
Diamnya Arafah dapat menjawab segala resah Alvin. Gadis itu tak berkutik sama sekali, membatu di tempatnya berdiri saat ini
Ternayata Tuhan tak mengizinkan Arafah egois. Ia tak mungkin membenarkan apa yang seharusnya salah, tapi Arafah hanya terlalu takut jika Alvin menyerah
Arafah takut jika Alvin kembali meninggalkannya. Ia tak ingin lagi merasakan sakit oleh alasan yang sama, dia sudah jengah
“Tapi gak masalah, selama kamu selalu dukung apapun yang jadi keputusanku ” Alvin bergumam pelan
Lelaki itu melempar senyum hangat, berusaha menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja
Ia mengelus lembut puncak kepala Arafah “Aku pulang yah? Istirahat yang banyak, jangan keluyuran. Maaf sempat cuekin kamu tadi, aku lagi bingung”
Arafah tak bergeming, masih berperang untuk mempertahankan keegoisannya
Alvin membuka pintu mobil dan baru saja ingin menutup pintu sebelum Arafah mencegahnya. Ia menahannya dari luar
“Kak Alvin gak salah, hanya belum benar. Niat itu hal utama yang harus diluruskan” Arafah berujar pelan “Jangan jadiin aku sebagai alasan, Kak Alvin masuk Islam harus dengan niat karena Allah. Bukan yang lainnya”
Setelah kalah dari keegoisannya kali ini, Arafah segera beranjak masuk. Meninggalkan Alvin yang diam tak berkutik menatap punggung Arafah
---------------------------
“Ya ampun Pa, saya udah nunggu 2 jam loh. Kok batalin janji sepihak sih?” Alvin mengekori dosen pembingbingnya yang baru saja keluar dari ruangan
“Besok ke ruangan saya jam 10 pagi. Saya lagi ada acara”
Alvin menghentakkan kaki kesal dan membuang asal skripsinya yang sudah mati-matian ia buat. Masa bodo, ia sudah terlalu lelah selama sebulan ini memperjuangkan dosennya
Dengan penampilan urakan, Alvin duduk selonjoran di atas lantai seraya menatap bosan pada skripsi yang telah ia revisi hingga susah tidur selama seminggu
Bahkan tak sempat untuk sekedar mengabari Arafah. Membahas soal Arafah, membuat ia mengeluarkan handphone dari saku jeans dan mulai mencari kontak gadis tersebut
“Astaghfirullah. Kakak kenapa?”
Baru saja Alvin ingin menelfon Arafah, gadis itu sudah berseru heboh mendapatinya yang duduk selonjoran tanpa malu
Alvin tersenyum lebar menyambut kehadiran Arafah “Aku rindu” katanya tanpa segan
Seraya tersenyum malu-malu, ia ikut duduk di samping Alvin “Kak Alvin kenapa? Butuh teman cerita?”
Alvin mengangguk. Ia menunjuk skripsinya menggunakan ekor mata yang sedang ia tindis di bawah lutut
Melihat itu, sontak saja Arafah memukul pelan kaki Alvin agar segera bergeser. Ia memangku skripsi Alvin yang terlihat baru diprint tapi agak kusut
“Kok skripsinya diginiin? Udah buat susah-susah malah dijadiin ganjalan kaki”
Alvin terkekeh geli mendengar celotehan Arafah. Ia menatap mata hijau Arafah yang selalu terlihat menenangkan “Capek. Pinjam bahu kamu sebentar boleh?”
Tanpa suara, tangan Arafah mendorong pelan kepala Alvin agar sandar dibahu kananya. Alvin terdengar menghela nafas pelan
__ADS_1
“Capek banget yah?” tanya Arafah
“Lumayan lah”
Keduanya menjadi tontonan gratis bagi siapa saja yang lewat. Berbisik-bisik pelan tentang wajah Alvin yang terlihat sangat damai saat ia memejamkan mata
Tak lama, dengkuran pelan lolos dari mulut Alvin.Ia terlelap dalam tenang. Arafah tersenyum tipis menyadari bahwa Alvin tidur di bahunya
Walau kepala Alvin bisa dikata cukup berat. Arafah tak setega itu untuk membangunkan Alvin yang sedang pulas
Saat menatap matanya, Arafah mendapati ada guratan gelap di sana. Alvin tak mendapatkan waktu tidur yang cukup
Lagi pula ia telah menyelesaikan kelas terakhirnya hari ini. Kedatangan Arafah memang untuk melihat dan mendengar kabar dari lelaki yang sedang tenang ini
Ia rasa, meminjamkan bahunya selama satu atau mungkin dua jam bukanlah masalah besar
“Tidur yang nyenyak Kak”
-----------------------------
“Pegel yah Fa? Sakit banget pasti”
“Maaf Fa. Aku tidurnya enak banget”
“Arafah, maaf yah. Aku gak sadar kalau tidur selama itu”
Alvin terus saja berkicau sepanjang perjalanan mereka menuju tempat parkir. Arafah dengan gerakan gesit, menoleh
“Sekali lagi Kak Alvin minta maaf, aku bakalan tarik ucapan yang bilang kalau udah maaafin Kakak” ancam Arafah
Alvin menatap bahu Arafah “Sakit yah?” tanyanya tak menaggapi ucapan gadis itu
“Kalau sakit emang Kak Alvin mau apa?”
“Ajakin kamu jalan seharian” jawab Alvin tanpa fikir panjang
“Ya udah. Bahu aku sakit, sakit banget malah” Arafah berujar lebay dengan wajah menggemaskan “Ayo jalan. Harus seharian loh yah?”
Alvin mengangguk, mereka berjalan beriringin menuju motor Alvin. Kekesalannya pada sang dosen seakan meluap tergantikan dengan rasanya pada Arafah yang semakin besar saja
“Sini”
Langkah Arafah bergerak untuk mendekati Alvin. Ia memasangkan helm yang memang selalu stay pada motornya. Memakaikan dengan hati-hati, berusaha agar tidak membuat jilbab gadisnya tidak berantakan
“Cantik banget sih” Alvin memukul stir motornya, melampiasakan rasa gemas pada Arafah
Seraya tersenyum geli, ia duduk tenang di jok motor Alvin. Menggenggam kemeja kotak-kotak Alvin lantas keluar dari area kampus
Arafah mencondongkan wajahnya ke depan “Mau bawa aku ke mana?” tanyanya penasaran
__ADS_1
“KUA. Biar cepet halal” Alvin tersenyum menggoda setelah mengatakannya
Dapat ia saksikan wajah Arafah dari spion kanan motor yang memerah menahan malu. Ia selalu senang saat berhasil menghadirkan rona malu-malu pada pipi gadis itu
Senyuman Alvin semakin lebar saat mendapati Arafah yang berusaha menetralkan air wajahnya “Gak boleh. Kak Alvin sendiri loh yang bilang kalau mau selesai S1 dulu”
“Iya iya. Bercanda sayang”
PLAKKK
“Awww”
Arafah memukul cukup kencang punggung Alvin “Kok aku dipukul sih?”
“Kok mulut Kak Alvin enteng banget sih?” tak mau kalah, ia meniru gaya bicara lelaki itu
“Kan emang sayang” ujar Alvin enteng
Arafah menundukkan wajahnya “Ihhh, gak boleh ngomong gitu” kesalnya
“Kenapa?”
“Aku baper. Emang Kakak mau tanggung jawab?”
Dibalik helmnya, Alvin tersenyum geli “Mau-mau aja”
Astaga. Arafah menahan semuanya, entah sudah semerah apa wajahnya saat ini?
Panggilan itu baru pertama kali ia dengar dari mulut Alvin. Rasanya sedikit berbeda. Lebih berwarna
“Kamu udah makan siang?” tanya Alvin, berusaha untuk menormalkan kembali suasana
Arafah menggeleng “Belum sempat. Selesai shalat, langsung ke Kakak”
“Sekarang jam berapa?”
Arafah melirik pergelangan tangannya “10 menit lagi jam 3”
“Mau makan apa?” tanya Alvin saat motornya berhenti melaju pada perempatan jalan raya saat lampu jalan menunjukkan warna merah
“Cari batagor yuk?” Arafah berseru ceria
“Batagor dekat lapangan sana enak banget, sumpah” ia menunjuk lapangan yang sudah terlihat di depan sana
“Ayo. Kita makan dulu yah? Beres makan, baru aku antar cari mesjid” ujar Alvin
Arafah mengangguk pelan
Ia sedang tak ingin memikirkan tentang perbedaan yang sedang menghalang hubungan keduanya
__ADS_1
Dibawah matahari yang cukup terik, di balik punggung seseorang yang sedari tadi melajukan kendaraannya dengan kecepatan pelan. Arafah menyerahkan semua keputusan pada Alvin. Tak ingin merusak momen bahagianya saat ini