh aku bayar sendiri? Ya udah, minjem duit Kak Alvin 50 ribu dulu, soalnya dompet aku lagi ditahan sama Tiara biar makan sama dia pas istirahat”
Alvin yang tadinya bersandar dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada, kini menopang dagu dengan tangan kanannya
Senyuman bahagia ia tujukan pada Arafah “Ya enggaklah Arafah comel, ngapain juga gue beli semua makanan kalo ujung-ujungny lo malah bayar sendiri? Gak lama gue kantongin beneran juga lo”
__ADS_1
“Ohh, kirain beneran. Hehe”
“Lanjut gih makannya”
Kedua insan manusia itu kini beralih fokus pada mangkok makanan yang terlihat menggiurkan. Sesakali Alvin melempar candaan yang sukses membuat Arafah tertawa lepas tanpa beban
“ADUHH”
TRAKK
Suara pintu utama cafetaria yang dibuka secara kasar, membuat mereka kompak mengalihkan fokus pada sumber suara
“UDAH GUE DUGONG KALO YANG DI DALAM PASTI KALIAN BERDUA. APALAGI NGELIAT NIH SENIOR CURUT SATU YANG MANGKAL DI DEPAN KAYA ANAK BEBEK” gadis yang tak lain adalah Tiara, melirik Adit yang tengah mengaduh kesakitan
Tiara dan Gita yang sedari tadi mencari Arafah, mendapat info dari informan anonim bahwa temannya telah diculik oleh makhluk bernama Alvin. Mereka mencari keberadaannya disekitar FEB dan mendapati Adit yang nongkrong dikursi outdoor seraya bermain PUBG
Alvin sontak menatap dengan wajah dibuat sekecewa mungkin pada Adit yang masih mengelus tulang kering yang telah ditendang oleh Tiara “Duhh, batal deh holiday di Balinya”
Wajah Adit langsung berubah paniik seketika “Yah, jangan gitu dong Vin. Udah janji gak boleh dibatalin, entar bini lo dua loh”
“Ya bagus dong”
Arafah melirik sinis Alvin “Kak Alvin kalo nikah mau poligami kah?”
Alvin tertawa mendengar pertanyaan gadis itu “Enggak lah Fa, becanda gue”
Tiara yang dikuti oleh Gita, berjalan ke arah meja Arafah dan Alvin. Mereka menarik kursi dari meja sebelah untuk bergabung di sana
Adit yang tak ingin terlihat bodoh dengan berdiri di depan pintu, ikut duduk di sisi Alvin. Jadilah lunch romantis itu berganti menjadi seperti makan siang keluarga besar
__ADS_1
“Sumpah, lo pada ganggu banget” ujar Alvin yang memandang sinis ketiga orang yang ikut bergabung dimejanya
“Yee biarin, siapa suruh nyulik teman gue gak bilang-bilang. Seharusnya Kak Alvin buat laporan penculikan dulu terus disetor ke gue. Kalo udah di acc, baru Kak Alvin boleh nyulik Arafah”