
*Saat frasa yang sudah diterbangkan sejauh mungkin namun hanya angan palsu yang realita sajikan saat ini, membuat ia hanya dapat bertahan atas nama sahabat
Bukan seperti ini yang ia harapkan sangat mengenal sosok Alula Permata yang merupakan tetangganya di London
Gadis manis yang memiliki lesung pipi sepertinya, gadis yang selalu menghadirkan hari penuh warna tanpa kelam dalam hidup Alvino Bagaskara
“Kita bisa ketemu No? Aku mau balik ke Indonesia, gak tau pulang kesininya kapan” suara wanita yang sangat lembut terdengar dari seberang telefon Alvin
Ia melirik sekilas pada tangan kanannya yang menggenggam erat tangan Gisel. Wanita yang sedang terlelap di atas bangkar rumah sakit
“I can’t La. Mama lagi gak bisa ditinggalin. Aku takut entar sakitnya datang lagi dan dia sendirian” ucapnya dengan rasa bersalah
Terdengar helaan nafas dari seberang sana “Lima menit aja No,please. Andai aku gak punya ketakutan berlebih sama rumah sakit, aku yang bakal ke sana”
Perasaan Alvin mulai sangat kacau. Ia memang mencintai wanita itu yang justru hanya dianggap sahabat olehnya. Tapi tentu rasa cintanya tak lebih besar dari yang ia curahkan untuk Gisel
“Im sorry Alula. Aku gak bisa. Tante Tara sama Tante Ana baru aja balik ke Indo, cuma aku yang bisa jagain Mama” katanya berusaha meyakinkan “Aku bakal nyusul ke Indo kalau Mama udah baikan, aku janji”
Tak ada jawaban dari Alula. Hening,membuat Alvin semakin gelisah di tempatnya “Alula?”
“Aku rindu No. Udah dua minggu kamu gak nyamperin aku” ucap Alula dengan suara yang mulai serak, kemudian kembali menetralkannya “Aku tunggu di taman dekat perumahan, aku harap kamu bisa datang” keputusan Alula terdengar agak memaksa
Alvin membuang nafas kasar
Mulai merasa tidak suka dengan kebiasaan Alula yang selalu ingin dituruti apapun kemauannya. Jika saja ia sedang dalam situasi yang normal, tentu Alvin akan mengabulkan apapun keinginan gadis itu
Tapi tidak untuk sekarang “Jangan La, jangan tunggu aku. Aku gak bakalan bisa datang” tegas Alvin
“Terserah kamu mau datang atau gak. Intinya aku mau nunggu ”
Tuttt
Panggilan diputuskan sepihak membuat Alvin berdecak kesal di tempatnya “Gadis keras kepala”
Ia membuang dengan asal handphonenya di atas sofa yang tepat berada di belakangnya. Sama sekali tak memedulikan kondisi handphone mahalnya yang sudah tergelatak
__ADS_1
Hampit 10 menit ia bertahan dalam posisi itu. Menggenggam tangan Gisel dan sesekali menciuminya tulus. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan gadis yang sedang menunggunya
Jika saja ini bukan di rumah sakit, sudah dipastikan Alvin akan berteriak kesal seperti orang depresi. Namun khayalnya itu harus ia kubur dalam-dalam
Secara lembut ia mulai melepaskan tangan Gisel, menaikkan selimut Mama hingga sebatas dada “Maaf Ma. Alvin pergi bentar yah, Alula lagi tunggu aku. Alvin gak bisa abaikan gadis itu” ia mengecup puncak kepala Gisel
Mengambil jaket tebal dan syal kemudian mengenakannya dengan gerakan cepat, tak ingin membuat Alula menunggu lebih lama di waktu yang mulai berganti petang
Namun baru saja Alvin sedikit menggeser pintu rawat Gisel, wanita itu mengeluarkan rintihan perih dan bergerak tidak nyaman
“DOCTOR ANDREW. MY MOM” Alvin berteriak panik dengan perasaan yang sudah sangat kacau
Dokter Andrew yang kebetulan sedang berada di dekat kamar Gisel segera masuk. Memeriksa keadaan wanita paruh baya itu
Alvin yang selalu terlihat kuat dan kokoh langsung kehilangan semua itu. Ia menangis dalam keadaan berlutut di samping Gisel, menggenggam erat tangan wanita itu yang sangat dingin. Menyalurkan kehangatan di dalamnya
“Mom. Im here”
Dokter Andrew memanggil seorang perawat yang kemudian datang dengan membawa sebuah suntikan yang tak ia ketahui fungsinya
Ia menyuntikkannya di lengan kiri Gisel yang secara perlahan membuat Mamanya lebih tenang dengan nafas yang mulai teratur
Alvin mengangguk pelan, kemudian keduanya berlalu meninggalkan kamar Gisel. Ia akhirnya bisa bernafas dengan tenang
Terlalu tenang. Sampai melupakan sesuatu yang sudah hampir dua jam menunggu di bawah langit gulita dan atmosfer yang sangat dingin
Alula permata. Gadis dengan rambut terurai beserta syal berwana putih susu yang membalut lehernya. Ia menggosok-gosok telapak tangan, berusaha mendapatkan kehangatan di sana
Jika saja handphonenya tidak dalam keadaan lowbat, ia pasti sudah akan memborbardir Alvin dengan mulut pedasnya
Taman yang semula cukup ramai kini hanya meninggalkannya seorang diri di bawa lampu yang tak terlalu terang
Alula menatap sekaliling, tak ada tanda-tanda bahwa Alvin akan segera datang. Justru ia malah melihat seorang lelaki dalam keadaan mabuk yang terlihat sedang berjalan ke arahnya
“Mampus gue. Sial banget hari ini” umpat Alula yang segera berdiri, sadar akan ancaman yang sedang menantinya
__ADS_1
“Hi girl” suara itu terdengar menyapa telinga Alula
Ia ingin segera berlari namun naas pergelangan tangannya langsung dicekal oleh lelaki mabuk itu. Ia tersenyum mengerikan membuat Alula rasanya ingin menangis
Dengan kasar si lelaki membalik badan Alula agar menghadapnya “Will you be mine tonight honey?” tanyanya seraya mengelus pipi mulus gadis itu dengan tangan yang memegang botol minuman
Sontak saja dengan gerakan gesit, ia menepis kasar tangan itu dari wajahnya. Ditatapnya rendah lelaki itu, berusaha memanipulasi rasa takut dan khawatir yang sudah menguasainya
“No bastard”
“Hhh” si lawan bicara tertawa mengejek kemudian kembali meneguk minuman keras dari botolnya
Cengkraman ditangan Alula semakin terasa menyakitkan, kuku lelaki berumur sekitar 20an itu terasa menancap di pergelangannya membuat Alula meringis perih
Wajah itu mendekat ke arah Arafah. Sadar tentang apa yang akan dilakukan pria ini, membuat Alula tanpa perlu berfikir dua kali segera menendang bagian vital para lelaki menggunakan lututnya
“ARGHHH BITCH”
Alula sama sekali tak mempedulikan umpatan itu, ia hanya perlu sesegara mungkin ke arah jalanan yang cukup ramai
Iya, hanya itu. Hanya perlu berlari dengan jarak tak sampai 100 meter. Air mata yang sudah berlinang dan detak jantung yang tak beraturan kini mengiringi kaki Alula melangkah menjauh
DORRRR
Hening. Alula tak dapat menangkap suara apapun, seakan ada dengungan yang teramat keras dalam telinganya
Langkah Arafah yang tidak seberapa panjang langsung terhenti kaku saat merasakan ada benda tajam yang menembus punggungnya, berasarang sempurna di dalam
Jaket army yang ia gunakan, perlahan berubah warna menjadi lebih kelam dibagian kiri. Ia jatuh berlutut saat merasakan kesakitan yang luar biasa itu
Cairan bening masih mengalir mulus di pipinya namun tanpa suara. Bagian dada kirinya terasa sakit, sakit sekali. Membuat Alula langsung jatuh terbaring mengenaskan dan kesadarannya mulai hilang
Dalam situasi seperti ini, harapan terbesar Alula adalah Alvin akan segera datang dan mengeluarkannya dari situasi mencekam ini
“ALULAAAAA”
__ADS_1
Hari itu adalah saat di mana Alvin dapat melihat sosok Alula. Walau dalam kondisi mengenaskan dan....
Berdarah*