
Arafah masih memilih diam dari segala kecamuk yang bersarang di benak. Mengacuhkan semua perhatian yang selalu Papa beri
Rambut panjangnya ia biarkan terurai, sedikit berantakan tertiup angin malam yang cukup menenangkan untuk segala gundahnya
Kesendiriannya di atas balkon, sedikit terusik oleh suara Papa “Ara. Ayo makan, Papa udah beli nasi goreng kesukaan kamu”
Arafah diam, lagi dan lagi memilih untuk mengacuhkan semuanya. Ia sedang memberontak dengan cara yang anggun
Terdengar Papa yang membuang nafas kasar “Mau sampai kapan kamu begini?” tanya Papa yang terdengar sangat lelah
“Sampai Papa bawa Ara kembali ke Jakarta” Arafah menjawab mantap
Papa dibuat bungkam. Sudah hafal betul dia sikap Papa yang membawanya pulang ke Kalimantan sejak tiga hari silam
“Ara gak bisa lari terus yah. Semuanya harus diselesaikan baik-baik, bukan dengan cara pergi kaya gini” tutur Arafah pelan
Langkah Papa terdengar mendekat ke arahnya, berdiri di samping Arafah seraya bersandar pada pagar kaca
Memandangi anak gadisnya dari samping “Kamu anak Papa. Papa tahu Ara, kamu terlalu lembut dan mudah luluh” jelas Papa “Dan Papa gak bakal pernah rela kalau Ara luluh dan memilih kembali”
Tanpa mengalihkan pandangannya dari kolam renang di bawah. Ia menarik nafas panjang, berusaha meyakinkan diri sendiri
“Ara janji gak akan luluh Pa. Hubungan ini dimulai dengan baik, harus diselesaikan dengan baik juga”
Walau tak yakin bisa merealisasikan janjinya barusan, Arafah hanya mencoba membuat Papa yakin. Ia tak bisa terus begini. Mereka perlu bicara secara langsung
Papa tak menanggapi ucapannya. Ia kembali masuk ke dalam kamar Arafah, memindahkan nasi goreng dari sterefoam ke piring
Menatap sekilas pada Arafah. Tangannya terayun ke arah Arafah yang memandanginya datar “Makan dulu. Kalau udah, langsung pesan penerbangan terakhir hari ini”
Senyuman Arafah sedikit mengembang, ia berlari dan menghambur masuk ke dalam pelukan hangat Papa “Makasih Pa”
Dengan penuh kasih sayang, Papa mengelus lembut surai halus milik Arafah “Ara sayang kan sama Bunda dan Alula?”
Paham. Ia paham betul maksud tersirat dari pertanyaan itu. Papa ragu jika ia benar-benar akan seperti ucapannya
Jika orang lain saja yang melihatnya sudah ragu, bagaimana bisa Arafah percaya dengan dirinya sendiri?
__ADS_1
Ia sudah benar-benar sangat sayang, bahkan sejak awal hubungan ini dimulai. Arafah ingin egois, tapi kedua lelaki itu sama pentingnya dalam hidup Arafah
“Ara sayang kalian” ucap Arafah tegas
“Tapi aku juga sayang Alvin”
--------------------------------
Tas kecil Arafah adalah satu-satunya barang yang dibawa untuk kembali ke Jakarta. Hanya berisikan dompet, handphone dan airpod kecil
Setelah mendapatkan nomor kursinya, ia duduk dalam diam. Memandangi landasan dari kaca jendela yang kecil
Sebelum menonaktifkan handphonenya, Arafah melihat banyak panggilan dari orang yang sama. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dada Arafah, mendapati panggilan dari Alvin yang hampir menyentuh angka 60 untuk hari ini
Merasa tak ada yang bisa dilakukan, tangannya bergerak untuk mengetuk ikon whatsapp. Mendapati lagi dan lagi, nama Alvin yang terdapat di paling atas
“*Jangan kaya gini Fa. Kita harus ngomong. Semuanya gak bakal membaik kalau kamu pergi, gak akan ada yang terselesaikan kalau kamu hilang gitu aja”
“Kamu di mana? Aku ke sana, sharelock sekarang”
“Please Fa. Jangan pergi, aku gak bisa*”
Semuanya sudah hancur, semuanya tak akan bisa seperti dulu lagi dan Arafah tak akan pernah siap untuk menerimanya
Punggungnya bergerak naik turun, sangat sakit di dalam sana. Ia tak sanggup membayangkan, bahkan tak ingin untuk sekedar mengingat bahwa Alvin adalah penyebab semuanya
Dadanya terasa semakin sempit, segera ia mencoba mengatur nafasnya. Lantas kembali bersandar dengan wajah yang tak bergairah
Menghapus kasar jejak air mata yang membekas, berharap sakitnya dapat meluruh dengan usapan di pipinya itu
Tanpa perlu menunggu pesawat lepas landas, Arafah yang sudah lelah atas segala yang terjadi, memilih untuk terlelap
---------------------------------------------
“*PERGI KAMU DARI SINI. KEHADIRAN KAMU UDAH GAK PENTING UNTUK ALULA, ANAK SAYA SUDAH MATI” Papa berteriak murka, bagai orang yang sudah kehilangan kesadaran
Arafah disembunyikan dibalik punggung Om Farhan, tak ingin jika kemanakan kecilnya melihat semua itu
__ADS_1
Namun, ia tak bisa dibuat penasaran. Walau air mata masih sangat terlihat, sesekali ia mencoba melirik. Mendapati Bunda yang sedang memeluk Papa dengan erat
Jangan lupakan seorang lelaki yang sedang berlutut di kaki Bunda “Maafin Vino Om, saya tau kalau saya salah. Tapi kondisi Ma...”
BRUKK
Hantaman keras ia layangkan ke arah wajah lelaki itu “Diam kamu. Anak saya cuma minta waktu kamu sebentar, sebentar saja. Tapi kamu terlambat, dia sudah mati sesaat sebelum kamu datang” Papa terisak kencang
Bunda membawa Papa sedikit menjauh menggunakan sisa tenaganya “Istighfar Mas. Ini sudah takdir yang Allah gariskan untuk Alula. Jangan salahkan siapapun”
Walau berusaha menenangkan sang mantan suami, Bunda tetap tak bisa menahan tangisnya mengetahui jika sang buah hati sudah terkapar tak bernyawa di dalam sana
Om Farhan segera menarik pelan tangan Arafah, membawanya menjauh. Bahkan sangat jauh dari kedua orangtuanya dan seorang lelaki yang tak sempat ia lihat wajahnya. Namanya Vino, itu yang Arafah ketahui
“Kamu duduk di sini yah. Jangan kemana-mana” ia mendudukkan Arafah di salah satu kursi rumah sakit yang terletak di koridor UGD
Sebelum Om Farhan meninggalkan Arafah, tangan kecilnya menahan jaket hitam yang dikenakan oleh adik dari Papanya
“Kak Alula jangan dikubur di sini yah Om. Entar Arafah susah buat ziarahnya” ucap Arafah polos
Segera, Om Farhan berlutut di hadapan Arafah yang masih berlinang air mata “Iya sayang. Makanya Arafah jangan nakal, diam di sini aja yah. Entar Bunda sama Papa malah tambah sedih kalau Arafahnya nakal”
Dengan cepat ia mengangguk.
Memperhatikan langkah panjang Om Farhan yang mulai menjauh, dapat Arafah tebak jika ia pasti sedang menuju kepada kedua orangtuanya
Arafah yang merasa ingin melihat Alula, memberanikan diri untuk kembali melangkah mendekat ke sana. Berniat untuk masuk diam-diam ke dalam ruangan tempat Alula dinyatakan meninggal dunia
Namun satu pandangan yang ia lihat, membuat lututnya tidak bertenaga. Belum sempat ia menyentuh gagang pintu, matanya tertuju pada satu arah
Bunda jatuh pingsan dalam keadaan berlinang air mata. Wajahhnya sangat pucat dan terdapat raut kesedihan yang mendalam di sana
Dan sejak saat itu. Arafah tak lagi mendapati Bunda yang selalu menyambut kehadirannya di London dengan punah sukacita dan pelukan yang menenangkan
Bunda sempat bertahan, bertahan atas sakit yang tak kuasa ia bendung pedihnya. Bunda bertahan selama tiga bulan dan dirawat jalan di negara ini
Namun. Bunda pergi menyusul Alula, saat sang khalik sudah memanggilnya. Meninggalkan Papa dan Arafah yang masih mencoba berjuang untuk saat ini*
__ADS_1
Dengan nafas yang tersenggal-senggal. Arafah bangun, menatap sekelilingnya dimana hampir semua orang sudah terlelap dan kabin yang cukup gelap
Hanya tersisa dirinya yang kembai dihantui oleh bayang-bayang kelam masa lalu