Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 35 (MAAF ARAFAH)


__ADS_3

Arafah bukan gadis yang memiliki kepercayaan setinggi itu. Harapnya selama ini hanyalah fatamorgana yang ia ciptakan untuk memanipulasi kesakitan pada akhirnya


Tapi kenapa harus sekarang? Saat rasanya pada lelaki itu sudah sangat mendalam. Membentuk kubangan belangga yang hanya dapat diisi oleh kasih Alvin


“Berdiri sekarang” kalimat penuh ketegasan terdengar dari depan Arafah “Jangan duduk di situ. Kaki lo nanti pegel”


Semilir angin sangat terasa di sana, menciptakan suasana hening yang memekat.


Arafah tak mendongak bahkan untuk sekedar membuka suara


Pemilik dari suara bariton yang selalu mengingatkannya untuk shalat isya tepat waktu, suara yang selalu mengibur Arafah dengan celetukan asalnya,pemilik dari suara yang setia mendampingi Arafah dengan segala ketidak sempurnaannya


Dada gadis berhijab itu semakin sesak, isakan yang sarat akan pilu tak bisa lagi dipendamnya. Mengeluarkan semua emosi hati


Tangan kanan Arafah membekap kencang mulutnya, tak ingin jika dia mengucapkan sesuatu yang akan menghasilkan penyesalan nantinya


Alvin yang sedari tadi mengikuti Arafah, ikut duduk di samping gadisnya. Tak mengucapkan sepatah katapun. Memberi waktu untuk Arafah melampiaskan semuanya. Ia takut, jika nantinya bicara justru hanya akan menghasilkan luka segar bagi wanita yang ia sayang. Benar-benar sayang


Beberapa pejalan kaki yang lewat memandang penuh tanda tanya kepada keduanya, tapi tentu saja diacuhkan oleh Alvin. Ia tak punya waktu selain mengetahui apa alasan Arafah sesunggukan seperti ini


Sudah hampir lima menit Arafah bertahan pada posisinya, nafas gadis itu masih tersenggal-senggal. Masih menunduk, tak ingin menatap netra Alvin yang selalu menatapnya teduh dan jahil


Tak bisa ia pungkiri, Arafah telah jatuh sejatuh-jatuhnya pada kelembutan yang diberikan Alvin. Ia telah terpukau sangat jauh dengan kesabaran dan teduh lelaki yang hampir dua tahun bersamanya


Namun mengapa takdir harus sekejam ini pada mereka?


Saat nafasnya mulai teratur, Arafah menegakkan punggungnya. Menatap lurus pada kendaraan yang berlalu lalang di depan sana

__ADS_1


Ia menghela nafas lelah “Selama ini kita jalanin apa Kak?” tanyanya dengan suara parau, membuat Alvin memandanginya pusing dari samping


Tangan Alvin bergerak untuk mengusap kasar wajah tampannya, membuang nafas kasar


“Belum seminggu kita bahas ini Fa” fikirannya melayang pada perdebatan beberapa hari silam “Udah sering kita bahas masalah ini, gue gak mau kita saling menyakiti dengan pembahasan itu”


Tatapan Arafah jatuh pada Alvin yang tengah membuka kemejanya casualnya, mengenakan di atas punggung gadis itu saat angin berhembus dengan kencang


“Dingin. Entar masuk angin”


Perlakuan seperti ini membuat setetes air mata kembali jatuh, membuatnya semakin tak paham mengapa Alvin selalu bisa meluluh lantahkan pertahanannya


Alvin mengeluarkan sapu tangan dari saku celana jeans yang ia kenakan, menghapus dengan lembut jejak air mata. Pandangan mereka saling bertabrakan, membuat rasa itu semakin dalam


“Jangan nangis, gue gak suka. Senyum dan ketawa aja terus kaya dulu, gue suka liat lo yang kaya gitu” ucap Alvin tulus setelah mengusap pipi Arafah menggunakan sapu tangan “Gue merasa gagal jadi laki-laki buat lo kalau liat gadis gue nangis kaya gini”


Deg


“Jangan ngomong ngaco, gue nggak pernah mikir kaya gitu selama lo ada di sisi gue” kata Alvin dengan dada yang bergemuruh hebat


Manik hijau Arafah menatap lekat Alvin “Mau sekeras apapun kita berjuang, kita tetap beda kak” dadanya terasa sesak mengutarakan kalimat yang sarat akan pedih “Tembok penghalang diantara Aku dan Kakak terlalu kokoh, sekuat apapun gak bakal bisa dihancurin”


Tak ada kata yang terlontar dari Alvin, ia hanya menampilkan senyum getir kemudian berpaling dari tatapan Arafah


Semilir angin membuat Arafah menutup matanya“Orang yang seiman aja belum tentu dapat akhir bahagia, apalagi kita yang sudah sangat jelas beda”


Keheningan mendalam tercipta di sana, membiarkan kedua insan manusia itu larut dalam emosi dan perasaannya sendiri

__ADS_1


Sampai tiba-tiba Alvin berdiri. Kepalanya menunduk untuk menatap lekat Arafah yang masih setia pada posisinya


Senyumannya kali ini berbeda, tak ada lagi kehangatan yang didapati Arafah di sana “Kalau yang seiman aja belum tentu dapat akhir bahagia, begitu juga dengan kita. Perbedaan keyakinan belum tentu dapat akhir yang buruk”


Lelaki itu menarik nafas dalam “Semua ini hanya tentang bagaimana cara lo berfikir. Bukan tentang lo yang selalu mutar kepala untuk berfikir bagaimana cara orang menilai hubungan yang kita jalani”


Alvin kini menyadari siapa dalang dibalik Arafah yang kembali mengungkit masalah ini, Tante Tara dan Ana. Saudara Mamanya yang memang sangat ceplas-ceplos


Kembali Alvin mengusap wajahnya gusar, memunggungi Arafah dengan perasaan yang mulai kacau. Kembali memberi Arafah waktu untuk memikirkan maksud dari semua ucapannya


Ia mengeluarkan handphone dari saku jeansnya, menekan kontak seseorang kemudian menempelkannya ditelinga


“Perempatan perumahan. Bawa mobil. Sekarang” ucap Alvin dengan penekanan yang sangat jelas disetiap katanya


Membuat Arafah tak berani lagi untuk memandang punggung sosok itu. Ia sangat jarang melihat Alvin yang berbeda seperti ini.


Kelembutan yang selalu diterimanya membuat Arafah tak terbiasa dalam kondisi seperti ini


Alvin masih betah dengan posisinya, berdiri membelakangi Arafah. Tak ada dari keduanya yang membuka suara untuk memecah keheningan mencekam di antara mereka


Ketika sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan Alvin. Ia menyempatkan diri untuk menatap Arafah sekali lagi


“Gue juga bisa lelah Fa, lelah buat selalu yakinin lo tentang kisah kita” ucap Alvin terdengar dingin dan datar “Ngeliat lo yang kaya gini buat gue bingung. Gue seakan-akan lagi berjuang sendiri dan lo tinggal nunggu di puncak”


“Gimana kita bisa terus sama-sama, kalau lo sendiri gak yakin sama apa yang sedang kita jalani”


Arafah kaku ditempatnya, dada gadis berumur 20 tahun itu semakin sesak. Ia menatap sendu netra kelam Alvin

__ADS_1


“Maaf Arafah Eliza, gue udah capek”


__ADS_2