
“Dadah Arafah. Jangan lupain gue sama Gita yah, awas aja kalo lo berpaling. Gue geplak tuh kepala sempe kelepas” ancam Tiara dengan wajah beringas
Arafah tertawa pelan melihat kekonyolan yang dihadirkan Tiara pagi ini, mereka baru saja masuk ke dalam kampus dan akan segera berpisah
Gita memutar mata jengah melihat kelebayan seorang Tiara “Kita cuma beda kelas woi, bukan beda dunia”
Yah benar, Arafah memiliki kelas yang berbeda dengan kedua sahabatnya. Sempat merasa agak risih karena hanya dia seorang yang terhempas, sementara Gita dan Tiara masih ditakdirkan untuk satu kelas
Tiara menampilkan deretan gigi putihnya “Hehe”
“Ya udah, gue masuk yah. Entar ketemuan di taman aja” pamit Arafah yang dibalas anggukan singkat oleh keduanya
Setelah memastikan Arafah masuk, Gita dan Tiara melenggang untuk pergi menuju kelasnya sendiri. Hari ini adalah pembelajaran formal untuk mereka, yang sayangnya harus beda kelas
“Assalamualaikum”
Salam pelan Arafah, membuat beberapa pasang mata yang sudah berada di kelas segera mengalihkan fokus pada gadis yang mengenakan rok payung krem, cardigan peach serta hijab yang berwarna senada dengan rok. Simple namun terlihat sangat menawan sebab dialah yang memakainya
“Waalaikumussalam” kompak seluruh mahasiswa di sana
Para kaum adam memandangi Arafah dengan tatapan takjub. Berbeda dengan mahasiswa perempuan, yang fokus mengamati style Arafah
Si gadis berhijab tersenyum manis, membuat beberapa orang tidak percaya bahwa ditakdirkan satu kelas dengan wanita secantik Arafah
Ia duduk di kursi dekat jendela, di sampingnya terdapat seorang perempuan yang masih sibuk memandangi dirinya
“Hai, gue Arafah. Panggil Rafah aja” Arafah mengayunkan tangannya ke depan gadis itu
“E..Ehh. Gue Aleta. Biasa dipanggil Leta” gadis itu gelagapan sendiri seraya menyambut tangan Arafah
Senyuman tulus Arafah, ia tujukan untuk gadis bernama Leta “Nice to meet you Leta”
Aleta yang awalnya merasa canggung, kini sudah lebih santai bercakap-cakap santai dengannya. Bercerita tentang hal-hal yang membuat mereka saling mengenal
Hingga selama beberapa saat, tak ada lagi perbincangan yang terjadi. Sebab Aleta yang keluar kelas untuk mengangkat panggilan
Mata hijau Arafah memandang ke luar lewat jendela. Ia bahkan menggeser kaca jendela, membiarkan angin masuk dan menerpa wajahnya
__ADS_1
Merasa terlalu nyaman dengan angin sepoi-sepoi, netra indah miliknya perlahan tertutup. Senyum kembali terlihat diparas ayu yang ia miliki
Hampir lima menit ia menikmati angin itu, sebelum matanya terbuka dengan perlahan. Ada yang berbeda saat Arafah memandang lurus ke depan
Bukan hanya pemandangan orang berlalu-lalang ia lihat dari kelasnya yang berada dilantai dua. Matanya bertemu dengan netra cokelat milik lelaki di bawah sana
Walau agak jauh, Arafah masih dapat mengenali siapa pemilik netra kelam itu. Alvino Bagaskara, lelaki yang sukses membuat dirinya kelimpungan tidak jelas selama satu malam
Dan tanpa berdosanya, Alvin melambaikan tangan disertai senyum lebarnya. Terlihat sangat bahagia
Bak bocah yang tak mempedulikan pandangan-pandangan aneh orang disekitarnya. Ia masih saja melambai penuh ekspresi
“Untung cakep. Kalo gak, udah gue tendang pantat nih orang” batin salah seorang gadis yang melintas di samping Alvin
Tanpa bisa ia cegah, tawa pelan keluar dari bibir Arafah melihat tingkah absurd yang ditunjukan Alvin pagi ini
Arafah membentuk gerakan mulut dengan vokal yang terlihat sangat jelas
“U-DAH-NAN-TI-CA-PEK”
Ia menganggukan kepala saat memahami maksud Arafah, kemudian berhenti melakukan tingkah nyelenehnya
Tanpa melepas senyum menawannya, ia melambai sekali lagi sebelum berlalu meninggalkan tempatnya berdiri
Lelaki itu selalu punya kejutan yang membuat hari-harinya terasa berwarna walau tak selalu cerah,kadang kelam dan abu-abu, namun entah mengapa Arafah menyukainya
Terlalu banyak memikirkan sosok Alvin, gadis itu tiba-tiba ingin buang air kecil. Dengan langkah anggunnya ia keluar kelas, mendapati sosok Aleta yang masih menelfon seraya kesemsem sendiri. Macam orang lagi berbunga-bunga
Ia masuk ke dalam kamar mandi yang masih berada satu lantai dengan kelasnya. Beberapa gadis ia dapati tengah memperbaiki make up serta jilbab maupun rambut
Tanpa mempedulikan pandangan yang jelas-jelas diarahkan padanya, ia masuk ke bilik kecil toilet. Menuntaskan kegiatannya
Saat keluar untuk bercermin dan memperbaiki penampilan, para gadis itu masih juga fokus memperhatikan gerak-geriknya
Tak ada rasa risih yang ia pendam, sudah terbiasa. Wajah menawan milik Arafah tentu tak bisa diacuhkan begitu saja oleh orang yang melihat. Netra hijaunya sangat menandakan bahwa ia adalah gadis blasteran
Setelah merasa tak ada yang aneh, ia melempar senyum tipis kepada para kaum hawa yang menatapnya kemudian berlalu kembali ke kelas
__ADS_1
Ketika kaki berbalut flat shoes sederhananya sampai dipintu kelas, mata Arafah memicing. Memandang lekat punggung seseorang yang duduk membelakanginya, sangat mengenal siapa sang pemilik
“Kak Alvin” panggil Arafah pelan
Benar 100%, lelaki itu adalah Alvin. Ia yang tadinya fokus memainkan handphone segera mengalihkan perhatian pada Arafah yang bergerak masuk
Alvin duduk dikursi yang berada tepat di depan Arafah, menghadapkan kursinya pada meja Arafah
Ia menepuk-nepuk meja dengan senyum lebar “Sini duduk”
“Duduk tuh di kursi kak, bukan di meja” ralat Arafah yang sudah duduk manis di tempatnya
“Iya, itu maksud gue. Tangan gua gak sampai buat nepuk kursi lo, entar jadinya gue malah koprol”
Ucapan Alvin membuat Arafah tertawa renyah. Lelaki ini sukses meningkatkan moodnya dipagi hari yang cukup cerah
Dan lengkungan itu memiliki peran yang teramat besar atas debaran tak teratur dari jantungnya, yang berusaha ia tutupi dengan senyum manis
“Kakak ngapain ke sini? Nggak mungkin dong kalau Kak Alvin satu kelas sama aku”
“Kangen aja”
DEG
“Sumpah, nih orang ngomong kenapa gak difilter dulu Ya Tuhan. Bahaya nih buat kesehatan jantung anak gadis Papa” batin Arafah
Tangan Alvin bergerak untuk mengusap puncak kepala Arafah “Gemesin banget lo kalau kaget kaya gini, jadi pengen gue masukin kantong biar bisa dibawa kemana-mana”
Hampir semua gadis dalam ruangan tersebut dibuat memekik tertahan atas perilaku manis Alvin. Senior yang terkenal akan judes dan datarnya namun langsung berubah ketika bersama Arafah
Berbeda dengan Arafah yang selama sepersekian detik langsung menepis pelan tangan Alvin “Apaan sih Kak”
Alvin tertawa receh melihat sembrutan merah yang terlihat dikedua pipi putih Arafah. Sepertinya mulai hari ini, membuat Arafah blushing adalah hobi barunya
“Ya udah, gue balik ke kelas dulu. Bisa dipites pala gue kalo telat masuk, entar kadar ketampanan gue bisa berkurang 0,01 %”
“Dihh PD banget”
__ADS_1