Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
BAB 28 (PMS)


__ADS_3

Gadis berhijab itu fokus menatap layar di depan, tangannya dengan cepat menuliskan beberapa hal penting pada binder panjang


Sesekali ia mengangguk mengiyakan kala si dosen menanyakan perihal paham atau tidaknya. Ia hanya ingin kelas kali ini cepat selesai tanpa ada pertanyaan lanjutan yang membuatnya terperangkap semakin lama di dalam ruangan ini


Tidak, bukannya Arafah tidak menyukai mata kuliah hari ini. Ia sangat menyukai kelas hari ini sebenarnya namun sayang, perutnya sedang tak bisa diajak kompromi


Sakit sekali hingga rasanya ia ingin berguling saja di atas lantai. Ringisan pelan keluar dari bibirnya, membuat Aletha memandanginya


“Arafah. Lo gak papa?”


Jika saja yang bertanya saat ini adalah Tiara atau Gita, sudah dipastikan bahwa ia akan menjawab dengan ketus “Lo gak liat gue udah sakarat kaya gini?”. Namun karena Aletha yang notabenenya baru ia kenal beberapa hari ini, Arafah hanya mengacungkan jempol


“Aman”


“Pak, saya mau nanya” seorang lelaki yang duduk di samping Aletha mengacungkan tangan


Aletha dengan gesit menopang dagunya dengan tangan kiri, tatapan tajamnya secara teran-terangan ia berikan pada lelaki itu


“Lo nanya. Selesai kelas jangan harap lo masih bisa nafas di sini” ancamnya dengan suara lembut namun menusuk


“Ya silahkan”


Bukannya mengeluarkan suara, lelaki berkacamata itu malah dibuat kicep oleh Tiara. Tangannya mengendur dan turun


“Gak jadi Pak, saya lupa mau tanya apa”


Dosen di depan menatapnya jengah dan malas “Ya sudah. Saya akhiri kelas hari ini. Assalamualaikum dan selamat siang”


“Waalaikumussalam, siang Pak”


Arafah mengucap terima kasih pada Aletha sebelum perempuan berambut pirang itu berlalu keluar dari kelas dengan seorang lelaki yang sudah menunggu


Satu persatu teman kelas Arafah mulai keluar. Meninggalkan Arafah yang masih juga diam di tempat seraya melingkarkan tangannya diperut

__ADS_1


“Ya Allah, sakit banget jadi perempuan. Awas aja kalau nanti ada orang yang bilang kalau cowok itu lebih kuat dari cewek, bakal gue gelindingin di tengah lapangan. Belum tau aja mereka gimana sakitnya nyeri haid” gumam Arafah dalam hati


Di dalam kelas tinggal dirinya dan seorang perempuan yang fokus pada laptopnya tanpa mempedulikan sekitar


Tanpa melepas tangannya dari perut, Arafah merebahkan kepalanya di atas meja dengan beralaskan binder tebal yang sungguh tidak nyaman. Tapi setidaknya bisa membuat gadis itu merasa sedikit lega


Langkah kaki seseorang terdengar masuk ke dalam kelas. Dalam hati Arafah berharap, bahwa Alvinlah pemilik dari derap langkah itu


Fikiran itu segera ia tepis sejauh mungkin karena tak ada suara yang kembali terdengar. Arafah mencoba terlelap, berharap dengan begitu maka nyeri perutnya akan segera berkurang


Namun kembali sudah kesadaran Arafah saat ada dua tangan yang mengangkat pelan kepalanya dari meja. Refleks, Arafah segera menjauhkan badannya


Si pelaku duduk manis di kursi depan Arafah yang ia balik menghadap ke arahnya. Lelaki yang tentunya adalah Alvin segera mengambil binder itu dan diletakkan dikusen jendela


Mengganti binder itu dengan telapak tangan kanannya yang lebar. Arafah menatap Alvin heran dengan bibir pucat


“Sini, baring ditangan gue. Dijamin empuk dan nyaman, sampai lo gak bakal bisa berpaling”


Arafah tersenyum simpul kemudian menggelengkan kepala “Gak usah Kak”


Arafah hanya menurut, sedang tak mempunyai tenaga untuk sekedar membantah lelaki tampan itu


Telapak tangan Alvin tak menyentuh pipi Arafah, ia berusaha membuat gadis itu tak merasa risih. Jadilah hanya dinginnya kain jilbab yang terasa di sana


Alvin menatap tak tega pada Arafah “Sakit banget yah?”


“Iya, banget” ucap Arafah pelan “Makanya, Kak Alvin gak boleh nyakitin aku. Soalnya udah ada yang setia sama posisi itu setiap bulannya”


Tangan Alvin yang bebas ia gunakan untuk membelai lembut kepala Arafah “Gak bakal. Semalam udah rancang tugas buat gue selama kita sama-sama. Mau tau gak tugas gue apa?”


“Udah kaya organisasi aja, pakai tugas-tugasan segala. Emang tugas Kak Alvin apa? Aku mau tau”


Senyuman Alvin mengembang sempurna “Tugas gue itu yah buat bahagiain anaknya Pa Handoko ini lah. Emang apa lagi?”

__ADS_1


Arafah mencubit gemas tangan Alvin yang menyapu kepalanya “Pinter banget sih gombalnya, belajar di mana?”


“Tidur gih. Mumpung tangan gue masih kuat nopang kepala lo”


Baru saja Arafah ingin menjauh dari telapak tangan Alvin yang ia jadikan sebagai bantal, tangan kiri Alvin lebih dulu menahannya agar tak bangkit


“Aku berat Kak Alvin. Ini kepala loh bukan kelereng”


“Siapa yang bilang berat? Ringin gini kok kaya batu bata” kata Alvin tanpa mengubah posisi tangannya


“Batu bata mah berat Kak Alvin comel”


Alvin menggerutu pelan “Udah, gak usah ngebanyol. Tidur aja susah amat sih”


Setelah mengatakan itu, tak ada lagi kalimat yang keluar baik dari mulut Alvin maupun Arafah. Helaan nafas gadis itu mulai teratur menandakan bahwa ia secara perlahan sudah terlelap


Dengan gerakan pelan dan penuh kehati-hatian, tangan kiri Alvin mencoba mengambil handphone dari saku bajunya. Berusaha mati-matian agar tangan yang dijadikan Arafah sebagai bantalan tak bergerak sedikitpun


Walau agak kesulitan, ia mengetikkan pesan kepada Adit dengan menggunakan tangan kiri. Telefon genggamnya ia letakkan di samping kepala Arafah dan mulai mengetik


“Dit. Tolongin gue dong, beliin Arafah obat nyeri haid dulu sana. Gue gak tau dia biasa minum yang mana, beliin aja semua jenis. Entar uang lo gue ganti”


Tringg


Suara notifikasi handphone yang cukup keras, membuat Alvin menolehkan kepala. Berusaha mencari sumber suara


Bola matanya terputar kesal saat melihat Adit berasama Tiara dan juga Gita sedang mengintip dari luar. Ketiga orang itu menampilkan cengiran lebar yang membuat Alvin ingin langsung membuka sepatunya dan melempar ke arah sana


Ketiga orang itu masuk ke dalam, menatap Alvin dengan pandangan meminta penjelasan. Melihat Tiara yang bersiap membuka mulut, membuat Alvin dengan sigap memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibir


Tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus perutnya sendiri dengan bibir yang bergerak tanpa suara seperti mengatakan “Perutnya sakit, nyeri haid”


Tiara mengangguk paham kemudian ikut-ikutan menggerakkan mulutnya, juga tanpa suara “Gue pesenin obatnya Arafah dulu, entar diantar sama abang-abang grab”

__ADS_1


Alvin menganggukkan kepala, kemudian kembali fokus pada Arafah. membiarkan tatapan-tatapan penuh tanda tanya terus saja dilempar mereka


Ada rasa tidak nyaman melihat gadisnya kesakitan, ia tak pernah merasakan perasaan aneh ini. Fikirannya langsung berkelana, andai saja sakit yang Arafah rasakan bisa dibagi, ia mau menjadi penerima pertama


__ADS_2