
Hati merah itu kembali merekah. Menaburkan berbagai kisah kasih yang terlalu indah untuk sekedar dipercaya
Hari ini gadis bernama Arafah tak pernah melepaskan senyum menawan yang selalu berhasil memikat hati Alvino. Lengkung yang selalu berhasil meluruskan banyak hal diantara keduanya
“Seneng amat neng?” tegur Alvin saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil dengan Adit sebagai supir
Arafah melirik ke arah Alvin, tanpa melepas senyumnya “Ya seneng lah. Kak Alvin kan udah mau mulai belajar”
Senyuman Alvin turut mengembang melihat antusiasme Arafah yang sangat besar sejak semalam. Saat diminta untuk menemani Alvin ke salah satu yayasan yang mewadahi para calon muallaf untuk mulai mempelajari Islam
Mobil Alvin mulai membelah padatnya jalan yang cukup ramai diminggu pagi yang cukup terik saat ini. Diiringi dengan celetukan asal yang tak pernah berhenti dari mulut lambeh Adit, suasana di dalam mobil cukup menyenangkan bagi Arafah
Sampai kendaraan beroda empat itu tiba di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar. kedatangan mereka disambut hangat oleh seorang lelaki berumur 40an yang mengenakan baju kokoh dan peci putih pada kepalanya
“Pagi nak Alvin. Saya orang yang sudah dihubungi Bu Gisel untuk membantumu menjadi seorang muallaf, panggil saja Ustad Rizki” sapanya ramah saat Alvin baru saja turun
Alvin mengulas senyum hangat “Saya mohon dibantu yah Ustad. Supaya bisa jadi imam yang baik buat tuh cewek” kata Alvin seraya menunjuk Arafah menggunakan ekor mata
Mendengar perkataan Alvin, membuat Arafah menundukkan kepala malu. Berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai kemerahan
Ustad Rizki mengangguk mengiyakan “Ayo masuk, di luar panas”
Alvin dan Adit mulai mengikuti kemana langkah Ustad Rizki membawa mereka. Sampai Alvin sadar bahwa ada sesuatu yang terlupakan
Ia berbalik, mencari keberadaan seseorang “Kok gak ikut masuk Fa?” tanya Alvin lembut ketika mendapati Arafah yang malah duduk di kursi teras
Jika ada yang bertanya, apa yang membuat Arafah terlalu jatuh cinta pada Alvin? Ia akan menjawab dengan lantang jika suara Alvin saat bicara lembut dengannya adalah hal terbesar yang menjadi kesayangannya
Arafah menggeleng pelan “Aku tunggu di sini aja. Kak Adit yang temenin masuk yah?”
“Bayar dong. Semenit 100 ribu, dua menit 3 juta” ceplos Adit asal
Arafah melirik sinis pada Alvin “Dihh. Kak Adit cowok bayaran kah?”
__ADS_1
SKAKMATT
Baru saja tangan Adit terulur untuk menggeplak mulut asal Arafah. Ia segera dihadiahi tatapan maut menusuk dari Alvin yang seakan mengatakan
“Lo sentuh, baku hantam kita”
Alvin melirik sekilas pada Arafah “Ya udah, aku masuk yah. Duduk diam aja di sini, jangan kemana-mana. Entar ada yang kantongin” katanya kemudian berlalu
Arafah tertawa melihat tingkah Alvin. Ia duduk diam menatap hamparan rumput hijau dan pohon mangga lebat yang terlihat sangat menenangkan
Bukannya ia tak mau menemani Alvin sampai sesi belajarnya berakhir. Ia paham, Alvin butuh waktu dan ruang tanpa dirinya di dalam sana. Agar tak merasakan canggung yang bisa saja melanda tiba-tiba
Ia rasa, Adit cukup sebagai pendamping Alvin di dalam sana. Membiarkan detik demi detik terus berjalan seraya menikmatai hamparan hijau yang cukup mengagumkan
Dalam kesendiriannya ia tak pernah berhenti tersenyum. Merasakan hangat yang luar biasa di dalam hati yang semakin merekah
Saat menoleh ke samping kiri, didapatinya sebuah mushalla sederhana yang seakan memanggil raga Arafah untuk mendatanginya
Ia melirik pintu, belum ada tanda-tanda jika Alvin akan segera keluar dalam waktu dekat. Kakinya mulai melangkah mendekati mushalla itu
Allahu Akbar
Raga dan jiwanya menyatu dalam satu fokus untuk menghadap dan bersujud kepada sang Ilahi. Membuang segala fikiran tentang keduniaan yang penuh akan fana juga fatamorgana
Cukup lama Arafah pada posisisnya dalam sujud terakhir. Sebelum ia bangkit dan salam. Menatap lurus pada tabir di depan
Diangkatnya tangan untuk berdoa, menutup mata sejenak
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Ampuni semua dosa maupun kesalahan Bunda dan Lala selama hidupnya, lapangkan kubur kedua orang yang kusayangi, jauhkan mereka dari segala siksa kubur-Mu Ya Allah. Sayangilah mereka Ya Tuhanku” air matanya mengalir mulus sejalan dengan doa yang keluar dari mulutnya
Walau dada Arafah terasa makin sesak, ia melanjutkan permohonannya pada Tuhan Yang Maha Esa
Ditariknya nafas panjang “Ya Allah, berikanlah selalu kelapangan dada pada Papa. Beri dia ketenangan hati seutuhnya, beritau padanya bahwa masih ada seseorang yang masih bisa dipeluknya. Dia tidak sendiri” ucap Arafah sesenggukan
__ADS_1
“Satu lagi doa hambamu yang lemah ini Ya Allah” Arafah menunduk “Engkau yang maha membolak-balikkan hati, tolong buat Alvin agar tetap berpegang pada janjinya. Hamba ingin egois sekali ini saja Ya Allah, Alvin harus menapati janjinya untuk menjadi muallaf” ia terisak dalam doanya
“Hambamu ini telah benar-benar jatuh pada Alvin, atas alasan apapun dia tak akan pernah hambamu lepas. Aku mau Alvin yang akan jadi imamku sampai ajal menjemput. Maafkan keegoisan hamba mu ini Ya Allah”
Setelah beroda, Arafah semakin terisak. Ia jatuh bersujud masih dengan dada sesak entah untuk alasan apa. Dalam sujud itu ia menangis, isakan yang terdengar sarat akan pilu
Ia masih bertahan dalam posisin seperti itu, membiarkan wajah cantiknya yang sudah memerah bahkan membuat bulu mata lentiknya menjadi basah
Terlalu larut dalam emosi sendiri sampai tak menyadari jika Alvin mengamatinya dari luar sedari tadi dengan perasaan yang mulai kacau
Walau dengan wajah datar, ia berhasil menyembunyikan semua rasa yang ia pendam agar tak dapat dibaca oleh siapapun
Lelaki tinggi itu masuk ke dalam mobil, duduk dalam diam di samping Adit yang sangat mengetahui kondisinya saat ini
Cukup lama setelahnya, Arafah bangkit duduk. Mengatur nafas yang tadinya tak teratur. Mengeluarkan handphone dari dalam tas
Mengamati wajahnya dari kamera handphone “Astaghfirullah, anak siapa ini?” ia terlonjak kaget melihat penampilan wajahnya yang sangat berubah
Segera ia menghapus jejak air mata untuk memperbaik tatanan make-up tipisnya. Melirik ke pintu utama gedung, tak ada tanda-tanda jika Alvin dan Adit sudah keluar
Setelah memakai kembali hijabnya, ia memasang sneakers putihnya kemudian berniat untuk kembali duduk pada kursi teras
TINN
Suara klakson dari mobil Alvin yang masih terparkir rapi. Membuat ia melirik ke asal suara. Dengan senyuman yang mengembang sempurna, ia masuk ke dalam mobil
“Gimana Kak Alvin?” tanya Arafah
Adit mulai memutar kendali mobil meninggalkan yayasan tersebut. Tak seperti Adit yang biasanya, ia diam membisu melupakan semua bacotan tak berfaedah yang sering ia lontarkan
“Gak gimana-gimana” Alvin menjawab acuh
Menyadari ada yang berubah dari Alvin, ia memajukan sedikit badannya. Memunculkan kepala diantara keduanya
__ADS_1
“Astaghfirullah Arafah, gue kaget bangke”
umpatan pelan terdengar dari mulut Adit yang langsung dihadiahi tatapan maut dari Alvin