Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 52 (FLASHBACK)


__ADS_3

17 Oktober 2014


*Langkah kaki seseorang terdengar memenuhi ruangan. Seorang lelaki masih dengan pakaian sekolahnya terus memutari ruang tamu rumah tersebut


“She’s your sister?” tanyanya menunjuk sebuah bingkai foto kecil berisikan gambar dua gadis yang tengah berpelukan


Alula mendekat. Mengangkat bingkai yang sudah menarik perhatian tetangga barunya, Alvino. Akrab ia sapa dengan panggilan Vino


Lelaki keturunan Indonesia yang bersekolah di London. Walau tidak se-ramah yang Alula harapkan, setidaknya Vino masih mau menemani Alula saat Bundanya belum pulang


“Ya. She’s so beautiful. Her eyes is amazing if you see that” kata Alula yang tersenyum lebar


“Sayang. Yang nampak hanya rambutnya saja”


Alula tertawa ringan, membuat perhatian Vino langsung terarah pada lengkungan indah yang diciptakannya


Ia meletakkan foto itu pada posisi semula “Her eyes, look like my father”


Alvin mengangguk paham, menatap Alula yang sangat cantik walau hanya dilihat dari samping “And your eyes, look like your mother. Right?”


Pandangan keduanya bertemu, Alula tersenyum sangat manis “As you see”


“Kamu sejak kapan tinggal di sini?”


Pertanyaan yang cukup untuk membuat Vino terdiam seketika. Dibuat bungkam oleh pertanyaan sederhana dari Alula


Melihat gelagat Vino yang nampak tidak nyaman, ia mengarahkan lelaki itu untuk duduk di atas sofa dan segera mengambil minuman dingin dari dapur


Saat kembali, didapatinya Alvin yang masih diam dan menunduk. Entah apa yang ditatapnya hingga memasang tampang sangat serius


Dengan gemas, Alula menempelkan minuman kaleng pada pipi putih Alvin. Membuat lelaki itu terlonjak kaget dan Alula tertawa puas


“Bunda sama Papa baru aja cerai. Papa terlalu sayang sama Bunda, sampai buat Bunda lama-lama akhirnya gak nyaman sama sikap posesif yang terlalu berlebihan. Dilarang ini, dilarang itu, gak boleh ke sana, gak boleh ke sini, jangan begini, jangan begitu. Sedangkan Bunda orangnya super aktif”


Vino menatap kaget pada Alula yang tiba-tiba meneceritakan kisah keluarganya, tapi ada satu yang membuatnya sangat kagum. Walau yang dibahas bukanlah sesuatu yang menggembirakan, gadis itu masih bisa tersenyum

__ADS_1


Ia menoleh sekilas pada Vino “Bunda bilang, dia sudah sangat lama bertahan demi anak-anaknya. Tapi Papa tetap gak berubah, masih dengan keegoisannya sendiri”


Namun Vino paham, terbesit sakit yang mendalam dalam senyum yang berusaha Alula ciptakan. Ia masih memilih diam


Alula menarik nafas panjang “Untuk pertama kalinya, aku benci dengan sifat sayang Papa untuk Bunda. Dia lepas Bunda, dia terima digugat. Papa terlalu sayang sampai gak kuat lihat Bunda yang bersujud demi satu kata. Pisah”


Vino menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Mendongak untuk menatap langit-langit berhiaskan lampu gantung mewah


Menghela nafas, meyelami mata cokelat Alula yang terlihat sangat menawan. Meyakinkan diri bahwa ia bicara dengan orang yang benar


“Papa Mama juga sementara proses cerai. Tapi sangat beda dengan kisah tadi. Papa menikah diam-diam dengan HRD di perusahaannya. Mama yang tahu otomatis langsung murka, gak ada yang namanya kesempatan kedua untuk Papa. And beginilah akhirnya” tutur Vino dengan wajah santai


“Tapi Mama harus nunda, karena keadaan dia yang lagi hamil”


Alula memperhatikan setiap kata demi kata yang keluar. Menatap lamat-lamat pada lelaki yang duduk di sampingnya


“Mama langsung bawa aku pindah ke London. Kantor pusat butik soalnya ada di sini, dia nyibukkin diri dengan urus bisnis dan anaknya yang sebiji-biji ini” Vino terkekeh pelan di akhir kalimatnya


Membuat Alula tanpa kata segera memeluk Vino, membuatnya tentu sangat kaget. Tapi otaknya seakan mati rasa, ia kaku


Dengan lembut, Alula menepuk punggung Vino “Stay strong No. Kamu pasti tahukan? Kalau sekarang itu, yang penting buat Mama cuma kamu. Just you”


Cukup lama keduanya dalam posisi tersebut, sebelum Alula melepaskan Vino. Membuat Vino tak tahan untuk mengacak rambut panjang Alula


“Kok bisa sih, anak seumur kamu bisa sedewasa ini?”


Mendengar hal tersebut, Alula mengangkat bahu cuek “Entah. Karena waktu, mungkin?”


Vino meneguk minuman yang telah disajikan oleh Alula, menatap gadis itu dari samping


“Kalian di sini cuma berdua?” tanya Vino mencoba memastikan


“Iya. Kalau siang gini, biasanya cuma sendiri. Bunda masih di kantor, paling balik ke rumah jam 4 an lah” jawab Alula seraya melihat jam yang sudah menunjukkan angka 3


TRITT TRITT TRITT

__ADS_1


Nada dering panggilan dari handphone Alula, membuat gadis itu segera berlari untuk meraih cardigan yang ia gantung di dekat pintu masuk. Merogoh kantong untuk mendapatkan benda persegi tersebut


Dengan cepat, ia menggeser ikon hijau hingga menampilkan wajah tampan Papa dengan mata hijaunya yang bersinar


“Assalamualaikum Papanya Alula. Yang gantengnya Masya Allah banget” sapa Alula ceria


Papa nampak sangat bahagia dengan senyumannya di sana “Waalaikumussalam anak Papa yang tambah cantik tinggal di negeri orang”


Alula cemberut, sangat lucu “Coba aja, mata Lala kaya matanya Papa. Pasti lebih cantik”


“Eitts. Ga boleh ngomong gitu, bersyukur sayang” tegur Papa yang masih terdengar lembut “Alula udah makan siang?”


Dengan semangat, Alula mengangguk “Iya dong. Papa juga jangan lupa makan malam”


Di sana, Papa terlihat duduk di kursi kerjanya


“Siap. Papa udah beres makan dari tadi. Sama adikmu juga”


Alula tiba-tiba memasang raut masam “Aaa. Jadi rindu tuh anak”


“Kalian telfonannya besok aja. Adikmu lagi belajar, mau ulangan katanya” Dengan setengah ikhlas, Alula akhirnya mengangguk


“Lala kalau di rumah sendirian, pintunya jangan lupa dikunci. Pagarnya juga jangan lupa ditutup” Papa mengingatkan, mengetahui bagaimana sikap pelupa anaknya yang satu ini


Astaga. Hampir saja ia melupakan keberadaana Vino yang sedari tadi memandanginya dalam diam


“Eitss. Lala gak sendirian lo di rumah, Lala punya kawan baru”


Alula melangkah mendekati Vino yang tiba-tiba gugup sendiri. Sadar bahwa dirinya akan diperkenalkan kepada Papa Alula


Ia mengarahkan layar handphone agar terfokus pada wajah Vino “Dia namanya Vino Pa. Orangnya datar, tapi baik kok” ucap Alula memulai sesi perkenalannya


Papa memicingkan alis “Ha..Halo Om. Saya Vino, Alvino”


“Iya. Jangan macam-macam yah kamu sama anak saya, awas aja. Saya tendang kamu dari dunia kalau berani sentuh anak gadis saya” ancam Papa yang terdengar tak main-main

__ADS_1


Vino meneguk ludahnya dengan kasar “I..Iya Om”


“PAPAAA*”


__ADS_2