
Hilir mudik manusia dengan setelan mewah terlihat memenuhi taman belakang rumah Alvin. Tamu yang didominasi oleh manusia berusia senja namun terlihat awet dalam kerutan yang tampak samar
“Ehh future menantu Mama udah datang” heboh Gisel yang mengingatkan Arafah pada Alvin “Sini sayang”
Ia tersenyum hangat, mendekati Gisel kemudian memeluk wanita itu “Mama cantik banget” puji Arafah tulus saat tautan keduanya terlepas
“Iya dong kalau Mama gak cantik, dimana lagi Alvin mau pungut muka kaya gitu”
“Alvin lagi yang kena” kesal Alvin yang sedari tadi berdiri di samping Arafah
Sebuah paper bag ia serahkan pada Gisel “Arafah punya hadiah buat Mama” langsung disambut dengan wajah antusias Gisel
“Makasih sayang. Mama taro dulu yah”
Anggukan dari Arafah membuat Gisel berlalu dari hadapannya. Matanya menangkap Tiara dan Gita yang sedang bersama Adit, mereka berdua diperkenalkan oleh Adit setelah menyerahkan kado dadakan yang dipesannya melalui kurir
Gisel muncul “Arafah, ayo ikut. Mau Mama kenalin ketante-tantenya Alvin” katanya kemudian menggandeng tangan Arafah
Merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya, Gisel berbalik. Menatap nyalang pada Alvin “Kamu di sini aja, gak usah ngekor-ngekor sama Arafah. Ngerusak pemandangan tau”
Dari tempatnya berdiri, Alvin dibuat tercengang seraya menatap punggung kedua wanita yang ia cintai. Kemudian seulas senyum tipis terlihat dari bibirnya
Ia sangat bersyukur, Mama menerima Arafah dengan penuh hati bahkan ketika mengetahui bahwa mereka berbeda. Perbedaan yang terlalu senjang untuk dimusnahkan namun Mama tak masalah dengan hal itu. Alvin paham apa yang berada dalam pikiran Mamanya
Langkahnya berjalan mendekati Adit dan juga kedua sahabat Arafah. Ketiganya memandang aneh pada Alvin
“Tumben gak nempel sama bini lo?” heran Alvin “Lo udah cerai?”
Pukulan keras ia daratkan pada lengan Alvin “Mulut lo. Ya kali cerai, nikah aja belum” kesalnya kemudian ikut duduk di samping Adit
“Arafah lagi sama Mama gue” jelas Alvin saat mendapati pandangan meminta penjelasan dari Tiara juga Gita
Di tempat yang tidak terlalu jauh dari Alvin, Arafah berdiri kikuk di sisi Gisel. Merasa sangat risih dengan pandangan menilai kedua wanita di depannya
Ia mengamati penampilan Arafah dari ujung kaki hingga kepala “Siapa Gi?” tanya wanita berambut sebahu yang terdengar tidak ramah
__ADS_1
Tangan Gisel membawa Arafah sedikit lebih maju “Arafah Eliza. Kalo kata Alvin sih, cewek ini kesayangannya dia” jelas Gisel yang tersenyum lebar
Jika saja pada siituasi normal Arafah akan tersenyum malu-malu, namun berbeda kali ini. Tatapan-tatapan yang ia terima seakan menelanjanginya
Wanita barambut panjang itu menatap tidak percaya Arafah “Dia?”
Gisel mengangguk mantap, melirik Arafah “Kenalin nak. Ini tante Ana” ia menujuk wanita berambut panjang kemudia beralih pada sosok di sampingnya “Kalau yang ini tante Tara. Mereka kakaknya Mama”
Arafah berusaha menampilkan senyumnya. Mengulurkan tangan secara bargantian pada kedua wanita yang disebut sebagai Kakak dari Gisel, berniat untuk salam. Namun hatinya langsung mencolos seketika, tak ada satupun yang menyambut uluran tangannya
Marah,kesal dan juga malu bercampur dalam hati Arafah. Ingin rasanya ia cepat-cepat berlalu dari hadapan kedua wanita itu
Gisel yang melihat bahwa kakak-kakanya tak memberi sambutan hangat pada Arafah, langsung menggenggam erat tangan gadis itu. Membawanya sedikit ke belakang
“Kamu yakin restuin dia sama Alvin?”
Wanita berumur 40an itu tersenyum khas keibuan, masih menggenggam erat tangan Arafah “Mba tau Alvin kan? Kalau Arafah adalah gadis yang bisa buat anakku bahagia, apa ada alasan untuk gak restuin dia sama Alvin?”
Arafah menatap dalam manik kelam Gisel dari samping, merasakan kehangatan yang luar biasa atas perlakuan dan ucapan membelanya
Satu suara yang berasal dari sekretaris Gisel memecah keheningan mencekam di sana. Membuat Gisel menoleh kemudian mengangguk
“Aku temuin tamuku yang lain dulu mbak” katanya kemudian melirik Arafah “Ayo sayang”
“Boleh kita bicara sebentar sama calon menantumu?” suara wanita yang Arafah ketahui bernama Tara, terdengar mengalun
Langkah keduanya berhenti, menatap pada sosok itu yang tersenyum manis namun tersirat suatu makna yang mendalam di sana
“Gimana nak?” Pandangan Gisel jatuh pada Arafah, menatap gadis itu dengan pandangan meminta persetujuan
Astaga. Tidak mungkin kan dia berteriak dengan lantang mengatakan bahwa ia sedari tadi sudah tercekik ketika masuk dalam zona tidak aman ini
“Iya Ma. Arafah di sini aja”
Dan hanya kalimat singkat itulah yang dapat terucap. Membuat Gisel berlalu yang diikuti oleh sekretarisnya dari belakang
__ADS_1
“Sini duduk” ucap Ana dengan gaya anggunnya “Kita gak bakalan makan kamu?”
Arafah berusaha terseyum “Iya Tan” duduk dihadapan kedua wanita tersebut dalam kecanggungan yang sangat terlihat
Dagu Tara jatuh menumpu pada telapak tangannya sebagai topangan, masih menelisik Arafah “Kamu tahu kan kalau hubungan berbeda keyakinan itu adalah LDR yang paling berat untuk dijalani?”
Mendengar kalimat itu, Arafah nampak mengingat hubungan yang sudah hampir dua tahun ia jalani. Tak sadar, ia tersenyum miris. Merasa bahwa apa yang diucapkan Tara memang benar adanya
“Kalian mungkin selalu berdampingan. Tapi apa pernah kamu mikir apa ujung dari semua ini?”
Mata Arafah menatap lurus pada Ana yang ikut berbicara. Perkataan yang mulai meruntuhkan benteng pertahanannya selama bersama Alvin. Mati-matian ia dan Alvin berjuang untuk mendapatkan akhir yang bahagia namun kenapa ketika mendengar kalimat itu dari orang lain, kepercayaan diri Arafah langsung hilang?
Bagai sajak yang mulai kehilangan aksaranya, bagai fatamorgana yang telah terlihat fananya. Arafah mulai kehilangan pasrahnya pada sang takdir
Ia bungkam di hadapan kedua wanita itu, menunduk dalam diam. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya, rasa sesak yang membisu
“Maaf, saya sebagai keluarga Alvin bisa sayang sama kamu. Dilihat dari pembawaanmu yang anggun dan tingkahmu yang sopan” tutur Ana yang berhasil mencuri pandangan Arafah “Tapi bukan sebagai bagian dari keluarga kami, bukan ketika kamu menyandang nama Bagaskara di belakang namamu. Tapi sebagai kenangan yang telah habis masanya untuk Alvin”
Ingin rasanya Arafah segera beranjak dari tempat ini, menumpahkan segala beban dan penat yang telah susah payah ia tampung seapik mungkin. Namun ucapan Tara ikut menimpali
“Saya menyarankan kamu agar sebaiknya mundur saja dari kisah asmaranya Alvin. Tidak ada yang bisa kamu harap dari hubungan semacam ini. Apa kamu mau pindah agama untuk Alvin? Tidak mungkin kan, begitu juga dengan Alvin, ia tidak mungkin meninggalkan Mamanya hanya untuk gadis seperti kamu”
“Jangan banyak berharap. Hubungan beda agama tak akan berakhir seperti bayangan-bayangan indah mu selama ini”
Tak bisa lagi Arafah menahan semuanya. Ia berdiri, membungkukkan badan dengan sopan “Maaf Tante, saya pamit dulu”
Sekuat tenaga, gadis itu berlari menjauh dari sana. Beberapa kali menabrak orang-orang sebab ia yang menunduk. Menyembunyikan tangis dan sesak tak terkira di sana
Ia menunduk, menjatuhkan badan di luar rumah Alvin. Duduk di atas trotoar dengan muka yang ditenggelamkan dikedua lutut.
Menumpahkan segala tangis yang sedari tadi ia tahan, dadanya terasa sangat sesak
Apa harus seberat ini mencintai orang yang berbeda keyakinan? Apa harus menahan sesak sedalam ini untuk mempertahankan hubungan yang akhirnya masih abu-abu?
Apa ia pergi saja dari kisah Alvin?
__ADS_1