Kisah Kasih Senja

Kisah Kasih Senja
Bab 18 (Emosi Jiwa)


__ADS_3

“Ara besok kuliah jam berapa sayang?” tanya Papa yang masih setia mengelus pelan surai hitam Arafah


“Entar, Ara ingat dulu” gadis yang mendapat panggilan khusus Ara dari Papanya nampak berfikir, terlihat dari bola mata hitamnya yang mengadah ke atas


“Besok minggu papaku sayang, kujual perkilo” katanya setelah mendapat yang ia fikirkan tadi dengan wajah menyebalkan


Papa mengangguuk-angguk pelan “Ara mau temenin Papa nonton? Kaya kerjaan kita dulu waktu malam minggu” lelaki dengan jenggot tipis didagunya tersenyum hangat khas seorang Ayah


Mendengar tawaran Papa, Arafah mengangguk semangat”Papa jangan kemana-mana, stay tune di sini. Ara ganti baju dulu, biar tambah comel”


Papa hanya tersenyum melihat keceriaan Arafah yang telah masuk ke dalam kamar. Melihat permata satu-satunya hidup dengan bahagia, membuat hati beku yang setia memendam kekecewaan pada takdir perlahan mencair


Lelaki berkepala empat itu, mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Ia membuka, memperhatikan ada tiga foto perempuan dengan ukuran kecil yang diselipkan di dalam. Sesak kembali menyerang, dieelusnya pelan kedua dari tiga foto itu


“Tenang di sana yah sayang. Kamu boleh ganggu fikiran aku tapi tolong jangan ganggu Arafah. Dia masih terlalu kecil untuk diselimuti rasa sakit sebesar ini”


Tanpa bisa ia kontrol, tetes demi tetes air mata menjatuhi pipi putihnya. Merasakan sesak yang mendalam hingga meremas kuat dada kirinya. Walau Handoko memang laki-laki, tapi bila sudah menyangkut keluarga, dia akan menjadi orang yang berbeda dalam sesaat


“Papa”


Panggilan yang berasal dari mulut kamar Arafah, membuat Papa dengan kasar segera menghapus jejak air mata dipipi. Tak ingin membuat gadis satu-satunya merasakan sesak yang sama


“Wahh cantik banget kesayangan Papa, kaya bidadari calon penghuni surga” Papa memuji dengan senyum hangat setelah yakin bahwa tak ada lagi bekas air mata yang nampak

__ADS_1


Namun, tak ada respon yang diperlihatkan oleh Arafah. Ia tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Bohong, Arafah tau bahwa Papa sedang bohong. Senyuman yang ia lihat saat ini hanya lengkungan yang berusaha meluruskan banyak hal


Tak ada kehangatan seperti yang Arafah lihat sebelum memasuki kamar. Hanya hampa yang bisa ditangkap dalam pola berbentuk lengkung itu


Walau senyum Papa bisa berbohong, namun tidak dengan mata. Arafah menatap dalam mata hijau Papa yang persis seperti miliknya. Sunyi, hampa dan kosong


TESS


Arafah berjalan cepat ke arah Papa dengan tetesan bening yang mulai jatuh dari matanya. Papa tentu saja terkejut melihat gadisnya yang menangis, ia segera berdiri


Kembali Arafah memeluk Papa untuk kedua kalinya hari ini, namun dengan perasaan yang berbeda. Ia menenggelamkan wajah bulatnya di dada bidang Papa untuk meredam tangis. Tangan mungil miliknya melingkari perut Papa


“Ara kenapa sayang?” tanya Papa yang kembali mengelus puncak kepala Arafah


Arafah yang tengah sesunggukan menarik nafas kencang “Arafah masih hidup Pah, papa gak sendiri. Papa yang lima tahun lalu bilang ke Ara kalo kita pasti bisa laluin ini sama-sama”


Tangan Papa secara refleks bergerak menyentuh wajah Arafah untuk menghapus air matanya “Maafin Papa sayang, kamu terlalu kecil untuk rasa apa yang Papa rasa”


Dengan pelan, ia menepis tangan Papa. Tangisannya kembali meledak “Makanya Pah, sekarang Ara udah gede. Papa bisa bagi sedih,sakit dan sesak yang papa rasa ke Ara. Biar gak terlalu berat kalau kita pikul sama-sama” tuntut Arafah dengan wajah memohon


Papa menarik Ara ke dalam pelukannya, tak kuasa melihat wajah cantik anaknya yang memerah. Ia meletakkan dagu dipuncak kepala Ara “Nggak. Cukup Papa yang rasain ini semua, kamu gak boleh. Ara harus bisa balik dari masa lalu”


“Bukan cuma Ara, tapi Papa juga. Kita harus sama-sama balik dari masa kelam itu Pa” tutur Arafah dengan nafas tersenggal-senggal

__ADS_1


Tak ada sahutan dari bibir Papa, hanya helaan nafas yang dapat ditangkap oleh pendengarannya. Arafah kembali angkat bicara


“Papa bisa cerita apapun yang dipendam sama hati batu Papa. Arafah bisa jadi pendengar yang baik buat Papa, dengan begitu setidaknya sedikit sakit yang Papa rasa bisa terbagi ke Ara” ucapnya dengan pelan yang masih berada dalam pelukan


“Tidak Ara. Papa tidak mungkin setega itu untuk bagi kesakitan. Papa bukan tipe orang tua yang sebejat itu” kata Papa dengan sangat tegas


Mendengar penuturan Papa, Arafah melepaskan diri “Ok fine kalo papa gak mau bagi sakit itu ke Ara. Papa tinggal punya satu pilihan, lupain semua rasa yang mengganggu hati Papa dan fokus ke Agama, Ara dan Bisnis”


Sedikit kejam mungkin menurut sebagian orang, tapi hanya itu yang bisa Arafah ucapkan untuk Papa yang selama ini selalu sok kuat. Harapan terbesar Arafah dari Papa cuma satu, melupakan semua kesakitan dan berpaling menatap masa depan. Just it, tapi kenapa terlalu berat?


Kedua insan manusia itu saling menatap dalam keheningan sebagai penyair. Papa menatap sendu Arafah, tak bisa lagi ia menahan gejolak air mata yang siap menetes. Dibiarkannya tetesan itu mengalir dengan sendirinya. Seperti biasa, ia kalah jika sudah menyangkut keluarga


Arafah memohon dengan wajah memerah “Pliss Pah, demi Arafah” katanya seraya menggenggam yakin kedua telapak tangan Papa


Dan detik itu juga, Papa mengangguk dengan senyum yang kembali pada fungsi aslinya “Kita lupain sama-sama yah sayang. Ara harus bantu papa, biar papa bisa fokus sama ketiga hal yang Ara minta”


Dengan tersenyum lebar dan air mata yang masih membekas, gadis berhijab itu memeluk erat Papa “Pasti Pa, kita bisa laluin ini sama-sama. Arafah janji”


Kedua makhluk tuhan itu, melampiaskan emosi bersama. Menumpahkan tangis untuk meredam kesakitan berlebih


Saat ini, Handoko telah berjanji. Bahwa Agama dan Arafah adalah hal yang akan menjadi prioritas hidupnya. Kelam segera hilang, dan indah surya ia yakini akan segera menjemput


Tanpa disadari oleh Handoko dan Arafah. Dua gadis sedari tadi senantiasa mendengar ungkapan emosi itu dari dalam kamar

__ADS_1


Tiara dan Gita mati-matian menahan isakan yang akan keluar dari mulut. Tak membayangkan bahwa sebesar itu dampak dari kehilangan orang yang disayangi


__ADS_2