
Badan segarnya yang sudah berbalut kaos polos dan celana tidur beruang, ia hempaskan di atas kasur ketika keluar dari kamar mandi
Kamar Arafah kosong, bisa dipastikan jika kedua makhluk lainnya sedang berada di ruang tengah. Memperebutkan toples berisi cemilan dan juga remot tv, terbukti dari suara Tiara dan Gita yang sangat menggelegar seperti sedang melabrak pelakor gang sebelah
Mata gadis itu lurus memandang langit-langit kamar yang jika lampu dimatikan maka akan nampak semacam langit gelap yang dihiasi banyak bintang-bintang serta bulan yang sangat cantik. Ide dari dirinya sendiri
Arafah bangkit namun bukan untuk keluar kamar, ia menekan saklar lampu untuk menikmati langit kamarnya. Kembali Arafah pada posisi semulanya, walau tak terlalu mengagumi benda-benda langit tersebut ia akan betah berlama lama untuk memandanginya
Berkhayal jika orang-orang yang disayanginya merupakan bintang indah di atas sana. Mengamatinya selalu, walau dari kejauhan
Karena terlalu sulit untuk menikmati langit penuh bintang secara langsung, sebab langit yang lebih sering tertutupi oleh kejamnya polusi kota
“Bunda, Lala. Arafaf kangen, boleh?” gumamnya pelan
Memori masa lalu kembali mengitari benaknya, memainkan peran untuk mengembalikan rasa bernama rindu. Suatu rasa yang tak bisa dicegah kehadirannya, namun masih dapat dikontrol sakitnya
Tapi kali ini ia membiarkan rasa itu menguasainya, memporak-porandakan pertahanan yang sebenarnya tak sekuat itu
Setetes cairan bening mengalir jatuh dipipi, sudah lama ia tak menangis. Kelemahannya tak ingin ia bagi, apalagi untuk Papa. tahu betul dia kalau Papalah yang paling susah untuk berpaling dari masa kelam yang pernah mereka lalui
Tak ingin menambah beban Papa yang perlahan sudah ia lupakan, Arafah memilih menjadi lemah jika seorang diri
“RAFAH. GUE MAU KURIR MAKANAN, LO MAU GAK?” teriakan cempreng yang berasal dari Tiara
Arafah yang sedang tidak merasa mood untuk berteriak, memilih untuk cuci muka menghapus jejak rindu dan segera menuju ke ruang tengah
Tiara dengan gaya bossynya sedang selonjoran di atas sofa, berbeda juga Gita yang memilih duduk bersandar di atas karpet
__ADS_1
Remot tv sudah dikuasai Tiara yang memeluknya sangat erat, dan toples cemilan yang dipangku Gita. Pembagian yang bagus
“Mau gofood gue. Lo mau sekalian? Biar bisa bagi ongkosnya. Hehe” tawar Tiara yang melirik sejenak Arafah
Terdengar helaan nafas kesal dari Gita, ia mendelik sinis pada Tiara yang masih setia cengengesan seraya menonton tayangan tv
“Dah hampir berbusa mulut gue hanya untuk ingatin makhluk kaya lo Ra. Rafah pasti udah habis dikasih makan sama Kak Alvin”
“Gak bisa percaya gue sama orang kaya lo. Beneran Fa lo udah dikasih makan sama Kak Alvin?”
Mata Arafah menatap jengah kedua sahabatnya “Diajak makan woi, bukan dikasih makan. Bahasa lo pada buat gue kaya anak kucing terlantar tau”
“Yahh, sayang banget duit gue kalo cuma mesen sendiri” ujar Tiara memandang tipis orang yang duduk bersandar pada sofanya
“Mana si Gita gak mau buntung lagi, tapi kalo makanan gue datang pasti di embat juga. Dasar makhluk kontrakan gak tau diri”
“Iya dong. Gita gitu loh”
“Ya udah pesan gih, apa aja. Gue juga lagi pengen ngemil, gue traktir malam ini. Baru dikirimin duit sama Papa tersayang” Arafah berujar seraya berjalan untuk mengambil air minum dikulkas
Setelah meletakkan handphonenya di atas meja, ia membiarkan Gita dan Tiara berdebat tentang menu yang akan dipesan
Namun saat bokong Arafah baru saja rapat dikursi dapur, suara cempreng milik Tiara dan Gita sudah tak terdengar lagi
Arafah kembali ke ruang tengah, mendapati pandangan Tiara dan Gita yang seakan sedang menggodanya dengan senyum jahil
“Napa lo pada? Kesurupan massal hah?”
__ADS_1
Remot dari tangan Tiara kini sudah berpindah kepemilikan pada Arafah. Ia mengganti drama korea yang sedang tayang dan beralih menuju youtube. Mengetik dikolom pencarian, Ardhito Pramono. Lantas menonton apapun yang terdapat lelaki berkacamata itu di dalamnya
Sementara Arafah yang fokus menonton tv, Gita dan Tiara masih juga mempertahankan posisinya. Hingga membuat Arafah kesal sendiri
”Lo pada kenapa sih? Kaya orang setengah waras tau” tanya Arafah memandangi bergantian kedua orang aneh itu
Gita dan Tiara kompak tidak mengeluarkan suara. Hanya mata yang mereka arahkan pada benda persegi di atas meja dengan senyum menggoda
Tak ingin melihat lebih lama lagi aksi aneh Gita serta Tiara, Arafah memilih untuk mengambil handphonenya
Mata gadis itu melotot sempurna. Dilayar home, terdapat beberapa pesan dari lelaki yang tak lain adalah Alvin. Namun tak lama setelah itu, keterkejutannya berganti menjadi senyum malu-malu anak perawan
Tiara memicing jahil “Aciahhhhh, saya mencium aroma-aroma bahwa anda sudah menjalin sesuatu dengan Bapak Alvin yang tidak terhormat”
“Iya. Jalin tali silaturahmi, tapi dihati. Hehe”
Gita dan Tiara dibuat cengo kaya orang **** saat mendengar pengakuan Arafah. Pipi putih perempuan itu kini bersemu merah
Tanpa melepas senyum malu-malunya, Arafah beranjak dan segera menuju kamar “Kalau abang gofoodnya udah nyampe, teriak aja kaya hobi lu Ra. Entar dompet gue bakal landing di depan kalian”
Arafah membaringkan tubuhnya seraya kesemsem-kesemsem sendiri. Membuka aplikasi whatsaap dan mendapati pesan singkat dari Alvin
Gadis itu sudah menunjukkan gejala-gejala orang jatuh cinta. Berguling-guling tidak jelas, menggigit pinggiran bantal gemes, menendang-nendang selimut hingga jatuh lantas kembali tersenyum lebar
Oh astaga, Arafah tertawa renyah. Baru kali ini ia dibuat layaknya orang gila hanya gara-gara sebuah pesan singkat yang dikirim malam-malam oleh Alvin
Ini bukan kali pertamanya ia jatuh cinta. Saat SMA, dua sampai tiga kali ia pernah merasakannya. Namun tak semembahagiakan ini, semuanya terasa lebih sempurna. Karena Alvin
__ADS_1
*From : Alvin
Sumpah, gue gak pernah sealay ini. Tapi gak peduli kalo alaynya sama lo. Cuma mau bilang, good night Rafah. Mimpi yang indah walau realita gak seindah itu. Dan maaf, gue udah benar-benar jatuh hati sama lo. Jangan lupa kalo ada orang di sini yang udah sayang banget sama lo*